
Bab 42. Deal
“Khalisa?”
Menggosok mata, Yudhis mengerjap memokuskan pandangannya, takut salah melihat. Dari ukiran wajah cantiknya meski tertutup sapuan makeup tebal, indra penglihatan Yudhis yang sehat sempurna langsung dapat menyimpulkan sosok itu adalah Khalisa. Hanya saja dari segi pakaian, kulit dan rambut terawat segar, juga pahatan daksanya berbeda dari sebelumnya. Lebih berisi dalam porsi yang pas menonjolkan lekuk keindahan kaum hawa, bukan kurus seperti Khalisa yang pernah bertemu dengannya. Juga pakaiannya amat sangat terbuka, mencerminkan image kupu-kupu malam.
Turun dari kursi tinggi yang didudukinya, Yudhis menaruh map di tangan ke pangkuan Raja setengah menyentaknya. Tak kuasa menahan keinginan membuntuti untuk memastikan bahwa itu benar Khalisa, wanita yang dicari-carinya sebulan terakhir ini. Walau sangsi, Yudhis tetap ingin memastikan, kendati agak ragu itu benar Khalisa, karena Khalisa yang pernah ditemuinya ialah wanita lugu dan sering terlihat takut-takut. Akan tetapi, bahasa tubuh wanita ini juga sama sekali tidak sesuai dengan gesture wanita penghibur. Tampak tak nyaman juga tegang bukan main, hanya riasan dan kain yang dikenakannya saja yang terlihat demikian.
“Kamu periksa semuanya. Aku ada urusan mendesak sebentar.”
Tidak menunggu jawaban Raja, Yudhis beranjak dari sana tanpa menoleh. Melangkah tenang sembari mengamati situasi, juga sekilas memerhatikan siapa saja yang duduk pada sofa melingkar yang dituju rombongan para wanita itu. Kemudian sepasang netra tajamnya lagi-lagi lurus menyorot punggung mulus si wanita bergaun putih tulang yang diyakininya ialah Khalisa.
Sekujur tubuh Khalisa terasa sedingin es ketika dirinya beserta yang lainnya semakin dekat ke area sofa melingkar yang dituju. Di sana sudah ada tiga orang pria berpakaian rapi yang berkumpul. Jelalatan melahap raganya juga bunga malam lainnya bak ikan kehausan di padang pasir.
Ada yang usianya lima puluh tahunan, ada pula yang masih cukup muda. Ditilik sekilas pun, dari pembungkus raga sudah jelas mereka orang-orang berduit. Hanya saja sayang, mereka hobi jajan di luar, padahal masing-masing sudah punya pendamping sah di rumah.
Langkah Khalisa melambat, berlawanan dengan degup jantungnya yang bertalu cepat. Kalimat Tya di mobil tadi lumayan memengaruhi tekadnya, mengganggunya. Dengan cepat Khalisa menggelengkan kepala, menepisnya. Meneguhkan diri kembali pada niatan semula meski sedikit goyah, mencoba masa bodo tentang kemungkinan Afkar kecewa terhadapnya di masa datang akan keputusannya hari ini. Yang diinginkannya sekarang adalah segera membawa Afkar keluar dari cengkeraman orang-orang yang tak pernah menyayangi buah hatinya.
“Siapa yang berbaju putih ini?” Si pria paruh baya yang duduk di tengah, langsung mengarahkan mengedikkan dagu pada Khalisa, kilat matanya jelas penuh minat, tak peduli pada yang lainnya. Memindai pakaian seksi warna putih tulang yang dipakai Khalisa, terbuat dari kain satin beraksen brukat menerawang di bagian-bagian tertentu.
“Ini anak baru, si berlian suci yang Jordan umumkan kemarin malam akan rilis hari ini.” Salah satu pria berbaju hitam angkat suara, yakni kacungnya Jordan yang dilabeli asisten oleh si mucikari.
“Wow! Jordan memang pandai mencari bunga malam. Dia bersinar dan sangat cantik, cocok dengan julukannya, berlian suci,” ujarnya dengan liur yang hampir menetes. “Siapa namamu? Kemarilah, Sayang. Duduk di sebelahku.” Pria itu menepuk-nepuk tempat duduk di sebelahnya.
Dengan sigap Tya menyela, mendahului duduk di sana dengan gaya sensualnya, mengerahkan semua kemampuan. “Namanya Khalisa, Daddy Bos. Dia ini masih baru, harus pelan-pelan. Maklum, walaupun sudah dilatih, kemungkinan amatir masih sangat besar.”
Pria itu terbahak senang, menangkup pinggul Tya dan meremasnya kurang ajar. “Kalau begitu, kita main bertiga. Biar dia belajar darimu yang sudah mahir ini langsung secara live.”
“Sesuai permintaan Anda, Daddy Bos,” sahut Tya merayu, mengerling genit.
“Sabar, waktu belum begitu larut. Lebih baik di sini dulu, kami temani minum. Itung-itung sebagai pemanasan supaya si anak baru ini tidak terlalu gugup,” usul Tya, mengulur waktu sembari memberi kode lirikan mata pada Khalisa, masih berharap Khalisa mengubah pikirannya, mumpung sedang di luar dan mumpung ada kesempatan.
“Ide bagus. Sekarang, duduklah di sebelahku, berlian suci, tuangkan minuman untukku. Jangan tegang dan kaku begitu, tenang saja, kupastikan kamu kuperlakukan selembut sutera di tempat tidur nanti,” ujar si pria yang dipanggil Daddy bos itu.
Gelak tawa si pria hidung belang kian meledak senang begitu Khalisa yang menyeret kaki gemetarannya menuruti permintaannya. Langsung disergap rangkul erat, menarik Tya juga Khalisa supaya merapat mengapitnya. Dia kemudian memberi titah pada salah satu pria berbaju hitam untuk menyambungkan telepon ke nomor Jordan di sela-sela menenggak minumannya, hendak bernegosiasi tentang deal harga untuk barang baru yang biasanya dibanderol spesial, seperti biasa.
[“Jadi, berapa banderol yang kau pasang untuk si berlian sucimu ini juga Tya, Jordan? Aku yang akan mencicipi debut perdananya.”]
[“100 juta, karena dia barang baru spesial.”]
[“Baik, tapi karena aku belum tahu performanya, aku akan membayar separuh dulu. Setelah kucoba malam ini dan terbukti dia bagus, aku akan membayar sisanya besok ditambah bonus tip sepuluh persen.”]
[“Oke, deal!”]
“Dua ratus juta!”
Suara lantang maskulin dari arah punggung mereka mengalihkan perhatian tak terkecuali Khalisa. Bersumber dari seorang pria perlente yang sedang duduk sendiri di sofa belakang mereka dalam posisi memunggungi. Dengan perlahan namun pasti, pria itu berdiri, lalu membalikkan badan.
Khalisa terkesiap, terkejut bukan main, refleks menahan napas untuk sepersekian detik saat melihat dengan jelas siapa sosok yang mengajukan penawaran untuknya.
“Saya akan bayar dua kali lipat dari banderol yang dipasang. Dua ratus juta di muka, sekarang juga untuk dia!” Yudhis mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa, dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Bersambung
.