
Bab 46. Tolong Aku
Khalisa menekan tombol panggilan telepon ke nomor Dion. Menggigiti kukunya resah sembari menunggu si mantan suami tak berperasaannya menyahuti di seberang sana.
“Kenapa Afkar bisa sampai masuk rumah sakit? Kalian apakan anakku!” cecar Khalisa menuntut dengan nada meninggi. “Cepat katakan di rumah sakit mana!”
[“Aku hanya ingin mengabarimu kalau Afkar sakit, bukan lokasi dirawatnya. Supaya kamu cepat mengambil keputusan yang tepat tentang tawaranku sebelumnya. Aku masih bermurah hati memberimu waktu memilih sampai sekarang. Menyerahlah Khalisa, kamu tidak akan pernah mendapatkan lima ratus juta dalam waktu cepat, dan menjadi pembantu di rumahku adalah pilihan tercepat juga termudah supaya kamu bisa memeluk anak tersayangmu lagi. Apalagi sekarang Afkar sedang sakit.”]
“Aku... aku akan membawa uang itu ke hadapanmu dalam waktu dekat, mantan suami. Beri aku waktu sedikit lagi. Tapi untuk sekarang cepat katakan ke rumah sakit mana Afkar dibawa? Aku harus melihatnya. Dia butuh aku, anakku butuh aku!” seru Khalisa, berteriak marah terbalut putus asa juga hati merana ingin tahu di mana rimbanya si penyejuk jiwa yang jatuh sakit.
[“Kalau kamu masih keras kepala enggak menerima tawaran mudah yang aku usulkan, jangan harap kuberi tahu di mana Afkar sekarang, kecuali kamu sudah punya uang itu sekarang juga. Kabari aku kalau kamu sudah berubah pikiran.”]
“Halo, Halo? Tunggu dulu, jangan begini! Tolong katakan dulu ke rumah sakit kamu membawa Afkar. Halo? Halo! Katakan di mana anakku, brengsek!”
Khalisa panik bukan kepalang saat Dion mematikan sambungan panggilan. Serbuan ketakutan seorang ibu yang didera khawatir terhadap si buah hati, membuat pikirannya sekarang kalut, buntu, tumpul.
Yudhis yang masih berdiri tak jauh dari tempat Khalisa duduk, mengamati raut Khalisa yang berubah amat cemas juga gelisah setelah membaca pesan disambung panggilan telepon, tergambar jelas ke permukaan di paras cantiknya. Juga percakapan Khalisa dengan seseorang yang menyebut-nyebut nama Afkar menimbulkan berbagai macam asumsi di benak Yudhis, menebak alasan Khalisa memilih profesi hitam ini berkaitan erat dengan anaknya.
Dengan jari jemari gemetaran, Khalisa mencoba menelepon Dion lagi berkali-kali. Namun nihil, Dion tak kunjung mengangkat panggilannya setelah memberi kabar yang membuat Khalisa nyaris sekarat rasanya, meruntuhkan sisa-sisa puing seluruh dunianya. Buliran bening tak terbendung tanpa disuruh membanjiri pipinya, sembari tetap berusaha menyambungkan panggilan lagi, bahkan mengirim pesan teks bertubi-tubi pada Dion.
Tak mampu hanya diam dan menonton saja, Yudhis memberanikan diri menyentuh pundak Khalisa yang kentara sedang panik luar biasa.
“Khalisa, apa yang terjadi? Ada apa dengan anakmu? Memangnya di mana dia?”
Khalisa mendongak, sejenak terlupa sedang di mana dirinya berada. Menatap Yudhis dengan bola mata basahnya, Khalisa yang putus asa tak tahu lagi harus bagaimana, meraup sisi kemeja Yudhis dan merematnya kuat tak ingat akan rasa sungkan.
Dengan isak tangis perih juga sedu sedan penuh luka, Khalisa berkata, “Tolong bantu saya. Anda pasti banyak uang bukan? Tadi saja Anda tak segan membuang uang 200 juta saat di kafe. Bisakah sekarang Anda pinjamkan saya 500 juta? Tolong, saya ingin memeluk kembali anak saya yang ditahan keluarga mantan suami saya dan hanya dengan uang itu mereka akan memberikan Afkar pada saya. Tolong pinjami saya uang itu, saya janji akan membayarnya meski harus mencicil seumur hidup. Atau Anda minta apa saja yang harus saya lakukan setelahnya akan saya lakoni. Tolong, bantu saya, Afkar sakit, anakku sedang sakit dan mereka tidak mau memberitahu di mana anakku berada.”
Raungan tangis Khalisa menyayat hati setelahnya, nestapa seorang ibu yang dipisahkan paksa dari si buah hati amatlah pedih tiada tanding. Terlebih sekarang anaknya sedang tidak baik-baik saja.
Sekarang Yudhis paham walaupun masih belum jelas secara gamblang tentang kesulitan yang dialami Khalisa. Bola mata Khalisa yang dipenuhi genangan air mata menyusupkan ngilu nelangsa ke sela-sela jendela sanubarinya. Juga mencerminkan apa yang Khalisa katakan memang benar adanya, bukan sekadar di mulut saja yang ingin memanfaatkan keadaan.
“Lima ratus juta memang bukan uang sedikit, tapi juga bukan hal yang sulit buatku. Aku akan membantu dengan syarat kamu bercerita padaku tentang apa yang terjadi, bercerita sejelas-jelasnya tanpa ada yang ditutupi, barulah aku akan membantumu.”
Bersambung.