Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Mau Unda


Bab 37. Mau Unda


Tak terasa satu bulan lebih berlalu. Yudhis menghabiskan sepuluh hari di Bali terkait urusan keluarganya dan langsung dihantam setumpuk pekerjaan bertubi-tubi begitu kembali ke Bandung. Padatnya agenda kerja membuatnya terlupa akan niatannya mengembalikan KTP Khalisa.


Baru sekarang ini dia bisa sedikit bersantai dan mengambil libur di penghujung minggu setelah beberapa akhir pekan pun tak henti bergelut dengan pekerjaan, selepas menyelesaikan kasus-kasus yang melibatkan pendampingan tim advokatnya, salah satunya kasus si wanita yang mengalami KDRT.


Seperti biasa, hal pertama yang dilakukan di waktu liburnya dimanfaatkan Yudhis untuk menambal jam tidurnya yang berantakan. Rehat dengan benar guna memberikan tubuhnya hak beristirahat. Subuh ini dia terbangun dengan rasa yang lebih segar berkat kualitas tidur yang mumpuni.


Sekitar pukul setengah enam pagi Yudhis sudah tampan, semerbak dan segar. Jambang yang mulai tumbuh memanjang pun sudah dicukur rapi, lalu memeriksa dirinya sekali lagi di depan cermin.


“Hmm, ternyata aku memang ganteng seperti kata Mami. Pantas saja Mami terus ingin bervideo call denganku,” ujarnya sendiri, nyengir geli merasa narsis, menampakkan lesung pipi tunggalnya yang mempermanis pahatan rupa tampannya.


Yudhis kemudian bersiap-siap dalam balutan trening dan hoodiee, hendak berjoging di sekitaran komplek rumahnya guna memelihara kebugaran sambil mencari sarapan pagi.


“Di mana sepatu olahraga yang kubeli bulan lalu?” Yudhis mengacak-acak lemari tempat menyimpan deretan sepatunya, mencari benda yang dimaksud. “Atau mungkin masih di bagasi mobil?”


Menuju garasi dengan kunci mobil di tangan, Yudhis membuka bagasi mobilnya yang memang sudah lama tak tersentuh akibat terlalu sibuknya dengan pekerjaan. Beberapa barang ikut berjatuhan begitu bagasi di buka, saking penuhnya barang-barang di sana.


“Nah, ini dia, ternyata benar masih di bagasi.”


Sebuah jinjingan berisi kotak sepatu berwarna merah diambilnya. Kepalang membuka bagasi, Yudhis menyempatkan mengangkut barang-barang yang penuh sesak di bagasi ke dalam rumah dan berencana akan membereskannya sepulang joging. Namun, saat hendak mengangkut kantung keresek besar berwarna kuning, Yudhis mengernyitkan dahi ketika memeriksa isinya.


“Mobil dan motor mainan?” gumamnya bingung untuk sejenak. “Ck, kenapa aku bisa sampai lupa,” decaknya kesal.


Teringat hal lainnya, dengan cepat dia beralih ke bagian depan mobil, membuka dashboard dan memeriksa isinya. Benar saja, kantung putih berisi obat dan vitamin beserta KTP Khalisa tak tersentuh di sana.


Niatan joging paginya diurungkan. Yudhis memilih mengemudikan mobilnya menuju alamat di mana dia pernah mengantarkan Khalisa dan Afkar, membelah jalanan di pagi hari yang masih lengang.


Sementara itu di rumah Amanda, riuh hangat dari ruang makan begitu kontras dengan Afkar yang murung menatap mangkuk. Afkar sedang menepuk-nepuk sendok pada mangkuk berisi sarapannya, tak kunjung menyuapkan makanannya. Si balita itu duduk sendiri di sebuah ruangan yang berdampingan dengan kolam renang, tertunduk diam tanpa celotehan.


Akhir-akhir ini bocah itu jarang menangis, hanya saja tak lagi ceria seperti dulu. Rengekan Afkar lumayan mereda setelah Ceu Wati menemukan sedikit pengobat rindu Afkar pada sang bunda, berupa selembar foto lama Khalisa yang diam-diam diambil Ceu Wati dari album yang tak sengaja ditemukannya, sewaktu mengantar Wulan kembali ke rumah asalnya untuk mengambil beberapa barang.


Dion yang melintas ke tempat Afkar berada, tergerak untuk menghampiri sang anak. Sejak Afkar lahir dan cemoohan terus membanjiri, Dion memang tak begitu peduli lagi pada anak dan istrinya. Tergerus provokasi Wulan juga sekitar. Sibuk menata egonya, terlupa akan kewajibannya yang seharusnya menjadi pelindung. Sebetulnya bukan sepenuhnya salah Dion, pola asuh Wulan lah yang sangat berpengaruh banyak dalam membentuk karakter anak-anaknya. Menjadikan pribadi Dion kurang sadar tanggung jawab, tidak berprinsip, cepat terpengaruh dan mudah terbawa angin, terlebih lagi Wulan menjadi angin kencangnya itu sendiri.


“Af, kenapa enggak dimakan?” tanyanya pada sang anak, interaksi mereka kaku, mengingat dia tak pernah membangun kedekatan dengan sang anak. Mata bulat Afkar menatap Dion lurus dengan raut tanpa senyuman, tidak kunjung menjawab.


“Kalau ditanya itu dijawab dong,” ujar Dion yang kini berjongkok. Mengusap rambut Afkar berusaha mencairkan kebekuan mereka, baru tersadar bahwa dia tak pernah bercakap-cakap hangat dengan sang anak sebab jarang berada di rumah atas dasar kesengajaan, membiarkan Khalisa mengurus Afkar seorang diri, sehingga Afkar menganggapnya asing sekarang meski berada di bawah satu atap dan lebih sering bertemu.


“Mau Unda!” seru Afkar marah. Menghindari telapak tangan Dion yang hendak mengusap kepalanya lagi.


Rahang Dion mengetat mendapat respons penolakan dari anaknya. Hal yang dulu diabaikannya mendadak mengundang rasa tak terima dengan reaksi demikian. Padahal, memang itulah yang ditanamnya, tetapi sekarang malah menampik buah yang harus dipetiknya. Andai Afkar sudah paham bahwa dirinya kini dijadikan Dion sebagai alat untuk menyakiti dan menyiksa batin bundanya tiada henti, mungkin Afkar akan murka pada sang ayah.


Seiring berlalunya waktu, perlahan lubuk hati Dion mulai mengakui meski masih samar-samar tertutup hingar bingar tahta dan harta yang berlimpah dari Amanda, dia berbuat demikian tega memisahkan Afkar dengan Khalisa merupakan bentuk dari rasa tak rela melepaskan wanita itu, terlebih mendapati Khalisa diantar pria lain membuatnya gelap mata dan malah berasumsi miring sendiri ditambah dikompori. Sejumput rasa tak rela yang sedang bertumbuh itu, merupakan cikal bakal dari sesal yang belum disadarinya.


“Sebenarnya Khalisa ini pergi ke mana? Sudah satu bulan lebih tak ada kabar. Angkuh sekali dia mau mencari uang lima ratus juta, kenapa tidak memilih tawaran yang mudah saja!” dengusnya kesal.


Mengusap wajahnya kasar, Dion beranjak dari sana berpapasan dengan Ceu Wati yang tergopoh menghampiri Afkar dengan gelas di tangan. Dion berderap menuju lantai dua dan menyambar ponselnya, menggulirkan jari mencari nomor Khalisa.


Bersambung.