
Bab 26. Ada Apa Denganku?
“Makasih ya, sudah memenuhi undangan makan malam di rumahku. Aloisa terus merengek ingin mengundang kamu, Farhana juga yang lainnya datang makan malam di sini. Ingin memamerkan hasil kursus memasaknya yang baru dijalani satu bulan lamanya. Lebih tepatnya, kalian dijadikan kelinci percobaan oleh istriku,” Ghaisan berkata setengah berbisik ketika istrinya pergi ke dapur mengambil sepoci teh herbal untuk dinikmati bersama. Ghaisan dan Aloisa baru menikah tiga bulan lalu, sedang hangat-hangatnya.
Aloisa Megara Wisesa, si dokter kulit yang dulu berpenampilan tomboi itu, saat ini sedang giat belajar menjadi muslimah salihah setelah berstatus istri dari Ghaisan. Ghaisan si pak polisi muda yang dikenal jujur dan taat agama sejak Yudhistira mengenalnya di asrama sekolah internasionalnya dulu, ketika sama-sama menimba ilmu di bangku sekolah menengah atas di salah satu sekolah bergengsi Ibukota. Dari Ghaisan lah, Yudhistira banyak belajar memperdalam ilmu agama, hingga mereka menjadi sahabat karib sampai sekarang.
“Tapi jujur saja, pelecing kangkungnya keasinan.” Yudhistira balas berbisik, tergelak kecil bersama sebelum ketahuan si empu yang dijadikan topik pembicaraan.
“Kalian bisik-bisik apaan? Mencurigakan.” Aloisa yang kembali muncul memicing galak. Seperti biasa, terkadang lupa akan kebar-barannya, padahal ia sudah berjanji untuk menjadi sosok istri yang lebih lemah lembut di bawah arahan Farhana.
“Iya nih, Bang Yudhis juga ngapain bisik-bisik sama Pak AKP. Ingat ya, Pak AKP itu sudah ada yang punya. Nanti ditonjok Dokter Loi baru tahu rasa.” Seorang gadis imut berkerudung hitam ikut menimpali sembari cekikikan diikuti Farhana. Farhana adalah sepupu Ghaisan yang berprofesi sebagai guru mata pelajaran pendidikan agama di sebuah SMA.
Nama gadis imut itu adalah Syafa, adik dari Farhana. Sering berbasa-basi tersirat akan ketertarikannya pada Yudhistira. Mereka sudah saling kenal sejak Yudhis memutuskan meniti karir di bumi Parahyangan. Yudhis tak pernah menanggapinya serius, hanya menganggapnya adik saja.
“Enak saja, aku masih normal!” Yudhistira berjingkat menjauhi Ghaisan, mengundang riuh gelak tawa penuh kehangatan di sana.
“Dokter hatiku, tidak boleh suudzon,” tukas Ghaisan lembut pada Aloisa, menggeser duduknya mendekati istrinya. Ghaisan merupakan pribadi tegas di luaran, terlebih profesinya adalah polisi. Namun, saat sedang bersama istrinya dia merupakan sosok yang lemah lembut, tak sungkan membujuk dan merayu Aloisa kelewat manis, yang terkadang membuat sekitar ikut merona dan meringis.
“Tapi muka Mas mimiknya kayak jemuran enggak kering, bau apek,” protes Aloisa, memajukan bibirnya beberapa senti.
“Jangan monyong begitu. Jilbabnya jadi ikutan miring,” Ghaisan merapikan jilbab sang istri, mencairkan tekuk wajah Aloisa yang tadi masam menjadi tersipu.
“Oh iya, menurut kalian, gimana masakanku tadi? Aku minta riview jujur ya!” tuntutnya. “Soalnya kalau tanya suamiku enggak bisa dipercaya, selalu bilang semuanya enak, bahkan teh manis yang salah aku kasih garam pun dia bilang enak.”
Mau tak mau semuanya memilih memberi ulasan jujur sesuai permintaan daripada wawancara sepanjang jalan kenangan yang lebih mirip interogasi ini tak kunjung usai. Obrolan mereka mengikis waktu hingga larut. Tak terasa penunjuk waktu sudah mengarah ke angka sepuluh.
Yudhistira bersiap pulang, menuju garasi rumah Ghaisan diantar si tuan rumah juga Syafa yang ikut mengekori.
“Ck, mentang-mentang sudah punya istri!” Yudhis berdecak malas.
“Ayo dong, Bang Yudhis juga buruan nikah, biar enggak diledekin terus sama Bang Ghaisan. Yang naksir padahal banyak, menanti disahkan. Cuma sayangnya dianggurin terus. Termasuk aku.” Syafa yang mengekori menyela pembicaraan. Nada penuh minatnya terdengar nyaring.
“Hei, anak kecil jangan mikirin nikah dulu. Fokus belajar yang benar. Supaya IPK enggak jeblok,” sahut Yudhistira terkekeh geli, kemudian mengucap salam dan melesat pergi dari sana, meninggalkan Syafa yang mengerucutkan bibirnya sebal.
“Ish, aku bukan anak kecil!” kesalnya.
Ruas Jalanan Kota Bandung malam ini cukup padat. Yudhistira memacu mobil hitamnya dalam kecepatan sedang. Rintik gerimis mulai turun, mendarat lembut membasahi kaca depan. Wiver dihidupkan, bergerak selaras menunaikan tugasnya menepikan air yang menghalangi pandangan.
Melintasi alun-alun kota, kaki kanannya yang menginjak lembut pedal gas berangsur memelan tanpa disuruh. Menghentikan mobilnya sekitar lima meter jauhnya dari jarak area drive thru restoran siap saji yang sering dikunjunginya itu.
“Kenapa aku teringat terus sama bocah berpipi gembul yang bernama Afkar itu setiap kali melintas di sini? Kalau kubelikan mainan dan kukirim ke rumahnya, malah khawatir orang tua dari anak itu tersinggung,” ujarnya bimbang sendiri.
Bergelut sejenak dengan pikirannya. Yudhistira berusaha mengenyahkan kepedulian berlanjut yang datang tak diundang itu. kembali fokus pada tujuannya untuk pulang, supaya bisa segera sampai di rumah, ingin mengistirahatkan daksa lelahnya.
Kendaraan kembali dipacu, ditambah kecepatannya setelah mengamati arus lancar juga lebih lengang dari sebelumnya. Namun, saat matanya sekilas seperti menangkap sosok ibu dari anak kecil yang akhir-akhir ini sering berputar-putar di kepalanya, rem diinjak mendadak. Nyaris saja Yudhis menabrak trotoar.
Menengok ke belakang, mengamati titik di mana tadi dia seperti melihat ibu si bocah. Yakni di sekitaran jejeran pohon palem yang mempercantik sisi jalanan. Mengerutkan dahi kala tidak mendapati siapapun di sana. Yudhis mengusap wajahnya kasar, menyandarkan kepalanya. Menyadari dirinya pasti hanya salah melihat, imbas dari terus teringat pada dua orang yang pernah diantarkannya pulang.
“Ada apa denganku? Kenapa sosok ibu dan anak itu terus mengganggu pikiranku?”
Bersambung.
Ayo lho, Bang Yudhis kenapa lho eh 😳?