Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tasbih Kalbu


Bab 51. Tasbih Kalbu


“Raja, kondisikan tatapanmu. Matamu sudah kayak mau loncat keluar tahu!”


Erika berbisik menekankan kata-kata pada juniornya, menyikut pinggang Raja yang memindai setajam silet pada punggung Yudhistira yang baru saja memasuki ruangannya. Dengan bias penuh curiga imbas dari kejadian yang dilihatnya tadi malam, dibumbui pesan ambigu kiriman atasannya itu sesaat setelah terburu-buru meninggalkan kafe, semakin membuatnya penasaran tak tertahankan.


“Mungkinkah Pak Yudhis yang sering galak sama cewek itu sudah_” cicitnya memutus kalimat, membekap mulut kuat-kuat. Pasalnya apa yang semalam dilihat Raja sama sekali bukan kebiasaan Yudhis.


Raja tak beranjak dari tempatnya berdiri. Horor sendiri, bertanya-tanya sendiri, berprasangka sendiri. “Jangan-jangan Pak Yudhis sudah lepas segel dengan cara yang tidak seharusnya? Oh No!” pekik raja berisik, disambut sebuah map yang mendarat kencang di punggungnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Erika.


“Hush! Ni anak otaknya perlu disambit, biar enggak sambat! Kerjakan berkas yang semalam sana, jangan sibuk mikirin yang aneh-aneh!” titah Erika, mencerocos yang disambut Raja bersungut-sungut. Padahal benak Erika pun tak jauh beda, bertanya-tanya tentang hal serupa. Hanya saja tidak terlalu show off seperti si pemuda berambut ikal itu.


Yudhis menutup pintu rapat saat salah satu ponsel operasionalnya dihubungi seseorang. Menyeringai miring begitu melihat nomor yang tertera, panggilan yang memang sedang dinanti-nantikannya. Yang muncul adalah nomor si pria berbaju hitam di kafe semalam, otak cerdas Yuhdis menghafal dengan mudah deretan angkanya, lantaran dia semalam sempat mengirim bukti transaksi transfer senilai 220 juta pada nomor tersebut.


[“Apakah Anda masih bersama si berlian suci? Kalau lebih dari jam sepuluh pagi Anda masih memakainya, maka dikenakan biaya tambahan seperempat jumlah dari total nominal semalam.”]


“Kenapa malah bertanya pada saya? Seharusnya saya komplain pada kalian. Jasa pekerja kalian amat sangat tidak becus!” maki Yudhis tajam, mulai melancarkan rencana dalam upayanya membebaskan Khalisa dengan cepat dari belitan si mucikari, yang sudah pasti takkan sudi melepaskan dengan mudah tanpa sebab yang kuat.


[“Maksudnya bagaimana, pelanggan?”]


“Performa pekerjamu buruk, amatiran dan servisnya mengecewakan! Dia kabur entah jam berapa dari rumah saya dan mencuri dua jam tangan mewah saya, juga mengambil beberapa emas batangan milik saya! Saya ingin meminta ganti rugi atas pelayanan buruk juga ulah perampokan si berlian suci itu! Rekaman CCTV rumah sudah ada di tangan sebagai bukti! Atau jangan-jangan sebenarnya kalian bersekongkol menyembunyikannya dan berniat memerasku dengan meminta lagi seperempat jumlah padahal dia ada di situ! Di mana markas kalian? Aku akan melaporkan si berlian suci itu atas kasus perampokan dan kalian pasti akan ikut terseret karena bersekongkol dengannya!” serunya marah, menggertak begitu lancar, meyakinkan.


Si mucikari dan antek-anteknya pasti para pemain licik, maka dari itu Yudhis menggunakan taktik selangkah lebih awal di depan agar secepatnya Khalisa tak lagi terikat pada mereka, karena para bos pengecut tak bertanggungjawab manapun menghindari ikut terseret kesalahan pekerjanya. Memilih cuci tangan, tak ingin ikut terkena getah dan mau tak mau melepaskan pada akhirnya.


