
Bab 154. Garda Terdepan
Seharian ini hingga malam menjelang, televisi di rumah Yudhis dipilih channelnya oleh Khalisa, hanya memilih yang siarannya menayangkan acara khusus anak-anak.
Khalisa masih syok dengan ditetapkannya Dion sebagai tersangka. Bukan karena cemas pada mantan suaminya, melainkan lebih pada bersedih untuk putranya Afkar, hatinya nelangsa mengingat Afkar memiliki ayah biologis seorang kriminal.
Afkar mungkin belum begitu paham duduk permasalahannya, tetapi Khalisa tidak ingin anaknya sampai melihat foto ayahnya wara-wiri di siaran berita lalu bertanya kenapa padanya. Kendati setelah kembalinya Afkar ke pelukannya, satu kalipun Afkar tak pernah menanyakan maupun membahas tentang Dion.
Terbungkus keheningan malam larut, Khalisa masih tak dapat memejamkan mata. Menarik dan membuang napas, ia membalikkan posisi berbaringnya membelakangi Yudhis. Mencari posisi ternyaman yang mungkin dapat menghantarkannya pada rasa kantuk. Berbanding kontras dengan Yudhis yang sudah terbuai lelap sejak dua jam yang lalu.
Isi kepalanya seolah berlarian ke sana kemari, melelahkan. Memikirkan bagaimana nantinya andai Afkar mengetahui Dion adalah penjahat yang ikut terlibat pembunuhan. Dengan kata lain, ayahnya adalah pembunuh.
Sebuah lengan kekar menelusup membelai perut kemudian mendekapnnya, disusul Kecupan di pundaknya. Pergerakan resah Khalisa di tempat tidur ternyata mengundang Yudhis terjaga.
"Ada apa, hmm? Enggak bisa tidur? Ada yang enggak nyaman? Apa dedeknya nyusahin Bunda?" tanya Yudhis serak dengan mata terpejam.
"Maaf, Abang jadi kebangun gara-gara aku." Khalisa mengelus lengan Yudhis yang memerangkapnya, menerima dengan senang hati dekapan sayang yang dicurahkan. Merapatkan punggungnya pada kehangatan yang ditawarkan.
"Sebetulnya, kalau berdekatan begini bukan cuma aku yang bangun. Tapi Yudhis yang lain diperkirakan ingin ikut bangun juga," kekeh Yudhis terbalut canda, dan tawa kecilnya menular pada Khalisa.
"Sedang memikirkan apa? Ibu hamil enggak boleh terlalu banyak hal yang dipikirkan, kurang baik efeknya bagi ibu dan bayi."
"Afkar? Kenapa dengan Afkar? Apakah ada kaitannya dengan perihal Afkar yang belum mau disunat? Kalau tentang hal itu tenang saja. Erlangga baru rela bersedia disunat saat usia menjelang sekolah TK. Masih banyak waktu."
Khalisa menggelengkan kepala. "Bukan itu, Bang. Tapi, aku bersedih untuk anakku karena memiliki ayah kandung seorang penjahat, otak dalang sebuah kasus pembunuhan. Aku takut akan tumbuh kembang anakku juga lingkup pergaulannya tersandung hal ini, khawatir penghakiman sekitar terlontar pada anakku nantinya, seperti halnya penghakiman orang-orang yang disematkan padaku sebab asal usulku," desah Khalisa lirih, penuh kecemasan seorang ibu pada anaknya.
"Aku tahu bagaimana rasanya dihakimi demikian," imbuh Yudhis, mengeratkan pelukan. "Aku memang bukan ayah kandung Afkar, dan aku tahu posisiku tentu berbeda porsinya bagi Afkar. Tapi, aku akan melindunginya di garda terdepan. Tidak akan kubiarkan siapapun menyakiti anakku. Seperti Mami dan Papi dulu yang selalu berdiri tangguh untukku walaupun aku bukan anak kandung."
Khalisa membalik posisi, menyurukkan kepala di dada Yudhis, menguntai haru yang bergems dalam kalbu, bersyukur begitu lantang mendengar kasih sayang Yudhis untuk putranya.
"Makasih, Bang. Makasih selalu menguatkanku di saat-saat rapuhku," ucapnya serak."
Yudhis menghujani ubun-ubun Khalisa dengan kecupan sayang, menenangkan.
"Tapi, apakah Afkar akan bisa tumbuh sekuat Abang? Akankah aku mampu menjadi ibu yang membentuk karakter anakku kuat menghadapi kehidupan yang kadang kala sering tak ramah?"
"Kamu pasti bisa, Khalisa. Kita lakukan bersama. Anak kecil itu suci, seputih kertas, tergantung bagaimana kita sebagai orang tua mewarnainya. Asalkan kita berupaya menjadi orang tua yang membimbing sepenuh hati, mendidik maksimal dan memberi pengertian, aku yakin Afkar akan tumbuh dengan baik dan hal miring di sisi lain dirinya tidak akan menggoyahkannya."
Bersambung.