
Bab 76. Strategi
Tangis haru Khalisa meledak tak terelakkan saat Afkar terbangun di pukul delapan pagi. Memanggilnya ‘Unda' sembari tersenyum ceria meski tubuhnya masih lemah. Bahkan balas mengecup saat Khalisa menciuminya penuh sayang tak henti-hentinya, mendekap tubuh mungil sang anak.
“Sayangnya Bunda. Coba panggil Bunda lagi, Bunda pengen dengar lagi.” Khalisa meminta di sela-sela isak harunya, dan sang anak patuh menurut.
“Unda, Af mau Unda,” celotehnya penuh rindu, ikut terisak-isak melihat bundanya menangis. “Af mau bobonya Unda, mau mamam Unda, mau pangku Unda, mau cama Unda aja.”
“Iya, Sayang. Bunda janji, Af bakal sama Bunda terus sampai nanti-nanti. Selalu sama Bunda.”
“Unda ininya bacah.” Afkar meraba pipi Khalisa, menyeka lelehan air mata yang arusnya menderas di sana. Padahal bocah itu pun sama-sama sedang menangis.
Yudhis memilih melangkah menuju arah keluar tanpa menimbulkan suara berisik. Menunggu di balik pintu yang sedikit terbuka celahnya, memberi ruang pada Khalisa yang sedang menuntaskan kerinduan pada anaknya, memberikan kesempatan leluasa pada Khalisa untuk menumpahkan dan memuaskan segala siksa rindu terpendam yang hampir tiga bulan ini terus menggerogoti kalbunya hingga berlubang di mana-mana.
Afkar masih belum makan dengan lahap, hanya susu saja yang lagi-lagi diminta. Afkar masih dalam masa observasi, karena terindikasi terkena radang tenggorokan serta ruam kulit yang termasuk tingkat akut.
Dokter menyatakan penyebab iritasi kulitnya bisa disebabkan dari cara memandikan yang kurang bersih, atau bisa dari efek jenis sabun yang tidak sesuai dengan kulit balita. Berat badan Afkar yang menurun dari angka yang Khalisa terangkan, juga perlu dipantau lebih lanjut, khawatir terjadi kemungkinan kekurangan gizi. Dokter mengharuskan Afkar dirawat selama beberapa hari ke depan, dan tetap melakukan kontrol rutin walaupun sudah diperbolehkan pulang nantinya.
Siang harinya, Erika kembali ke rumah sakit membawa beberapa berkas pekerjaan yang diminta Yudhis. Kali ini dia tidak datang sendiri, Erika datang ditemani Raja.
Yudhis tidak pergi ke kantor, hanya pulang sebentar untuk mandi dan kembali lagi ke rumah sakit. Membawa serta macbooknya dan mengurusi pekerjaan secara daring tanpa meninggalkan Khalisa dan Afkar.
Raja tak lagi menatap aneh penuh kewaspadaan pada Khalisa, setelah Erika menjelaskan tentang duduk perkara sebenarnya yang terjadi di Black Paradise tempo hari. Memutus prasangka Raja yang sempat berpikir miring tentang Khalisa dan Yudhis. Terlebih lagi setelah Yudhis sendiri membeberkan dan mendiskusikan permasalah Khalisa.
“Aku bawakan puding khusus balita buatan kakakku. Kakakku punya usaha kecil-kecilan katering rumahan, khusus menu MP ASI dan menu anak-anak balita. Jadi makanan ini dijamin aman buat Afkar.” Erika menyerahkan paper bag berwarna putih pada Khalisa, mengelus kaki mungil Afkar yang tertutup kaus kaki penuh perhatian.
“Ini dariku. Aku tidak tahu apa yang cocok dijadikan bingkisan untuk menjenguk balita yang sakit, jadinya aku beli buah-buahan saja. Kalau Afkar tidak makan buahnya, masih bisa dimakan bundanya.” Raja menyerahkan parsel buah yang begitu istimewa pada Khalisa.
“Makasih banyak, Mbak Erika, Raja, atas perhatiannya buat Afkar.”
Khalisa lagi-lagi terharu. Tak pernah menyangka secuil pun akan banyak cinta juga perhatian yang didapatkan anaknya sekarang. Berbanding terbalik dengan yang selama ini didapatkan Afkar, hanya banyak cibiran serta disisihkan sebab lahir darinya yang membawa noda.
“Mumpung Afkar lagi tidur siang. Aku, kamu, Erika dan Raja akan berdiskusi membahas banyak hal tentang langkah ke depannya, Khal. Sebaiknya jangan ditunda lagi. Kita harus bergerak cepat. Apalagi menurut keterangan dokter, Afkar harus tetap melakukan rawat jalan setelah keluar dari rumah sakit, dan kita harus berjuang supaya Afkar seutuhnya didapat hak asuhnya olehmu. Aku tak dapat membayangkan andai hak asuh anak jatuh ke tangan mantan suamimu. Tiga bulan dipisahkan darimu saja, Afkar jadi sakit begini sekarang.” Yudhis tak menunda untuk berdiskusi walaupun Khalisa masih dalam momen melepas rindu dengan anaknya, bertindak sigap lebih utama supaya permasalahan lekas terselesaikan, karena menunda hanya mengundang kelalaian.
