Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Kecup Mesra


Bab 108. Kecup Mesra


Malu.


Itulah yang melanda Khalisa semenjak mobil melaju meninggalkan parkiran klinik kecantikan milik Aloisa. Khalisa membuang pandangan ke luar jendela, menghindari duduk lurus apalagi bertukar kata maupun pandang dengan Yudhis.


Dasar norak. Kenapa sekarang aku jadi begini sih? Padahal dulu perasaan enggak bar-bar gini? Ketularan apa pula aku ini? Duh malunya sama Bang Yudhis, sungut Khalisa dalam hati.


Hatinya yang belum sembuh benar, masih belum cakap menelaah geliat panas yang mendadak menyeruak saat melihat pemandangan terasa tak menyenangkan di ruang tunggu klinik tadi.


Di jok kemudi, Yudhis terus saja merekahkan senyum, semerekah hatinya yang berbunga-bunga. Khalisa memang pernah berumah tangga, tetapi di usianya yang bahkan jika dibandingkan dengan Syafa hampir sebaya, pastilah masih memiliki sisi kekanak-kanakan ketika mengekspresikan rasa tak suka dan Yudhis memaklumi itu, malah menurutnya Khalisa yang mendadak galak amat lucu menggemaskan, tak kalah lucu dari celotehan Afkar.


Mungkin reaksi Khalisa norak menurut orang lain, lain halnya bagi Yudhis yang justru bersyukur. Khalisa mendadak nyolot bin sewot melihat dirinya didekati si gatal Gladys saat di klinik tadi, mengindikasikan bahwa Khalisa pun sebetulnya memiliki rasa yang sama untuknya, membuat Yudhis tak mampu membendung luapan rasa senang di hatinya. Kendati mungkin porsinya belum sebesar getar cintanya pun tak mengapa, dia akan menunggu dengan sabar sampai si bunga pujaan yang pernah terluka dan kecewa ini membuka diri, mencoba memahami Khalisa yang sepertinya masih enggan mengakui, entah karena malu, takut, atau belum menyadari perasaannya sendiri.


“Tadi Papi kirim foto Afkar.” Yudhis memecah keheningan yang membentang.


“Mana? Aku mau lihat,” sambar Khalisa cepat. Ia yang sedari tadi menghindari berinteraksi dengan Yudhis, sekarang malah menoleh langsung, bahkan menyentuh lengan Yudhis dan menggoyangkannya.


“Tuh, di ponselku. Dikirim lewat Whatsapp.” Yudhis mengedikkan dagunya pada ponsel yang ditaruh di dekat tape mobil.


“Bolehkan aku buka ponsel Abang?” Meski ingin segera melihat foto si buah hati, Khalisa tak lupa untuk meminta izin.


“Buka saja, kita ini suami istri. Kamu boleh membuka ponselku sesukamu seperti kamu membiarkanku membuka handphonemu juga. Ponselku bebas kamu lihat isinya kapan saja, silakan, dengan senang hati. Karena kamu adalah istriku.” Lagi, Yudhis mengulang kata suami istri entah sudah yang ke berapa kali di hari ini, seolah sedang berusaha intens mengingatkan Khalisa secara halus akan status mereka sekarang.


Khalisa mengambil ponsel Yudhis meski agak sungkan. Membuka aplikasi berkirim pesan.


“Buka pesan yang dikirimkan kontak bernama Papi.” Yudhis langsung paham ketika Khalisa mengerjapkan mata seperti hendak bertanya lagi.


“Iya, Bang.”


Penuh sukacita Khalisa melihat-lihat foto si buah hati yang sedang bermain di pantai. Sekitar sepuluh foto yang dikirimkan. Ada Afkar yang sedang berlarian ceria di pinggir pantai tanpa alas kaki, ada Afkar yang sedang digendong di pundak Barata sedang tertawa lebar, ada pula yang sedang bermain pasir dan air. Buah hatinya tampak riang dan cerah, hatinya terharu juga gembira.


“Afkar kelihatan suka sekali bermain di pantai, dia belum pernah ke pantai sebelumnya,” gumam Khalisa, secara impulsif mencium foto Afkar penuh sayang sepenuh jiwa.


Pesan teks di bagian akhir foto yang sempat Khalisa abaikan karena terus terfokus pada foto-foto Afkar, tanpa disuruh manik matanya mengeja dan membaca pesan teks tersebut. pesan terselubung modus Barata pada Yudhis mengatasnamakan Afkar.


