Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Panggil Kakak


Bab 47. Panggil Kakak


Mengangguk, itulah reaksi Khalisa meski dengan gerakan pelan. Mencoba memilih meletakkan kepercayaan pada Yudhis dalam upayanya memeluk Afkarnya lagi.


“Coba kamu hubungi sekarang si adik dari mantan suamimu itu. Untuk mengkonfirmasi apakah kabar yang disampaikan mantan suamimu itu benar adanya atau cuma bualan.”


“Baiklah.”


Khalisa mencari dan menekan nomor Dania, tak lama akhirnya panggilannya tersambung.


[“Halo?”] Dania mengangkat telepon disertai bunyi menguap,


“Dania, apa Afkar dirawat rumah sakit?” tanya Khalisa langsung saja, tak ingin berbasa-basi, tak sabar ingin tahu kabar anaknya yang sebenarnya.


[“Huh? Rumah sakit? Afkar ya ada di kamar Ceu Wati lah. Lagian juga cuma sakit batuk pilek, enggak sampai harus dirawat, lebay amat. Yang bolak-balik ke rumah sakit itu si bayi prematur anaknya Kak Manda.”]


“Begitu rupanya.” Sedikit kelegaan tergambar di wajah Khalisa mendengar sakit Afkar masih terbilang ringan, kendati begitu rasa cemas juga rindunya pada si buah hati tetap menggunung tak tertahankan. Ingin sekali bertanya mau makan apa, ingin membelai penuh sayang tubuh mungil sang putra yang sakit, ingin memeluk memberikan kehangatan juga kasih sayang.


[“Ck, lagian ngapain sih, di waktu ngantuk banget gini tanya-tanya tentang tuh anak, Stevi? Elu lagi kelab? Mau ngajak keluar? Tapi gue ngantuk banget. Atau jangan-jangan elu lagi diajak check in sama si dospem baru?”] Pantas saja Dania menjawab lancar jaya tanpa nada ketus juga makian, rupa-rupanya ia mengira yang menelepon adalah temannya.


“Oh iya, kamu lagi di mana sekarang?” tanya Khalisa harap-harap cemas sebelum Dania sadar dirinya yang menghubungi, menggunakan kesempatan ini untuk bertanya tentang alamat baru Dion sekeluarga.


[“Ya di Lembang lah. Di rumah baru Abang gue, di mana lagi. Kalau malam kemarin gue memang ke puncak, temenin dospem lama nginep.”]


“Lembangnya sebelah mana?”


Kali ini pertanyaan Khalisa cukup lama mendapat respons. Terbentang hening beberapa saat.


[“Heh dasar j*lang! Berani-beraninya ganggu orang tidur!”]


Klik.


Sambungan dimatikan seketika, umpatan Dania sebelum panggilan terputus mengindikasikan bahwa dia sudah menyadari siapa yang menelepon.


Informasi yang didapat dari Dania bak secercah harapan ibarat riak lentera yang menerangi pencarian Khalisa dalam gulita. Walaupun bukan alamat lengkap, setidaknya sekarang Khalisa tahu ke daerah mana Dion pindah membawa Afkar, meski tahu Lembang juga luas dan pasti butuh waktu menyusuri sampai dapat.


“Bagaimana? perkiraanku benar?” Yudhis berkata tanpa mengalihkan mata dari wajah ayu Khalisa sedari tadi, mengamati perubahan air muka Khalisa yang semula panik menjadi lebih terkontrol.


“Ya, Anda benar,” sahut Khalisa sembari memaksakan segaris senyum di wajah sembapnya. “Afkar ada di rumah mereka, tapi memang sakit, batuk pilek. Semoga anakku kuat di sana, walaupun jujur aku tak sabar ingin memeluknya lagi.”


“Panggil Yudhis saja, mau Bang Yudhis atau Kak Yudhis terserah kamu lebih nyaman yang mana. Jangan terlalu kaku dan formal supaya komunikasi kita lancar. Atau panggil Mas juga boleh.” Yudhis melontarkan canda, disambut Khalisa dengan tawa tipis.


“Terdengar lebih baik dari kata ‘Anda',” ujar Yudhis terkekeh pelan.


“Tapi, tadi aku sempat bertanya alamat dan Dania mengatakan mereka pindah ke Lembang. Aku ingin mencari alamat mereka, setidaknya sekarang aku punya secercah harapan ke mana mereka membawa anakku. Aku ingin tahu di mana Afkar berada.”


