
Bab 137. Menuju Garis Finish
Yudhis dan Khalisa kembali ke Bandung lebih cepat dua hari. Seharusnya mereka masih berlibur di pulau dewata sekitar tiga harian lagi, tetapi jadwal persidangan yang mendadak diubah membuat keduanya gegas terbang kembali ke kota kembang, kendati sebelum Khalisa kembali masih belum rela berpisah lagi dengan Afkar.
Tak ingat akan rasa lelah. Dari bandara, keduanya langsung bertolak menuju kantor Raksa Gantari. Menemui Erika dan Raja berdiskusi tentang perubahan jadwal persidangan.
“Pak Yudhis, Bu Khalisa. Maaf, jadi mengganggu waktu liburan kalian berdua.” Erika langsung menyambut dan membuka kata begitu Yudhis juga Khalisa tiba di kantor sore ini.
“Enggak masalah, Mbak Erika. Hal ini tak kalah penting,” tukas Khalisa cepat.
Mereka bertiga bergegas menuju sebuah ruangan yang bersebelahan dengan ruang pribadi Yudhis. Sudah ada Raja yang sedang memeriksa setumpuk map berkas menunggu di dalam sana.
“Jadi, jadwal persidangan mendadak diubah dan dipangkas? Apakah ini kabar baik atau justru kabar buruk buat kita?” Yudhis langsung bertanya inti pokok bahasan begitu pinggulnya mendarat di sofa, disusul Khalisa yang duduk di sebelahnya.
“Tentu saja kabar baik, Pak. Kami dihubungi pihak resmi terkait kemarin sore. Jadwal sidang tiba-tiba berubah, Dari rencana tersisa dua persidangan menjadi tinggal satu kali lagi yang dijadwalkan akan berlangsung dua hari mendatang, berarti ini tinggal finalnya saja. Dari informasi yang kami dapat, hal ini terjadi sebab pengadilan telah mengendus indikasi aksi suap yang dilakukan pihak lawan, terdeteksi ketidak jujuran dalam praktiknya. Juga tercium manipulasi bukti-bukti fisik yang dilakukan tim Pak Dion terkait kasus perebutan hak asuh Afkar. Yang tentu saja pihak lawan berbuat demikian bertujuan demi memenangkan perkara menggunakan berbagai cara tak peduli meski melanggar. Semoga amunisi akal bulus mereka kini sudah benar-benar habis,” tutur Raja penuh semangat.
Raja menjelaskan panjang lebar, antusias mengingat hal ini merupakan angin segar, sudah mulai terlihat garis finishnya dari kasus perebutan hak asuh Afkar yang juga ikut ditanganinya.
Erika mengulas senyum dan mengangguk. “Tinggal selangkah lagi, dan aku cukup percaya diri bahwa kita akan menang. Tapi walaupun begitu, tetap saja kita jangan lengah ataupun menurunkan kewaspadaan. Hal tak terduga bisa saja terjadi di persidangan terakhir. Belum pasti hasilnya akan seperti apa, walaupun secara penelaahan sekilas sudah pasti kita yang akan menang.”
“Apakah ini berkas-berkas persidangan terakhir yang kuminta lewat telepon sebelum aku terbang dari Bali?” Yudhis menunjuk tumpukan lembaran kertas yang memenuhi meja juga beberapa flashdisk yang tergeletak di sana.
“Iya, Pak. Semuanya sudah terkumpul di sini, termasuk dokumen keterangan dari rumah sakit, tentang rekam medis Afkar ketika harus dirawat inap sewaktu Anda dan Bu Khalisa berhasil membawanya keluar dari rumah Pak Dion. Sedang saya periksa ulang khawatir ada yang terlewat,” jawab Raja cepat, menggeser berkas ke hadapan Yudhis.
Yudhis ikut memeriksa semua berkas secara terperinci dan memang benar peluang menang Khalisa semakin terbuka lebar sekarang. Belum lagi ditunjang kesediaan Ceu Wati bersaksi sebagai seseorang yang mengasuh Afkar selama dipisahkan secara paksa dari Khalisa, tentang bagaimana buruknya keluarga Dion memperlakukan si bocah tak berdosa yang disaksikan langsung mata dan kepala Ceu Wati, menjadi poin penting yang akan semakin memberatkan hak asuh jatuh pada Khalisa.
“Lebih dipersingkat lebih baik. Dan aku sangat yakin, Khalisa lah yang akan memenangkan hak asuh Afkar dilihat dari aspek manapun yang tentu lebih unggul. Kesimpulanku merujuk pada bukti-bukti juga lampiran penunjang yang kita miliki. Kamu juga harus mempersiapkan diri, Khal. Perjuangan kita tinggal selangkah lagi dan semoga berbuah hasil seperti yang kita harapkan selama ini. Semoga di sidang terakhir, mantan suamimu sudah kehabisan trik tipu muslihat supaya prosesnya lancar dan cepat. Tapi kalaupun dia melempar umpan intimidasi yang dengan sengaja memancing emosimu di pengadilan nanti, kamu jangan gentar. Angkat dagumu, tegakkan kepalamu dan lawanlah dengan penuh percaya diri. Yakinlah yang benar dan jujur akan lebih unggul. Sudah siap?” Yudhis menggenggam tangan Khalisa yang duduk di sebelahnya, meremasnya lembut, memberi kekuatan.
Air muka Khalisa dipenuhi tekad dan ia mengangguk mantap. “Ya, aku lebih dari siap, Bang.”
Bersambung.