
Bab 149. Bumerang
Dokter yang ikut kebingungan mencoba memaklumi. Mungkin ayahnya bayi Riri sedang dilanda kepanikan akan kondisi parah anaknya sehingga ucapannya melantur.
“Anda sepertinya sedang panik juga lelah. Biar saya jelaskan lagi. Bayi Riri tidak terlahir dalam kondisi usia kandungan prematur, dia terlahir cukup bulan, bergolongan darah B. Pak, Anda harus tetap kuat, saya tahu kondisi sakit anak Anda memang tidak sederhana, tapi yang penting kita terus berusaha. Saya sarankan sebaiknya Anda ikut dengan perawat untuk prosedur pendonoran darah, jangan membuang waktu.”
Dion semakin linglung mencerna kalimat demi kalimat susulan yang terlontar dari mulut dokter. Dunianya terasa berputar-putar, Bumi yang dipijaknya seolah bergoyang. Dion tidak bodoh, keterangan dokter menggaungkan alarm instingnya, menginterupsi akal sehatnya yang berhibernasi, terlena limpahan harta.
Riri tidak terlahir kurang bulan seperti keterangan Amanda, ditambah lagi golongan darah Riri tidak cocok dengannya dan Amanda diketahui bergolongan darah A pula, bukankah sudah jelas bermuara pada kesimpulan seperti apa? Sangat terang benderang bahwa dirinya sudah ditipu dan dibohongi selama ini.
Dion memang haus disanjung dan dipuji. Ingin berlimpah harta juga menduduki jabatan tinggi secara instan. Tidak peduli jalannya salah sekalipun. Dipupuk recokan tak sehat orang terdekat juga sekitar ibarat bensin yang membuat buta mata hatinya semakin menjadi. Padahal, keluarga yang dianggapnya paling memahaminya, sama-sama memanfaatkan rupa serta kecakapannya. Menumbalkannya, supaya bisa menambang rupiah tanpa harus bersusah payah.
Demi meraih ambisi, Dion bahkan tak sungkan bermain madu dan racun di belakang punggung Khalisa, istrinya kala itu, menyia-nyiakan yang tulus menyayanginya apa adanya.
Amanda mengandung benihnya meski dibuahi di luar pernikahan kala itu, dianggapnya anugerah yang dapat lebih cepat memuluskan ambisinya. Dengan tega membuang peduli pada darah dagingnya yang telah lebih dulu hadir. Lagi pula, selain bisa bergelimang harta, dia merasa akan memiliki darah daging lainnya yang bisa mengangkat harkat dan martabatnya, bukan seperti Afkar yang terlahir dari Khalisa yang dianggap hina.
Hanya saja rasa cinta pada Khalisa yang berusaha dikuburnya paksa di dasar hati sebab lebih cinta puja puji duniawi, berbalik menjadi racun untuknya sendiri setelah semua lepas dari genggaman. Mengobarkan nafsu setannya dengan menjadikan Afkar sebagai sandera. Mendadak tak rela Khalisa terlepas dari kendalinya, padahal selama ini sudah disia-siakan juga dikhianati. Ingin tetap menguasai Khalisa, tetapi juga tetap ingin menguasai dan menunggangi harta kekayaan Amanda. Keserakahan tiada tara.
Benar, Dion suka harta dan kekuasaan. Namun, jika dirinya benar hanya dimanfaatkan terkena getah bening orang lain, hal itu melukai egonya sebagai laki-laki. Menyembah pada Amanda demi kemewahan dan kekuasaan masih bisa dilakukannya. Akan tetapi, jika ditipu perihal keturunan, laki-laki manapun entah yang bejat terlebih yang baik-baik, pasti tidak sudi menerima diperlakukan demikian.
Tanpa dikomando kakinya melangkah lebar, tak mengindahkan permintaan perawat yang memintanya ikut serta untuk melakukan prosedur donor darah. Dia mencari-cari keberadaan Amanda, ingin mencecar langsung, tak peduli mungkin posisinya kekuasaannya terancam, karena saat ini pikirannya diliputi amarah membara.
“Mami tenang saja. mulai besok, mas Dion enggak akan kuberi kuasa penuh lagi dalam hal keuangan, semua rekeningnya akan berada di bawah kendaliku lagi.”
