Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Khalisa Suci Kirani


Bab 30. Khalisa Suci Kirani


Terpaan angin berpadu percik air langit di malam ini teramat dingin, menerpa kulit wajah dan sebagian kulit kaki Khalisa yang terbuka. Khalisa mulai menggigil, hanya bermodalkan sehelai baju terusan selutut dan jaket tipis sebagai pelindung tubuhnya, embusan hawa dingin dengan mudahnya merasuk melalui pori serat kain.


Keluar dari gang di mana Windy tinggal, terlunta-lunta berapa saat menyusuri pinggiran jalan dalam suasana gerimis, Khalisa mulai kewalahan. Kondisi tubuhnya yang ringkih dan kurus, disertai makan malam yang tadi hanya masuk tiga suapan saja sebab tak berselera, ditambah setumpuk beban lara yang harus dipikul pundak rapuhnya, membuatnya letih bukan main. Lelah lahir batin.


“Aku kangen Afkar,” cicitnya serak, berlinang di pelupuk mata. Dingin yang menusuk kian membuatnya rindu rasa hangat dan buncah bahagia saat memeluk balita lucunya dalam dekapan. “Aku harus kuat, jangan menangis lagi wahai mata, aku harus kuat buat Afkar,” imbuhnya, menyemangati diri sendiri, padahal untuk berdiri saja rasanya kaki Khalisa mulai kehilangan daya topangnya.


Menemukan sebuah warung kopi yang masih buka dan terlihat lengang sedang tak ada pengunjung, Khalisa mempercepat langkah. Bukan hendak membeli karena uang di dompetnya tinggal sepuluh ribu rupiah saja, sisa dari jatah uang belanja tiga hari yang sudah dibelanjakan seirit mungkin, sedangkan celengan yang dibawanya belum sempat dibuka. Ia hanya bermaksud ikut berteduh di bangku bagian depan kedai yang lumayan terlindung dari hujan, menghindari belaian titik air yang terus turun tiada henti, seolah langit ikut merasakan kesedihannya.


Belum lama ia mendaratkan pinggul, Khalisa tersentak oleh suara maskulin yang pernah didengarnya baru-baru ini menegurnya, mencerocos mengomelinya.


“Hampir memasuki dini hari buat apa nongkrong di sini? Sangat berbahaya bagi perempuan! Kamu ini tidak ada takut-takutnya, ngeyel!” seru Yudhis mencecar. Sapaan sopan ‘Mbak’ berganti ‘kamu’ saking jengkelnya. Ini merupakan pertemuan tak sengaja ketiga mereka dan semuanya berlangsung saat langit gelap, hanya saja kondisi Khalisa kali ini lebih memprihatinkan dari sebelumnya. Mengigil dengan gigi gemeletuk.


“Bu-bukan urusan Anda,” sahut Khalisa amat pelan, nyaris tak terdengar. Meringis kedinginan sembari memegangi kepalanya yang pusing bukan main, terasa berputar-putar dan di detik berikutnya Khalisa terkulai begitu saja, membuat Yudhis terkesiap.


“Hei, bangun! Kamu ini kenapa.” Yudhis yang panik meraup tubuh ringkih Khalisa, menepuk-nepuk pipinya, meraba kulit wajah pucat Khalisa yang terasa sedingin es. Diperhatikan dengan benar, paras ayunya terlihat sendu, berjejak sembap bekas air mata juga kehilangan ronanya, seputih kertas dengan bibir pucat pasi.


Tidak ingat akan rasa lelahnya sendiri, tanpa basa-basi Yudhis bergegas membopong Khalisa dan menggendongnya masuk ke dalam mobil. Memutar balik kendaraannya kembali ke rumah sakit yang tadi dikunjunginya.


“Tekanan darahnya sangat rendah, lambungnya bermasalah. Juga dari sampel darah yang diambil menunjukkan dia kekurangan nutrisi dan mengalami hipoglikemia. Pantas saja dia pingsan.” Dokter jaga yang memeriksa Khalisa menerangkan panjang lebar pada Yudhistira setelah memeriksa secara saksama.


“Apakah dia juga klien Anda yang meminta bantuan?” tanya si dokter. Mengetahui tentang profesi Yudhistira sebab tadi dia juga lah yang menangani si wanita korban KDRT.


“Perawatan apa yang sebaiknya diberikan untuk pasien dengan diagnosis ini?” Yudhis bukannya menjawab pertanyaan si dokter, malah balik bertanya. Kepeduliannya kian menebal, hatinya merasa iba dalam getar berbeda, entah tergerak oleh apa. Padahal Yudhis sendiri bahkan tidak kenal nama wanita itu siapa, dia hanya tahu wanita ini ibunya si bocah gembul bernama Afkar.


“Tentu saja harus dirawat inap, juga diberikan infus cairan Dextrose untuk membantu mengatasi hipoglikemianya. Disarankan rawat inap beberapa hari. Tapi ruang perawatan yang tersedia hanya tinggal VVIP, selebihnya penuh terisi.”


“Pindahkan dia ke kamar VVIP dan berikan perawatan yang seharusnya, saya yang menjadi penanggung jawab,” tukasnya cepat.


“Ada KTP pasien? Untuk keperluan data administrasi.”


Melirik tas coklat di bawah ranjang UGD yang tadi diletakannya, Yudhis memberanikan diri menarik resleting dan merogoh isinya. “Maaf, aku membuka tasmu tanpa izin.” Menemukan sebuah dompet usang, Yudhis membuka isinya. Di dalamnya terdapat selembar uang sepuluh ribu serta KTP saja. Dibacanya tulisan nama yang tertera di sana sebelum secarik kartu identitas itu diberikan pada perawat yang mendampingi dokter.


“Khalisa Suci Kirani.”


Bersambung.


Apakah setelah ini Yudhis-Khalisa akan semakin dekat? Nantikan selalu kelanjutannya sayang-sayangku 🥰. Happy holiday semua 💕.