Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Terkuak


Bab 148. Terkuak


“Manda, apa kamu akan terus mempertahankan Dion? Sampai kapan? Mami sudah hampir habis kesabaran!” tegas Kinara ibunya Amanda yang baru saja mendarat di Bandung setelah beberapa waktu berada di luar pulau. Langsung ke rumah sakit mendengar kabar cucunya sakit keras.


Dia menyeret Amanda keluar dari selasar rumah sakit dekat ruang ICU di mana Dion dan Amanda sedang duduk berdampingan. Membawa Amanda ke taman rumah sakit.


“A-apa maksud Mami?” tukas Amanda judes, malah balik bertanya, berlagak pilon.


“Manda, please. Mami selalu menuruti apapun keinginanmu sejak kecil karena ingin kamu selalu bahagia. Tapi sekarang ini sudah kelewat batas. Jangan berpura-pura bodoh! Mami tahu semuanya sekarang. Dion menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya terutama yang berhubungan dengan pengadilan, bahkan Mami mendapat laporan bahwa Dion main gila dengan sekretarisnya. Mami tidak langsung bertindak karena kamu terus menghalang-halangi dan menutup-nutupi! Kenapa kamu masih ingin bersama laki-laki seperti dia? Buang saja laki-laki semacam itu dan tunjuk pria pengganti lain yang kamu inginkan!” Kinara berang, meski begitu tetap mencoba mengontrol emosi. Sangat paham akan watak keras anak satu-satunya itu.


“Kalau Mami masih sayang aku, jangan pernah sentuh Mas Dion! Kalau Mami berbuat demikian aku akan bunuh diri. Walaupun dia begitu, aku cuma mau Mas Dion yang tampan yang jadi pendampingku. Bukankah Mami juga memelihara berondong di luar pulau? Memberinya apartemen juga kedudukan di salah satu koperasi kita di sana? Mami pikir aku enggak tahu? Aku enggak bodoh!” balasnya telak. Saling menelanjangi borok masing-masing.


“Manda!” sergah Kinara yang kini mengepalkan tangan lantaran yang dikatakan Amanda benar adanya. Memelihara pria muda untuk mengisi kesepiannya.


“Mas Dion hanya bersenang-senang sedikit di luar, bukankah itu biasa dan Mami pun enggak jauh beda? Yang penting bukan untuk serius, hanya main-main saja. Lagi pula si sekertaris murahan miskin itu enggak akan bisa merebut Mas Dion dariku, dia hanya wanita bodoh yang mau saja digarap tanpa status kejelasan. Mas Dion tidak akan punya nyali mengambil keputusan menduakan statusku. Setiap hari dia pulang menyembah kakiku. Dia itu takut kehilangan aku, patuh padaku saat bersamaku walaupun aku tahu dia memanfaatkanku demi uang. Tapi setidaknya dia jadi pion manis untuk dipamerkan pada orang-orang serta patuh memuaskanku di atas ranjang, dan aku enggak mau pria lain!” bantah Amanda tak mau mendengarkan.


Amanda memang sudah tahu boroknya Dion, tetapi cinta buta akan rupa dan sikap Dion yang mudah diperbudak olehnya di bawah kuasanya meski nakal di luar membuatnya tidak berkeinginan melepaskan Dion, laksana mainan kesayangan.


Rasa sayang Kinara pada Amanda membuatnya tak segan menabrak rambu dan norma. Sehingga anaknya tumbuh menjadi pribadi keras kepala serta tak mengenal kata tidak. Tak menerima usulan maupun penolakan. Ingin selalu dituruti dan jika ditentang tak segan berorasi anarkis. Memang benar kata pepatah, terlalu memanjakan anak, adalah senjata paling ampuh untuk menghancurkan anakmu sendiri.


“Tapi uang kita itu bukan daun kering. Bukan untuk dihamburkan seenaknya! Mami membangun perusahaan bukan sehari dua hari. Bisa-bisa bangkrut kalau Dion terus dibiarkan! Jangan samakan dengan berondong Mami, dia tidak diberi kuasa penuh mengelola uang!”


“Aku akan mengurusnya. Aku sudah menyingkirkan adik dan ibunya yang benalu itu karena aku hanya butuh Mas Dion saja. Tentang keuangan perusahaan aku yang akan mengelola lagi mulai sekarang. Tentang wanita murahan itu tanpa kusingkirkan sendiri pun sudah dicampakkan Mas Dion. Tapi Mami jangan berani membuat keputusan tanpa persetujuanku. Mami harus ingat, kita juga menyimpan kebusukan dari Mas Dion tentang kenyataan siapa ayah kandung Riri!”


*****


Kondisi Riri semakin drop, para perawat dan dokter yang berjaga berhamburan ke ICU.


Dion panik juga pusing tujuh keliling. Isi kepalanya bercabang ke mana-mana. Meratapi kekalahannya di pengadilan. Memikirkan kondisi Riri yang bagaimanapun juga adalah anaknya meski separuh rasa pedulinya sebab menganggap Riri tambang emas, juga pada keberlangsungan misi orang-orang suruhannya yang diperintahkannya membuat Gladys keguguran.


“Anda ayahnya bayi Riri?” tanya si dokter cepat. napasnya ngos-ngosan.


“Iya, Dok. Saya ayahnya.”


“Begini, Pak. Kondisi Riri semakin menurun. Riri membutuhkan transfusi darah. Sakitnya kali ini selain karena hepatitis akut yang memang diidap Riri sejak lahir, kali ini Riri juga terdeteksi mengidap Talasemia. Saya sudah tahu Golongan darah Bu Amanda karena sejak dulu selalu berobat ke sini. Dan golongan darahnya tidak sama dengan Riri, hanya Anda satu-satunya harapan.”


“Ambil saja darah saya,” jawab Dion cepat kendati pikirannya carut marut.


“Baik, akan segera kami siapkan prosedur pemeriksaan sebelum donor dilakukan.”


“Dok, apakah talasemianya disebabkan karena Riri terlahir kurang bulan alias prematur?” Dion bertanya lagi, penasaran dengan kondisi bayi perempuannya yang terus saja sakit-sakitan.


“Prematur?” dokter agak kebingungan. Setahunya Riri lahir cukup bulan, di usia kandungan sembilan bulan sepuluh hari. “Maaf, Pak. Tapi Riri terlahir ***_”


Seorang perawat menghambur mendekat, memotong kalimat di dokter yang sudah di ujung lidah.


“Dok, kita harus cepat. Kantong darah untuk bayi Riri sedang tidak ada stok di bank darah. Dan yang sedang ditransfusikan tinggal separuhnya lagi. Kita butuh cadangan golongan darah B secepatnya.


Kening Dion berkerut. Mencoba mencerna informasi yang didengarnya. Membasahi bibirnya beberapa kali sembari mengusap tengkuknya sendiri.


“Tunggu, apa tadi golongan darah Riri?” ujarnya.


“B, Pak,” sahut si dokter cepat.


“Tapi, golongan darah saya A?” tukas Dion yang mengerjap linglung, begitu pula dengan perawat dan dokter yang kini saling berpandangan bingung.


Bersambung.