“Aku akan bantu mencari. Aku juga akan menjadi pendamping hukummu untuk dapat memeluk anakmu lagi seutuhnya, Khalisa.”


“Pendamping hukum? Tapi … tapi aku enggak punya uang untuk membayar pengacara sepertimu, Kak.” Khalisa menelan ludah resah. Berbincang dengan Yudhis, pikiran semrawutnya terurai sedikit demi sedikit meski mereka mengobrol belum lama. Harus Khalisa akui, ia merasa aman berbicara dengan orang ini.


“Aku maklum, mengingat dari cerita perjalanan hidupmu mungkin, maaf, wawasanmu kurang. Tapi, ada lembaga-lembaga bantuan hukum yang mendedikasikan jasanya untuk membantu pendampingan hukum bagi yang sedang dirundung kesulitan yang berkaitan dengan hal-hal keadilan, seperti halnya kasus hak asuh anak yang sedang kamu perjuangkan, tanpa harus membayar jasa pengacara. Salah satunya LBH Raksa Gantari, lembaga hukum milikku. “


“Benarkah?” Khalisa tercengang, sampai usianya yang menginjak 22 tahun, dirinya tidak pernah mengetahui ada fasilitas semacam ini di muka bumi. “Andai aku tahu lebih awal,” cicitnya lesu sembari merutuk dalam hati, mengatai dirinya bodoh.


“Terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali,” balas Yudhis dengan nada penuh pemakluman, tidak menghakimi kurang wawasannya seorang Khalisa.


Penjelasan Yudhis bak angin segar yang berembus bagi Khalisa, bertiup lembut menyejukkan hatinya yang lara.


“Tapi, akibat kebodohanku, aku malah terlibat persoalan dengan si mucikari yang kudatangi, yang semula kukira solusi. Otak Kakak begitu cerdas, bisakah memberi masukan? Beri aku cara melepaskan diri dari jerat mereka dengan cepat. Mulai sekarang, aku ingin menempuh jalur yang benar untuk mendapatkan anakku kembali.” Khalisa dibuat bingung sekarang. Memanglah benar adanya, keputusan yang diambil di saat emosi memanas, sering kali bermuara pada sesal kemudian.


Yudhis tampak berpikir, lalu alisnya terangkat tinggi sebelah bersama senyum tampan terukir menggugah.


“Aku tahu caranya. Sebetulnya dengan menempuh proses hukum pun bisa, cuma pasti memakan waktu panjang. Bukan hanya tentang membebaskan kamu, tapi si mucikari pun bisa ikut diringkus. Sedangkan kita harus fokus dulu pada permasalahan hak asuhmu yang harus diprioritaskan. Tapi, aku punya cara lain yang kurasa efektif dan lebih cepat untuk sekarang. Besok kuberitahu. Sekarang sudah hampir dini hari, kita harus tidur. Mulai besok banyak hal yang mesti kita kerjakan, supaya urusan mengurus hak asuh anakmu tidak tertunda.”


“Ti-tidur?” Khalisa tergagap celingukan, bola matanya bergulir kebingungan saat mendengar kata tidur sembari mengeratkan bathrobe size besar yang tadi diberikan Yudhis untuk dipakainya sebelum mereka bertukar kata panjang lebar.


“Ya, tidur. Kenapa kamu malah tegang?” Yudhis mengerutkan kening melihat ekspresi aneh Khalisa.


“A-aku_” Ucapan Khalisa mengambang, mengusap tengkuk juga membasahi bibir pertanda ia kebingungan.


Si cerdas Yudhis yang mudah saja membaca air muka keresahan Khalisa tak bisa menahan tawanya. Dia memicing dan berkata, “Kamu pikir tidur denganku, begitu?”


“Y-ya, so-soalnya, itu, anu. Kakak sudah membayar 200 juta,” cicitnya sangat pelan seraya menelan ludah.


“Jangan dipikirkan lagi tentang itu. Uang yang dikeluarkan di jalan yang seharusnya salah satunya untuk menghentikan orang berbuat keliru, insyaallah berkah. Tidurlah di kamar depan untuk malam ini. Sekarang hubungan kita adalah klien dan kuasa hukum. Jadi kamu berada di bawah naunganku sebagai salah satu upaya perlindungan untuk klienku. Paham, Khalisa?”


Bersambung


.