Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Meja Makan


Bab 84. Meja Makan


Kepanikan mereka reda setelah Khalisa menjelaskan dengan polosnya bahwa ia menangis bukan lantaran tersinggung, melainkan merasa haru karena ini merupakan kali pertamanya diperlakukan demikian, membuat hatinya tersentuh.


Yang paling panik di sini adalah Yudhis. Dia refleks menghampiri Khalisa, turut meminta maaf. Tanpa sadar menangkan dan membujuk begitu manis, membuat seringai jahil di wajah Barata kian lebar saja mendapati anaknya bucin pada seorang wanita, memberi kode tersirat pada Maharani melalui kerling mata.


“Ayo sekarang, kita makan sama-sama. Cacing di perut Papi sudah hampir berunjuk rasa,” ucap Barata sembari membalikkan piring yang menelungkup di atas meja.


Khalisa meraup Afkar setelah menaruh wadah berisi buah-buahan di meja makan saat melihat Bi Dijah berpamitan ke taman belakang setelah selesai menyiapkan semua keperluan makan malam. Khalisa pun berniat undur diri dari sana, tak ingin mengganggu acara makan malam keluarga Yudhis juga merasa amat sungkan. Kendati sejujurnya perutnya didera lapar sekarang, bermaksud mengganjal lapar dengan biskuit kepunyaan Afkar yang ada di kamar, dan akan mengisi perut lanjutan nanti saja setelah Yudhis sekeluarga selesai bersantap.


“Lho, mau ke mana?” tanya Maharani saat melihat Khalisa hendak beranjak.


“Afkar sudah selesai makannya, Nyonya. Saya mau kembali ke kamar, mau kasih Afkar minum obat,” sahut Khalisa beralasan. “Selamat menikmati hidangannya.”


“Tunggu, kamu sendiri sudah makan?” cecar Maharani, tidak serta merta memperbolehkan Khalisa berlalu.


“Kebetulan saya belum lapar, Nyonya. Silakan dimakan, semoga suka dengan rasa hidangannya,” ujarnya demi menutupi rasa laparnya karena malu.


Namun sayang, lambungnya yang meminta diisi malah gagal diajak kompromi, gemuruh dari perut Khalisa berbunyi nyaring, membuat si empunya menggerutu kesal dalam hati dan pipinya langsung bersemburat merah.


“Kamu mungkin bilang tidak lapar, tapi perutmu bersuara jujur. Ayo duduk di sini, kita makan sama-sama.” Barata menunjuk kursi makan yang berada di antara tempat duduk Maharani dan Yudhistira di meja makan besar berbentuk bulat itu.


“Ta-tapi, saya.” Khalisa terlihat amat sungkan, lalu Yudhis bangun dan menarik pelan pergelangan tangannya, mendudukkannya di kursi yang tadi ditunjuk Barata.


“Duduklah, bersantap ramai-ramai bersama lebih nikmat ketimbang makan sendiri. Iya kan, Mi, Pi?” Yudhis berujar dan Maharani mengangguk setuju.


Khalisa akhirnya duduk patuh, menyangkal pun tiada guna, perutnya sudah berkhianat terang-terangan.


“Mami setuju, ayo kita makan, mumpung menunya masih hangat. Kita berdo’a dulu sebelum makan. Biar Papi yang pimpin do’a.”


“Sini, Afkar duduk di sini saja, Biar kamu bisa makan leluasa dan Afkar bisa menikmati makanan lainnya juga.” Yudhis mengambil Afkar dari pangkuan Khalisa dan mendudukkannya di kursi yang tadi, di antara dirinya dengan Barata.


“Siap, Den,” sahutnya yang bersegera mengambilkan puding di kulkas.


“Bang. Biar aku makan sambil gendong Afkar saja, sudah biasa kok.” Khalisa masih merasa asing dengan perlakuan hangat penuh kepedulian semacam ini, tak terbiasa.


“Sudah, kamu duduk si situ. Biar Afkar duduk di sini ya dekat Papi dan Yudhis, mau kan anak pintar?” Barata memiringkan kepala, mengajak si bocah lucu bercakap-cakap sembari menyunggingkan senyum manis.


Bocah itu mengangguk-angguk, raut wajahnya riang, jelas suka, sama sekali tidak terpaksa.


“Iya, mau. Af mau duduk cini, cama Om Papa, telus cama_” Afkar mengamati Barata lekat-lekat, bingung harus memanggil bapak-bapak yang sedari tadi menyapanya bersahabat ini dengan sebutan apa.


“Bi Dije, kalau orang Bandung, biasanya manggil kakek dengan sebutan apa?” Barata mendadak meminta pendapat Bi Dijah yang masih berada di sekitaran ruang makan, sedang mengambilkan sendok puding untuk Afkar.


“Kebanyakan orang Sunda di Bandung sini manggilnya Aki atau Abah, kenapa, Tuan?”


“Abah terdengar lebih menarik daripada Opa,” tukas Barata. “Nah, Afkar panggil Abah, ya. Coba sekarang panggil, A-bah.” Barata bersemangat mengajari Afkar melafalkan kata abah. Berinteraksi akrab membuat balita itu antusias.


“Iya, Abah. Mau duduk cama Om Papa cama Abah,” ujar si bocah itu yang mengundang riuh tepuk tangan dari tiga orang di meja makan, sementara Khalisa meringis takut, takut anaknya bersikap tidak sopan.


Semua orang makan dengan lahap. Begitu pula Khalisa yang sempat mengatakan tidak lapar. Yudhis bahkan mengisikan piring Khalisa dengan lauk-pauk, mengatakan Khalisa harus banyak makan dengan penuh perhatian. Membuat Barata terus memberi kode tersirat pada Maharani, cengar-cengir yang disambut pelototan istrinya.


Makan bersama kali ini terasa amat nikmat bagi Khalisa. Padahal, dulu juga Khalisa sering makan bersama-sama dengan keluarga mantan suaminya. Namun, tak pernah selezat ini rasanya di lidah, karena dulu hanya protes tentang masakannya yang kurang ini itu menurut Wulan yang terlontar di meja makan, bukan interaksi hangat maupun apresiasi penghargaan atas masakannya seperti sekarang.


"Mmm, baru kali ini aku makan sambal hijau seenak ini," kata Yudhis jujur begitu selesai makan dan membasuh mulut dengan segelas air. Khalisa yang mendengarnya terlihat senang menu buatannya disukai.


Bi Dijah yang mengisi ulang air ke dalam gelas Yudhis tak tahan untuk menimpali.


"Itu namanya sambal Cibiuk, Den. Buatan Neng Khalisa juga. Kata orang tua dulu-dulu, kalau perempuan bikin sambalnya enak, biasanya itu ciri-ciri istri idaman. Bikin suami betah di kamar," celetuk Bi Dijah, membuat Khalisa merasakan wajahnya memanas karena malu juga paham akan perkataan Bi Dijah, sedangkan Yudhis hanya mengernyit tak mengerti.


Bersambung.