
Bab 80. Prasangka
Maharani dan Barata datang ke Bandung tanpa memberitahu dulu, selepas menghadiri pertemuan penting bersama Arjuna dan para pebisnis di bidang tekstil lainnya dengan kementerian perdagangan di Jakarta. Mereka berdua memang sudah merencanakan hal ini ketika berangkat dari Bali beberapa hari lalu. Hendak menyempatkan diri mengunjungi rumah si sulung tanpa mengabari.
Selain rindu ingin bertemu juga dalam rangka memberi kejutan, Maharani juga terbiasa memeriksa rumah Yudhis secara berkala, mengecek fasilitas di rumah anaknya khawatir kurang memadai, bahkan memeriksa semua furnitur sampai perabotan dapur, memastikan semuanya masih layak pakai dan berkualitas baik.
Maklum saja, Yudhis itu masih membujang, belum ada yang mengurus maupun memperhatikan hal-hal kecil semacam itu, sehingga sebagai seorang ibu, Maharani yang selalu dilanda cemas akan putra sulungnya yang hidup sendiri, masih sering turun tangan mengurus ini itu, meski Yudhis kerap melarangnya. Tidak ingin terus-menerus merepotkan ibunya.
“Mami?”
Bukan hanya Khalisa, Yudhis pun menghentikan langkah mendapati ibunya mendadak muncul di rumahnya.
Maharani mengamati penuh tanya, bergantian pada Yudhis, Khalisa, terutama pada si bocah laki-laki yang digendong Yudhis, menimbulkan pikiran yang tidak-tidak menyerbu kepala.
“Yudhistira Lazuardi, ada apa ini?” tanya Maharani menelisik, bersedekap, memicing penuh curiga.
Bagaimana tidak kecurigaan terhindar dari menyeruak ke permukaan di detik itu juga, putra sulungnya yang masih membujang juga tinggal sendiri dan selama ini belum pernah sekalipun terlibat hubungan romantis dengan wanita mana pun, mendadak kedapatan menggendong balita dan pulang bersama dengan seorang wanita muda ke rumah. Ditambah kantung-kantung belanja berlogo sebuah swalayan yang ditenteng keduanya, ibarat pupuk yang menyuburkan prasangka kian subur.
Yudhis mendekati ibunya sementara Khalisa mematung di tempatnya berdiri, seolah dipaku ke tanah. Aura kuat Maharani yang tidak biasa, membuat Khalisa yang masih muda juga lugu menciut seketika.
“Kapan datang, Mi? Kenapa tidak mengabari dulu, kalau tahu Mami mau datang, pasti aku jemput di bandara,” ucap Yudhis, menyapa ibunya penuh sopan santun.
Afkar yang berada di gendongan Yudhis sembari memegangi satu bungkus kreker balita kesukaannya, mengangkat bungkusnya ke depan wajah Yudhis.
“Om Papa, toyong cucah bukanya,” cicitnya meminta tolong dengan raut menggemaskan. “Af mau makan ini.”
Celotehan Afkar yang memanggil Yudhis dengan sebutan tak biasa membuat prasangka Maharani semakin bertambah intensitasnya. Raut mukanya jelas resah teramat sangat.
“A-apa, dia panggil kamu a-apa? Om … Om Papa? Ka-kamu dan anak ini?” Maharani jelas terkejut, membeo dan kalimatnya ikut terbata. Sedangkan Khalisa yang sedari tadi menunduk, kini mengangkat wajahnya yang memucat mendengar Afkar memanggil Yudhis dengan sebuat Om Papa di depan orang tua Yudhis.
“Apa maksud dari semua ini?” tuntut Maharani mulai tak terkendali, emosi merambati setiap kosa kata yang diucapkan.
“Tenang, Mi. Apa yang terlihat sama sekali tidak seperti yang Mami duga. Nanti aku jelaskan semuanya pada Mami, sebaiknya sekarang kita masuk dulu, tidak enak ngobrol di ambang pintu dan aku merasa tidak sopan membiarkan Mami berbincang denganku sambil berdiri. Terus, Afkar juga baru pulang dari rumah sakit, angin di luar khawatir tidak baik untuk kondisinya yang baru saja pulih. Ayo kita masuk, Mi,” ajak Yudhis, lembut membujuk.
“Afkar? Jadi namanya Afkar?” imbuh Maharani semakin linglung. “Sebenarnya siapa mereka? Jelaskan pada Mami sekarang juga siapa anak kecil dan wanita ini, Yudhistira!” Maharani berseru dengan nada tinggi, kehilangan kontrol. Merasa gagal menjadi orang tua yang mendidik anak laki-lakinya andai Yudhis benar berbuat hal miring di belakangnya.
