Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Ayah dan Anak


Bab 130. Ayah dan Anak


Amplop persegi panjang yang diberikan Erlangga berisi Voucher paket bulan madu tanpa batas waktu masa berlaku. Voucher honeymoon lengkap dengan layanan kelas satu super privat di sebuah vila mewah eksklusif yang berlokasi di Uluwatu Bali.


“Hei, anak ini. Kukira dia masih adik kecilku. Ternyata sudah dewasa dan memahami kebutuhan krusial Kakaknya.” Yudhis tertawa kecil dan bergumam senang. Tak menyangka sang adik menyambut kedatangannya juga tak terlihat mengobarkan permusuhan meski masih terlihat canggung.


Sedikit demi sedikit, bongkahan es di antara mereka yang sempat membeku dan membatu perlahan mencair. Walaupun Yudhis juga belum tahu pasti penyebab Erlangga melunak padanya, yang jelas, Yudhis merasa lebih lega sekarang.


Tak sabaran, Yudhis mengayunkan kaki naik ke lantai dua, mencari-cari Khalisa ingin menunjukkan hadiah dari Erlangga.


Kamar yang digunakan sebagai kamar tidur Afkar selama di rumah ini adalah tujuannya sekarang. Tanpa mengetuk, Yudhis langsung mendorong pintu. Dia yang semula melangkah lebar, memelankan ayunan kaki, berjingkat masuk perlahan-lahan guna meredam suara telapak kakinya yang beradu dengan lantai.


Di dalam sana, Khalisa rupanya ikut tertidur. Meringkuk memejam sembari memeluk si buah hati, berdesakan di kasur single bed yang menjadi tempat tidur Afkar.


“Kamu pasti kangen banget sama Afkar, dan Afkar juga pasti sangat merindukan kamu. Sampai-sampai kalian ketiduran berpelukan begini.”


Duduk di tepiannya, Yudhis mengamati Khalisa dan Afkar dalam tatap berlumur sayang. Membelai rambut dan mengecup pipi gembul si bocah lucu juga wanita tercintanya tanpa menimbulkan kegaduhan. Semula dia hendak membangunkan Khalisa untuk berpindah tidur ke kamarnya. Akan tetapi, melihat pemandangan manis nan syahdu ini Yudhis merasa tak tega, tak sampai hati memisahkan dua sosok yang sedang saling melepas rindu berat.


“Tidurlah, sayang-sayangku,” bisik Yudhis penuh sayang juga pemakluman, setelah menyelimuti Khalisa dan Afkar serta mematikan lampu kamar.


Pagi-pagi sekali rumah Maharani dipenuhi riuh hangat penuh canda. Khalisa yang tak terbiasa dilayani sibuk membantu menyiapkan sarapan, begitu pula Maharani ikut berkutat di dapur bersama beberapa ART.


“Mi, mau bikin sarapan nasi uduk bukan?” tanya Khalisa, setelah memperhatikan dengan saksama bahan-bahan masakan yang sudah disiapkan.


“Iya betul. Papi lagi kepingin makan nasi uduk putih khas Sunda menggunakan resep yang kamu bagi pada Mami sewaktu di Bandung. Katanya rasanya lebih lezat dari yang dijual di Bali. Kebetulan kamu lagi ada di sini, jadi ada juri andal yang bisa menilai rasa nasi uduk yang Mami buat, biar bisa seenak buatan kamu,” jelas Maharani dengan nada ceria, kentara amat gembira dengan kehadiran Khalisa, tak segan memuji masakan menantunya membuat Khalisa senang bukan kepalang.


“Kalian harus banyak bertanya pada Khalisa soal cara masak memasak. Selain cantik, menantu Ibu ini jago masak,” ujar Maharani menyombong pada para asisten rumah tangganya, membuat Khalisa tersipu malu sembari mengusap lengan dipuji demikian.


Sarapan diperkirakan siap dua puluh menitan lagi. Khalisa meninggalkan dapur untuk mencari Yudhis dan Afkar. Khalisa mendapati dua laki-laki tersayangnya sedang asyik berenang sembari bercanda tawa. Celoteh cadel dan tawa renyah Afkar menggema terdengar hingga ke ruang makan, karena letak kolam renang memang tak jauh dari sana, hanya tersekat kaca tinggi tembus pandang.


Berdiri di sisi kolam, Khalisa mengamati interaksi hangat Afkar dan Yudhis. Perhatian manis juga perlakuan selayaknya seorang ayah pada anaknya yang dulu pernah sangat dinantikannya, justru didapatkan si bocah dari sosok Yudhis, bukan dari ayah kandungnya.


Sudut mata Khalisa berair diserbu haru menyaksikan pemandangan manis dan hangat. Ucapan syukur bertasbih lantang dalam kalbu, membanjiri setiap aliran darah. Cepat-cepat Khalisa menyusut ujung mata sendunya, menarik kedua ujung birai bibirnya melukis bulan sabit dan memanggil keduanya untuk naik.


“Afkar Sayang, Papa Sayang. Ayo naik. Kita siap-siap sarapan.”


Bersambung.