
Bab 157. Sebuah Pertanyaan
Bercengkrama malam usai cukup larut. Mereka terlalu asyik mengobrol hingga lupa waktu. Khalisa dan Anggita menyudahi berbincang-bincang saat Afkar mulai rewel ingin tidur.
"Sanak saudara Abang semuanya ganteng dan cantik ya. Pantesan Abang juga begitu." Khalisa membuka kata begitu merebahkan diri di mana Yudhis sudah lebih dulu duduk bersandar di sana.
"Ya, mau gimana lagi. Nasib para bibit unggulan memang begini." Yudhis terkekeh narsis, yang dihadiahi cubitan Khalisa di perutnya.
"Ish, malah kumat narsisnya!" protes Khalisa yang setelah bersama Yudhis lebih berani berekspresi membuka diri.
Yudhis masih tergelak, dia ikut rebah dan masuk menarik selimut. Seperti biasa, dia membuka lebar kedua lengan dengan dada bidang terpampang mengundang Khalisa untuk masuk.
Si wanita hamil yang pereda mualnya adalah suaminya sendiri itu, tak membuang waktu, gegas bergelung. Tersenyum senang saat pelukan membungkus hangat.
"Tadi aku lihat foto besar yang dipajang di ruang keluarga. Apakah yang wajahnya tampan mirip Om Juna itu adalah anak sulung Tante Anggita yang namanya Brama? Yang pernah Abang ceritakan padaku sedang membangun bisnis di Singapura?"
"Hmm. Dia putra sulung om dan tanteku. Juga, salah satu manusia jenius di keluarga besar Syailendra. Dia lulus universitas tiga tahun lebih awal dibanding aku, padahal usia kami gak beda jauh," tutur Yudhis, menceritakan sepupu terdekatnya yang memang selalu menjadi buah bibir.
"Waw, hebat sekali, luar biasa."
"Dia memang hebat, juga punya rasa solidaritas tinggi. Cuma terkadang tengil dan keras kepala."
"Kalau masalah poin itu berarti enggak ada bedanya sama Abang. Yang satu tengil yang satu narsis," goda Khalisa, terkikik geli.
"Hei, aku jelas berbeda darinya. Apalagi sekarang. Tapi walaupun dia lebih dulu lulus Universitas, tapi yang lebih dulu menikah adalah aku," jelas Yudhis menyombong, tak bisa menyembunyikan raut gembiranya, terkekeh senang karena sekarang punya senjata untuk menggoda sepupu tersayangnya itu.
"Sepertinya dia masih bucin pada mantan pacarnya. Padahal hatinya pernah dipatahkan dan aku tahu seperti apa hancurnya Brama tiga tahun lalu. Kamu tahu, aku sebetulnya mengendus hal lain dengan keinginan keras Brama membangun bisnis sebesar itu di Singapura. Semoga ini hanya terkaan tak berdasarku saja, hanya khawatir dia berniat mengganggu rumah tangga mantan pacarnya itu demi melampiaskan sakit hati."
"Sudah selama itu masih belum move on juga?"
"Rasanya aku memang pernah lihat dan dengar nama itu dulu di tivi," tukas Khalisa. "Yang katanya dokter juga itu ya?"
"Iya benar, yang itu. Dia adalah Puteri DKI alias Puteri terpilih yang mewakili Daerah Khusus Ibukota Jakarta di ajang Puteri Indonesia beberapa tahun silam. Dan Selena yang itu adalah mantan pacarnya Brama."
"Wah, pantas saja sepupu Abang susah dapat pengganti kalau seperti itu ceritanya. Semoga saja dia segera bertemu tambatan hati. Kulihat Tante Anggi agak muram saat sekilas membahas putranya. Pasti khawatir anaknya tak kunjung mau menikah," cicit Khalisa, mulai paham dengan air muka Anggita yang tadi sempat berubah riaknya.
"Kamu benar. Istriku ini memang super peka. Dan kulihat, kamu mudah akrab dengan sanak saudaraku." Yudhis mencubit hidung Khalisa gemas. "Ayo tidur ibu bayi, kalau terus terjaga nanti kuterkam."
"Ish. Enggak mau ah. Ini kita lagi nginap di rumah tantenya Abang. Aku malu kalau ketahuan abis keramas subuh-subuh."
Punggung Yudhis terguncang tawa. "Oke deh, dipending dulu nengok dedeknya. Nengok di Bandung lebih enak karena cuacanya sejuk."
"Oh iya. Sebenarnya aku ingin tanya sesuatu sama Abang." Khalisa menatap Yudhis agak sungkan.
"Mau tanya apa memangnya? Tanyakan saja."
"Tapi, Abang janji jangan marah ya. Mmm, begini. Aku selalu penasaran. Abang kan banyak uang, banyak koneksi, banyak kenalan."
"Lalu?" Yudhis mengerutkan kening tak paham kenapa Khalisa membahas topik begini. Tidak seperti biasanya.
"Dengan kuasa yang dimiliki, apakah Abang enggak penasaran dan enggak ingin mencari siapa ayah kandung Abang sebenarnya?"
Dan pertanyaan Khalisa kali ini sukses membentangkan keheningan menyergap ke seluruh ruangan.
Bersambung.