“Apa yang dikatakan Erika benar. Terkadang ada yang main belakang untuk memenangkan kasus dan kita harus terlebih dahulu selangkah di depan dengan tetap menjunjung kejujuran untuk mendapat keadilan. Dan sepertinya sekarang ini mantan suamimu belum menyadari Afkar sudah tak lagi ada padanya. Kalau sudah tahu anaknya tidak ada di rumah itu, aku yakin dia kalang kabut mencari. Walaupun kita semua dapat membaca, menahan Afkar bersamanya hanya untuk menjeratmu menyerah dan kembali padanya. Kembali dalam artian keji tentu saja, ingin menjadikanmu budaknya,” Yudhis menukas cepat. Dan tak membuang waktu lagi mereka berempat berembuk, berbincang serius, tidak menyiakan waktu.
“Sebagai langkah awal, Khalisa harus punya pekerjaan tetap, Pak, bukan serabutan. Sebagai salah satu poin penting untuk memberatkan. Supaya hak asuh semakin condong pada Khalisa, wali asuh haruslah memiliki pekerjaan serta penghasilan pasti. Kita belum tahu sekuat apa lawan kita, untuk itu kita sebaiknya mengantisipasi dari sekarang.”
“Hmm,” Yudhis mengangguk-angguk, menopang dagu menggunakan kedua tangan yang terjalin dengan siku bertumpu di lutut.
“Pekerjaan tetap?” Khalisa ikut menimpali. “Di mana aku bisa mendapat pekerjaan tetap dalam waktu singkat? Ijazahku cuma lulusan paket C.” Khalisa terdengar amat bingung.
Raja angkat bicara. “Mmm, begini. tanpa mengurangi rasa hormat, OB di kantor LBH raksa Gantari kurang satu orang. Belum ada pengganti OB sebelumnya yang memutuskan resign. Jadi, supaya lebih efisien, bagaimana kalau Khalisa menjadi OB dulu? Ini hanya usulan darurat, Pak Yudhis. Selain Khalisa mendapat pekerjaan resmi, keamanan Khalisa juga bisa tetap terpantau jika bekerja bersama kita. Tidak bermaksud merendahkan, Maaf kalau kurang berkenan.”
“Aku paham, Raja. Usulanmu tidak ada yang salah. Benar seperti yang kamu bilang, mencarikan pekerjaan di luar tidak terjamin keamanannya,” sahut Yudhis yang tampak seperti sedang merangkai kata dalam benak.
“Sekarang keputusan ada di tanganmu, Khal. Mau menerima jenis pekerjaan ini atau tidak? Kalau sekiranya keberatan jangan dipaksakan. Aku akan mencarikan solusi lain,” kata Yudhis pada Khalisa. Meskipun Yudhis merasa tak tega mengatakannya, tetapi ini semua merupakan bagian dari strategi untuk mendapatkan apa yang Khalisa inginkan.
“Aku mau,” jawab Khalisa tanpa ragu, mengangguk penuh semangat. “Yang penting punya pekerjaan, Bang, bukan untuk formalitas juga tidak apa-apa. Aku malah berterima kasih, bisa bekerja dan punya penghasilan sendiri yang tetap juga rutin adalah keinginanku sejak lama.”
Begitu polos dan murninya Khalisa, serta raut syukurnya yang selalu menyambut baik niatannya membantu terlepas dari seperti apa pun bentuk bantuannya, membuat Yudhis semakin tertawan hati. Tekad kuat juga cara Khalisa menghargai setiap hal yang diberikan, itulah pesona terbesarnya.
“Baik, selamat bergabung, Khalisa,” ucap Yudhis memberi selamat yang diangguki Khalisa bersama ukiran senyum senang. “Raja yang akan membantumu mempersiapkan terkait pekerjaan, secepatnya.”
Mereka meneruskan perbincangan. Sementara itu di rumah Amanda, Dion baru saja turun ke lantai satu. Libur pergi bekerja lantaran tenaganya terkuras untuk memuaskan Amanda di ranjang tadi pagi. Hidupnya tak ubahnya hanya pemuas semata sekarang.
Berpapasan dengan Ceu Wati di ruang makan, Dion menghentikan langkah wanita itu. Biasanya di jam ini Ceu Wati sedang menggendong Afkar membujuk menyuapi makan siang. Tapi kali ini Ceu Wati membawa gunting rumput tanpa kain jarik tersampir di pundak.
“Di mana Afkar?” tanyanya, membuat Ceu Wati mematung tak tahu harus menjawab apa dan Amanda lah yang angkat suara.
“Dibawa Mbak Khalisa, kemarin.”
Bersambung.