Maharani membekap mulut, tak kuasa meneruskan kalimat praduganya, raut terkejut serta kecewa tercetak jelas. Maharani nyaris limbung, memegangi kepalanya yang pusing akibat syok. Beruntung Barata yang mendengar suara meninggi istrinya langsung melesat ke teras rumah, menopang punggung Maharani supaya tetap seimbang.
Barata membawa Maharani ke dalam rumah dan memerintahkan Yudhis serta Khalisa untuk masuk. Tak punya pilihan dan tak tahu harus pergi ke mana, Khalisa membuntuti dengan langkah takut-takut juga gemuruh sungkan, telah menjadi penyebab orang tua Yudhis salah paham.
“Kamu dan Afkar istirahatlah di kamar ini dengan nyaman. Aku mau bicara secara pribadi dengan Mami dan Papi, mungkin agak lama. Kalau lapar, bahan makanan juga makanan instan yang tadi kita beli sudah kuangkut ke dapur, ada istrinya Mang Darjat tukang kebun juga yang bisa kamu mintai tolong. Mang Darjat dan istrinya baru saja datang.”
Yudhis berbicara pada Khalisa di depan pintu kamar tamu yang terbuka. Tadi, Maharani yang hampir ambruk, langsung dibawa Barata ke kamar lain yang biasa ditempati ketika menginap di rumah Yudhis, sedangkan Yudhis meminta Khalisa membawa Afkar masuk ke kamar tamu.
“Maaf, aku dan anakku jadi penyebab orang tua Abang salah paham sama Abang,” cicit Khalisa yang terus saja menunduk, merasa bersalah.
“Aku juga minta maaf, pasti reaksi mamiku bikin kamu kaget. Tapi tenang saja, mami cuma terkejut, karena sebelumnya aku tidak pernah membawa wanita ke rumahku. Salah paham itu biasa, oleh karena itu sekarang tugasku untuk meluruskan. Gunakan waktu senggangmu untuk beristirahat. Kamu juga harus menyiapkan diri, kemungkinan nanti mami akan bertanya secara langsung juga sama kamu. Enggak usah tegang, mami pribadi baik yang punya sisi kemanusiaan juga empati tinggi pada kesusahan yang dialami para wanita dan anak-anak. Cuma mamiku memang terkadang suka menginterogasi siapa saja orang yang terlihat dekat di sekitar anaknya,” ucap Yudhis sembari terkekeh.
“Itu pasti karena maminya Abang sangat sayang pada anaknya. Mungkin saja aku pun akan begitu kalau Afkar sudah besar nanti.” Khalisa menimpali sembari mengulas senyum sedih, setiap kali orang lain membahas orang tua, ia sering merasa iri.
Yudhis mendorong pintu kamar di mana Maharani sedang berbaring, di sana juga ada papinya, sedang mengoleskan minyak angin dan memijat mesra pelipis maminya.
“Bagaimana ini, Pi. Kalau Yudhis benar berbuat begitu, berita ini pasti akan membuat seluruh keluarga besar kita geger, gonjang-ganjing. Sampai mati pun Mami tidak rela kalau putra sulungku yang luar biasa sampai dipergunjingkan orang, terlebih lagi penyebabnya karena kumpul kebo. Kenapa bisa jadi begini, Pi?” keluh Maharani, merintih merajuk. Dan Barata yang sudah amat hafal sisi sewot istrinya jika itu menyangkut anak-anak mereka, hanya tertawa kecil sembari menghibur dan menenangkan.
“Papi yakin, Yudhis tidak mungkin berbuat yang melanggar norma. Kita sebagai orang tuanya tahu betul anak kita itu seperti apa. Apalagi, Yudhis merupakan sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Kita dengarkan dulu penjelasan putra sulung kita, jangan dulu overthinking.”
“Mi, Pi, boleh masuk,” pinta Yudhis dari ambang pintu.
Barata mengangguk sembari mengulas senyum hangatnya seperti biasa. “Masuklah, Nak, dan jelaskan pada Mamimu, kenapa putra tampan kami yang betah menjomblo ini mendadak menggendong bocah laki-laki lucu dan membawa seorang wanita cantik pulang ke rumah?” tukas Barata, alisnya naik turun menggoda Yudhis penuh arti.
Yudhis menghampiri, duduk di tepian tempat tidur di dekat kaki Maharani lalu menggulirkan tangan memijat kaki ibunya.
“Katakan prasangka Mami tidak benar, Nak,” cicit Maharani begitu resah.
“Akan kujelaskan apa alasannya, tapi sebelum aku bercerita, tolong itu alis Papi ditertibkan dulu,” protes Yudhis sebal, dan Barata malah terbahak puas.
Bersambung.