Beragam pertanyaan bermunculan setelah membaca pesan tersebut, ditambah cerocosan panjang lebar Aloisa ikut merecoki. Bercampur baur di benak Khalisa, terutama tentang kalimat Aloisa sesaat sebelum treatment wajah disudahi.


Meskipun mungkin pada awalnya Bang Yudhis mengusulkan pernikahan berkaitan dengan kepentingan hak asuh Afkar, tapi coba kamu pikir dengan akal sehat. Pengacara mana yang repot-repot rela menikahi kliennya secara sah menurut agama dan diakui negara hanya demi membantu? Kalau tidak ada rasa spesial terlibat di dalamnya, rasanya mustahil bukan? Dan tidak mungkin orang tuanya main setuju saja sedangkan pernikahan bukanlah sebuah permainan.


Di tengah kecamuk pikirannya, Khalisa teringat suatu hal penting yang tiba-tiba terlintas. “Bang, duh gimana ya ngomongnya.”


“Ada apa, Khal? Ngomong saja.”


“Begini, Bang. Ini tentang kontrol kesehatan Afkar, seharusnya besok Afkar kontrol rawat jalan ke rumah sakit, sesuai yang dianjurkan dokter anak.” Khalisa bertanya khawatir sekarang.


Yudhis menoleh, membelai kepala Khalisa sekilas. “Tenang saja. Aku sudah meminta Mami dan Papi untuk kontrol rawat jalan Afkar ke dokter anak di Bali. Mami punya beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter dan salah satunya dokter anak kondang di Pulau Dewata. Aku juga sudah mengirimkan riwayat kesehatan Afkar yang kuminta dari dokter anak di Satya Medika. Tadi sebelum menjemputmu ke klinik, aku ke RS Satya Medika, menjelaskan perihal Afkar yang sedang tidak berada di Bandung. Dengan alasan keamanan selama masa-masa persidangan yang masih berlanjut ini, aku bilang pada dokter bahwa Afkar sengaja dibawa ke rumah orang tuaku di Bali, jauh dari sini. Aku juga melampirkan surat resmi dari pengadilan tentang kasusmu, sehingga akhirnya dokter bersedia memberikan salinan rekam medis untuk diberikan pada dokter anak kenalan mami di Bali yang kebetulan ternyata saling mengenal.”


Khalisa dibuat tak bisa berkata-kata. Yudhis sudah berbuat banyak demikian detail untuknya juga Afkar tanpa diminta. Matanya tak bisa untuk tidak berkaca-kaca sebab terharu. Khalisa meraba diri sendiri, bertanya pada sanubari, sudahkah dirinya berbuat hal besar untuk Yudhis seperti halnya Yudhis berbuat banyak untuknya?


Tiba di rumah, Khalisa langsung menuju ke dapur. Dalam rangka luapan syukurnya atas perhatian Yudhis yang begitu besar untuknya juga Afkar, Khalisa memutuskan membuat makan malam spesial. Di sisa perjalanan pulang tadi, Khalisa bertukar pesan dengan Maharani, bertanya tentang makan kesukaan Yudhis yang lainnya selain Sandwich Ayam. Dan dari beberapa makanan yang disebutkan Maharani dalam balasan pesan, Khalisa memutuskan memasak ayam betutu.


“Kamu mau ngapain, Khal?”


“Mau masak makan malam, Bang?” jawabnya sembari mengeluarkan bahan-bahan masakan dari dalam kulkas.


“Kita pesan delivery saja, kamu pasti capek kan? Lebih baik kamu istirahat.”


Khalisa mengulas senyum cantiknya lebih mengembang dari biasanya, membingkai wajah ayunya yang semakin bersinar dan glowing setelah perawatan, membuat Yudhis makin memuja, sesak napas melihat parasnya.


Khalisa menghampiri Yudhis yang berdiri di dekat meja makan. “Pokoknya aku mau masak sendiri. Enggak capek kok. Mau buat menu spesial buat Abang. Abang mandilah, pasti capek kan banyak ke sana kemari? Sedangkan aku di klinik tadi puas beristirahat saat perawatan.”


“Baiklah, semoga hidangan spesialnya lebih dari sekadar spesial,” godanya yang kemudian seperti biasa mencuri kecupan di pipi Khalisa. Tak disangka kali ini Khalisa berjinjit, balas mengecup mesra pipinya juga menjadikan Yudhis membeku seketika.


“Makasih, atas perhatian Abang buat Afkar juga aku,” cicitnya yang merona malu, dan setelahnya buru-buru kembali ke meja kabinet dapur, menunduk fokus menyiangi bahan makanan untuk dimasak ditemani degup jantung berdetak menggila.


Bersambung.