Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Harmonis


Bab 79. Harmonis


Afkar bergelung menempelkan pipinya rapat di pelukan Khalisa di perjalanan pulang siang ini. Setiap beberapa menit sekali bocah itu akan mendongak menatap Khalisa dengan bola netra jernih polosnya, lalu tangannya terulur meraba pipi Khalisa, seolah takut kehadiran ibunya yang kembali mendekapnya tidak nyata.


“Unda, Af mau cama Unda aja ya. Endak mau ke lumah tinggi. Endak ada Unda.”


Entah sudah yang ke berapa puluh kali Afkar mengatakan kalimat yang sama sejak mobil yang dikemudikan Yudhis melaju meninggalkan rumah sakit. Berceloteh rangkaian kata serupa berulang-ulang. Sedangkan kata rumah tinggi sendiri yang dimaksud Afkar sudah pasti adalah rumah Amanda yang bertembok luar teramat tinggi, lebih mirip kerangkeng dibanding hunian.


“Iya, Nak. Af bakal sama Bunda lagi sekarang. Akan selalu sama Bunda. Enggak akan ke rumah tinggi lagi.” Khalisa mengecup telapan tangan Afkar, mengeratkan pelukan sembari mengusap sayang kepala sang anak. Terenyuh hati kala si buah hati ketakutan berpisah lagi dengannya, begitu pun dirinya yang merasakan hal serupa.


Afkar mengangguk-angguk, mengeratkan pelukan mungilnya ke leher Khalisa. “Cucunya di lumah tinggi endak enak, Af endak mau puyang cana. Tata nenek halus minum nanti Undanya endak cayang Af yagi, tapi cucunya endak enak, ininya cakit,” ujarnya sembari menepuk-nepuk perutnya. Bercicit tak tenang, seakan takut Khalisa membawanya kembali ke rumah Amanda setelah ia sembuh.


Khalisa masih menyimpan geram terpendam, terutama pada ibu mertuanya sebab sangat yakin Dion takkan pernah peduli bagaimana Wulan memperlakukan Afkar. Ingin rasanya Khalisa membuat perhitungan dan mengajak Wulan berduel lantaran telah berbuat seenaknya terhadap anaknya, menyakiti fisik juga psikisnya, yang membuat Afkar kini terus bercicit ketakutan.


“Enggak akan. Af enggak akan pernah ke rumah itu lagi dan minum susu yang bikin perutnya sakit lagi.” Yudhis ikut menghibur, mengusap-usap kaki Afkar menyalurkan ketenangan.


“Iya, Sayang. Af bakal terus minum susu yang enak dan bakal terus sama Bunda.” Khalisa mengecup penuh cinta pipi anaknya yang kini tirus, tidak lagi gembul seperti sebelumnya.


“Bang, maaf ya, tadi perawat sepertinya salah paham. Mengira Abang papanya Afkar.” Khalisa kini beralih pada Yudhis yang fokus menyetir.


“Jangan dipikirkan. Bukan salah paham pun, aku enggak keberatan kok.” Yudhis terkekeh, melontarkan kalimat canda yang sesungguhnya di dalamnya mengandung arti serius. Sedangkan reaksi Khalisa tertawa kering sekarang.


Mobil hitam yang ditumpangi Khalisa berbelok memasuki parkiran sebuah swalayan paling lengkap di Kota Bandung. Khalisa celingukan, penasaran ia bertanya.


“Kenapa berhenti di sini? Abang mau belanja dulu ya?” tanya Khalisa.


“Iya.” Jawab si pria tampan berkemeja hitam itu singkat. “Aku ingin berbelanja kebutuhan dapurku dulu sebelum pulang, juga untuk mengisi lemari pendingin yang mulai kosong. Ayo turun.”


“Silakan Abang berbelanja. Aku nunggu di sini saja,” imbuh Khalisa cepat.


Bukannya ia tidak ingin turun, sekadar melihat-lihat belanjaan pun merupakan hal yang menyenangkan baginya, tetapi Khalisa tidak punya uang. Tidak ingin di dalam sana nanti, anaknya melihat suatu barang yang menarik dan sudah pasti koceknya tak mampu membayar walaupun Afkar bukan tipe anak yang merengek parah jika menginginkan sesuatu. Tidak ingin membuat Afkar sedih.


“Akh, sebenarnya aku butuh referensi dalam memilih kebutuhan dapur yang akan kubeli. Bukankah para wanita biasanya lebih paham dalam hal berbelanja begini? Kalau kamu enggak keberatan, aku butuh bantuanmu untuk memilihkan belanjaan, sekalian biar aku bisa belajar cara memilih bahan makanan yang baik dan benar,” pinta Yudhis penuh harap.