Debat kusir berlangsung beberapa saat, bukan Yudhistira Lazuardi namanya kalau tak pandai bersilat lidah untuk membungkam para kadal murahan. Dan seperti perkiraan Yudhis, ujung-ujungnya mereka tak mengakui Khalisa sebagai pekerja mereka, mengatakan bahwa Khalisa hanya terbelit utang pada mereka dan uang dua ratus juta semalam sudah dimasukkan sebagai penebusan utangnya.


Jadi, jika Yudhis ingin memperkarakan barang-barangnya yang hilang, mereka ngotot tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu. Menolak memberi ganti rugi, berdalih bahwa Khalisa sama sekali tidak terikat pekerjaan pada mereka. Beralasan semalam Khalisa diizinkan terjun langsung hanya demi membayar utang, itulah mengapa kemampuannya amatir, karena bukan bunga malam asuhan mereka.


“Kena kalian!”


Yudhis berdecak puas. Semua percakapan tadi sudah direkam, sebagai alat bukti andai suatu hari si mucikari bertemu Khalisa dan berniat membelitnya lagi, berkelit dengan pernyataannya. Di telepon tadi yang bersangkutan tidak mengakui Khalisa sebagai bagian dari mereka, tentu saja hal itu akan dijadikan senjata oleh Yudhis sebagai tameng Khalisa ke depannya.


*****


Aloisa terus mencerocos bawel. Sejak Yudhis berangkat, Khalisa yang diminta untuk beristirahat saja olehnya tidak mau mendengarkan. Malah ikut berbenah juga bersih-bersih menemani ART, hanya mengulas senyum saat Aloisa menyuruhnya untuk diam saja.


“Aku enggak memintanya mengerjakan apa pun, Bang. Tapi Khalisa ngotot ikut membantu membereskan ini itu. Aku merasa jadi tuan rumah yang menjahati tamunya,” gerutu Aloisa, begitu Yudhis datang siang harinya.


“Iyakah? Memangnya di mana Khalisa sekarang?” tanya Yudhis, celingukan mencari sosok yang namanya sering disebut lisannya akhir-akhir ini, juga mulai ikut ditasbihkan hati entah kapan dimulai.


“Bisa minta panggil Khalisa ke sini? Aku datang untuk menjemputnya pergi sesuai janjiku tadi pagi, mumpung masih siang, banyak hal yang harus kulakukan dengannya,” pinta Yudhis langsung saja, tak mau banyak berbasa-basi


“Hei, hei, kalian mau melakukan apa kisanak? Ada aroma-aroma aneh di sini?” Aloisa mengendus-endus udara, merengut curiga yang dibuat-buat, bukan bersungguh-sungguh. Tak kuasa ingin menjahili Yudhis yang mudah bersemburat sekarang, kemungkinan besar akan menjadi hobi barunya setelah ini.


“Dokter Loi, sebaiknya panggil sekarang!” geram Yudhis jengkel bercampur malu yang malah direspons cengiran oleh Aloisa.


“Cie cie, sabar dikit pak pengacara singel. Enggak sabaran amat. Tunggu di sini, jangan nyeruduk kayak banteng ya.”


Bersambung.


*****


Note


Assalamu'alaikum semua. Halo gimana kabarnya? Selagi menunggu novelku Suci Dalam Noda Update, kepoin karya temanku yuk, yang pastinya seru untuk diikuti. Wajib baca pokoknya.



Ini judulnya, bikin kepo kan. Cuss meluncur ke sana.


Satu lagi nih, ada cerita baru yang bikin kepo juga.



Ini Blurbnya.


Apa jadinya jika dua insan berbeda terlibat dalam satu perkara?


Akibat hasrat dan gairah terlarang Sang Pangeran, Jesslyn harus menanggung luka dan derita. Ia bukan hanya kehilangan kesuciannya sebagai seorang gadis, tapi sekarang ia juga hamil dan terancam dibuhuh oleh bangsa duyung.


Apa salahnya?


Kenapa setelah ia diselingkuhi mantan malah hamil anak pangeran?


Kan kan, dua judul di atas bikin penasaran pastinya, cap cus baca yuk.