Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Perhiasan Dunia


Bab 54. Perhiasan Dunia


Khalisa celingukan dengan kedua tangan yang terjalin sedingin es. Kakinya terasa lemas saat memasuki lobi pusat perbelanjaan, Yudhis ternyata membawanya ke pusat perbelanjaan yang kata orang-orang merupakan departemen store elit tanah air yang tersebar di seluruh Nusantara, sudah tentu barang-barang di dalamnya tidak cocok dengan kocek kalangan bawah meski sudah dirogoh dalam-dalam.


Khalisa menyusul langkah Yudhis yang berjalan lebih dulu. Menahan lengan Yudhis dengan cepat.


“Bang, kenapa kita ke sini?” Khalisa celingak-celinguk tak tentu ke kanan dan kiri.


“Huh?” Yudhis melipat dahinya samar. “Tentu saja mau beli baju kamu, ayo cepat ikut, aku sudah menghubungi seseorang untuk meminta diskon,” ujar Yudhis sembari tertawa kecil. Yang sudah dihubunginya tentu saja adalah si sepupu pimpinan The Royal Departemen Store.


Yudhis membawa Khalisa ke sebuah butik eksklusif yang ada di dalam pusat perbelanjaan, VN Fashion tentu saja, salah satu brand tanah air yang sudah berhasil mendunia.


“Mbak, tolong bantu pilihkan pakaian untuk teman saya ini, beberapa untuk pakaian keluar rumah juga pakaian santai yang cocok dipakai di dalam rumah. Pakaian tidur serta underwear juga jangan lupa,” pinta Yudhis pada seorang pramuniaga butik. Sedangkan Khalisa berkeringat dingin tak menentu.


“Bang, apa tidak sebaiknya beli di Pasar Baru saja? Di sini membuatku merinding, rasanya aku enggak cocok pakai baju mahal begini,” cicitnya polos setengah berbisik.


“Apanya yang tidak cocok? Jangan dilihat dan dipikirkan tentang harganya, itu cuma angka. Pilih saja yang modelnya kamu suka dibantu pramuniaga, jangan sungkan. Enggak baik menolak rezeki, anggap saja ini rezeki dari Allah untukmu yang dititipkan lewat aku. Dan juga sudah kubilang, ini sebagai imbalan jasa atas kopimu tadi pagi. Tolong diterima ya.”


Kehabisan kata untuk menolak, walaupun sungkan Khalisa membuntuti pramuniaga menuju hamparan display baju-baju cantik di sana. Ia terpaku saat pramuniaga bertanya model seperti apa yang diinginkannya. Termenung sembari berpikir dan kemudian ia memutuskan.


“Saya ingin model pakaian tertutup, yang modelnya pakai jilbab,” kata Khalisa setelah berpikir beberapa saat. Ketika berpikir tadi, di benaknya terlintas Dokter Aloisa yang begitu cantik menyejukkan dengan pakaian muslimahnya.


Yudhis menunggu di sofa yang terdapat di sudut kanan butik, disediakan sebagai tempat menunggu bagi yang mengantar berbelanja. Yudhis membuka gawainya, fokus membalas rentetan pesan penting yang sudah pasti terkait dengan pekerjaan.


“Maaf, Pak, bagaimana pendapat Anda tentang baju ini? Apakah model pilihan kami sudah sesuai? Soalnya Kak Khalisa merasa bimbang, jadi butuh referensi,” ucap si pramuniaga ramah dan sopan setelah memilihkan sekitar dua puluh menit lamanya, menarik fokus Yudhis yang sibuk menunduk.


Mengangkat pandangan, seketika Yudhis membuka mata lebar-lebar nyaris tak berkedip. Khalisa berdiri di depannya dalam balutan gaun muslimah warna mauve dengan aksen bunga-bunga putih kecil, dipadu padankan pashmina polos berwarna senada. Model dan warnanya begitu pas dengan postur juga paras Khalisa.


“Masya Allah,” ucap Yudhis spontan, terpana akan keindahan yang tertangkap matanya. Sorot manik hitamnya jelas memuja perhiasan dunia di hadapannya.


“Ja-jadi gimana, Bang? Apa aku cocok pakai baju begini?” tanya Khalisa yang terlihat tak yakin, serius meminta pendapat.


Senyum merekah nan tampan menghiasi wajah Yudhis, sebenarnya saat tadi masuk ke sini, Yudhis ingin mengusulkan model pakaian untuk Khalisa dan model inilah yang dimaksud. Namun, dia tidak serta merta memaksakan pendapat, memandang Khalisa sebagai sesama manusia yang memiliki hak independen dalam memutuskan apa yang ingin dipakainya, hanya menguntai do’a dalam hati akan keinginannya tersebut.


“Lebih dari cocok, kamu sangat sesuai dengan baju tertutup itu, Khalisa.”


Kalimat Yudhis ikut menularkan senyum senang di bibir merah Khalisa. Kebimbangannya selalu berhasil sirna dalam sekejap jika Yudhis telah mengutarakan pendapatnya. Tak ragu lagi memilih beberapa potong dalam jumlah secukupnya saja meski Yudhis sempat hampir memborong pakaian yang terpajang di sana.


Bersambung.