“Tapi aku tidak pernah berbelanja di swalayan besar begini, Bang. Seringnya cuma ke pasar atau paling ke minimarket,” timpalnya tak yakin, merasa minder.


“Memang apa bedanya? Begini, aku mau tanya, garam rasanya apa?” tanya Yudhis.


“Asin.” Khalisa menjawab singkat.


“Ya tetap asin. Rasa garam di manapun sama saja, mana ada garam yang rasanya manis.” Khalisa merengut bingung.


“Dari situ kamu bisa menyimpulkan dengan mudah bukan? Tidak ada bedanya mau berbelanja di manapun. Jadi, tolonglah bantu aku.”


Meski ragu-ragu, Khalisa ikut turun walaupaun jujur saja sekarang ia ketar-ketir. Akan tetapi, jika menolak permintaan Yudhis dirinya merasa jadi manusia tak tahu diri. Sudah dibantu sedemikian rupa, tidak etis rasanya menolak permintaan bantuan kecil.


“Sini, biar Afkar aku yang gendong. Supermarket ini luas dan barang yang mau kubeli juga banyak, biar kamu fokus membantu memilihkan.” Yudhis mengulurkan kedua tangannya.


“Enggak usah, Bang. Biar aku saja yang gendong, nanti tangan Abang pegal. Lagian Afkar selalu aku gendong saat bepergian ke manapun,” sahut Khalisa sungkan.


Tanpa disangka, Afkar malah otomatis mencondongkan tubuhnya pada Yudhis, setelah melihat balita perempuan yang digendong seorang pria yang mungkin ayahnya melintasi mereka.


“Tuh, Afkarnya saja mau digendong sama aku.” Yudhis gegas meraup Afkar, dan mengulum senyum senang.


“Sama Bunda saja ya, Nak. Afkar kan berat,” bujuk Khalisa tidak ingin merepotkan, tak terbiasa banyak dibantu dalam mengurus Afkar sebelumnya, membuatnya kerap sungkan.


“Mau, Af mau gendong cama Om, Om Papa,” celotehnya polos, yang kembali mengulang rekaman panggilan suster pada Yudhis saat suster melepaskan infusannya. Spontan memanggil Yudhis dengan sebutan om dan papa. Dan tanpa menunggu persetujuan Khalisa, Yudhis membawa Afkar masuk berayun ceria di gendongang lengan kokohnya.


“Eh, ke-kenapa manggilnya jadi Om Papa?” Khalisa sewot sendiri, sembari bergegas membuntuti langkah Yudhis masuk ke dalam swalayan.


Modus pria jatuh cinta, cuma kata itu yang paling tepat menggambarkan situasi berbelanja Yudhis saat ini, hanya saja Khalisa yang lugu tidak menyadari. Sebetulnya Yudhis ingin membelikan stok makanan yang sesuai dengan selera Khalisa juga Afkar, membelikan kebutuhan Afkar dan Khalisa terselubung kalimat meminta bantuan.


Bahkan bukan hanya bahan makanan, sabun mandi Afkar, minyak telon, beserta perintilan lainnya tanpa Khalisa sadari telah terdampar ke dalam troli yang didorong Yudhis. Yudhis mendudukkan Afkar di tempat duduk keranjang dorong, dan meminta Khalisa berjalan di depan sembari terus dimintai pendapat olehnya mengenai barang-barang belanjaan yang sebaiknya dibeli.


Tanpa Khalisa sadari, Yudhis yang cerdas ingin membantunya lebih dalam lagi serta sedang memancingnya untuk mengemukakan pendapat, hal yang selama ini selalu takut diungkapkan pribadi lugu semacam Khalisa.


Mereka yang berbelanja bertiga tampak begitu manis. Mirip potret keluarga kecil harmonis. Di mana istrinya sibuk memilih belanjaan dan suaminya setia mendorong keranjang belanja sembari mengajak bercanda sang anak supaya tidak bosan. Dan tanpa disadari Khalisa, sejak tadi Yudhis mengamati gerak geriknya dengan tatapan hangat memuja.


“Selamat datang di rumah.” Yudhis berkata riang saat mereka turun dari mobil. Menyesuaikan intonasi nada bicaranya supaya Afkar tidak tegang masuk ke dalam rumahnya, karena menurut suvei, balita lebih peka terhadap tempat baru yang terkadang membuat mereka rewel karena merasa asing.


Namun, langkah Khalisa yang mengekori Yudhis terhenti begitu mendapati kehadiran orang lain di rumah Yudhis. Seorang wanita cantik bersahaja yang sudah tidak muda lagi menyambut membukakan pintu.


“Mami?”


Bersambung.