“Oke. Masalah keuangan bisa diatasi. Tapi sampai kapan? Sampai kapan kamu akan tetap menggenggam Dion, Manda? Masih banyak laki-laki lain di luar sana yang lebih mumpuni dari Dion.”
“Hhh. Kenapa Mami cerewet banget sih? Kayak enggak tahu saja aku ini gimana. Ya sampai aku bosan lah. Mami pasti tahu, kalau sudah bosan, seperti apa yang kulakukan pada mainanku. Yaitu membuangnya ke tempat sampah. Dia itu cuma ibarat mainan kesayanganku untuk saat ini. Selain untuk menutupi aib akan kenyataan siapa ayah kandung Riri, Mas Dion masih menjadi kandidat utama yang bisa dengan bangga kupamerkan sebagai pasanganku. Juga enggak payah di ranjang, enggak kayak pacarku dulu. aku ini wanita dewasa yang butuh kepuasan. Memangnya Mami enggak begitu? Aku tahu alasan Mami memelihara berondong. Aku enggak bodoh!”
“Jadi benar, Riri bukan anakku?” Suara Dion yang mendadak memenuhi telinga Amanda membuatnya terkesiap. Entah sejak kapan, Dion ternyata sudah berada di belakang punggung mereka.
“M-Mas Dion.” Amanda gelagapan, sedangkan Kinara memilih bersedekap.
“Kamu, cuma memanfaatkanku, benar?” Dion tertawa sumbang, menertawakan dirinya sendiri. Dia menelantarkan Afkar dan lebih memihak Riri, dia juga memerintahkan orang untuk menyingkirkan janin Gladys yang jelas merupakan darah dagingnya sendiri. Melakukan hal tak beradab pada anak-anak kandungnya demi Amanda dan Riri, dan kini dia disuguhi hadiah pahit, yang paling dibela dan dibanggakan, ternyata bukan anaknya, selain demi harta dan kekuasaan tentu saja.
Amanda yang semula gelagapan, kini berkacak pinggang.
“Memangnya kenapa kalau benar? Ya, Riri bukan anak kandungmu! Bukankah Mas juga hanya memanfaatkan kekayaanku untuk bersenang-senang dan pamer pada orang-orang? Mas itu serakah dan haus harta, akui saja! Juga, Mas pikir aku tidak tahu, Mas masih terus saja mengejar Mbak Khalisa setelah menceraikannya, menyalahgunakan kekayaanku. Mas bersenang-senang dengan sekretaris murahan itu dan memberinya uang yang tentu saja semua uang yang Mas pakai adalah uangku!”
"Jadi selama ini kamu membohongiku?" tuntut Dion dengan sudut bibir berkedut.
"Kenapa, keberatan? Jangan jadi naif. Naif sama sekali enggak cocok sama kamu Mas! Jangan sok suci!"
“Dan kamu hanya menganggapku barang yang bisa dipamerkan juga hanya menganggapku sebagai gigolo? Begitu? Aku ini suamimu!” sambar Dion penuh emosi, menyedihkan. Tak lagi terkejut pada boroknya yang menggarap lahan si sekretaris ternyata sudah diketahui Amanda. Lantaran dirinya justru dibuat lebih terkaget-kaget dengan kenyang yang baru saja didengarnya.
“Ya, statusmu memang suamiku di buku nikah. Tapi tentu saja Mas harus tahu diri, siapa yang lebih berkuasa di sini! Bukankah kita sama saja? Jangan sok paling merasa dimanfaatkan! Jangan berulah dan banyak mengatur kalau enggak mau jadi gembel!”
“Bu Amanda, Dokter sedang mencari-cari Anda. Bayi Riri kirits!” Seorang perawat yang ngos-ngosan memecah ketegangan. Amanda langsung ikut bersama perawat begitu pula Kinara. Sedangkan Dion mematung di taman rumah sakit, ditinggalkan sendiri, menatap kosong pada gulita.
Dion pernah membohongi Khalisa sekian lama, bahkan tak merasa berdosa membiarkan Khalisa menderita saat masih berstatus istrinya. Kini, kebohongannya dulu menggeliat, berbalik bak bumerang, meluluh lantakkannya. Sekarang justru dirinya yang telah dibohongi habis-habisan. Tak pernah dianggap punya harga diri sebagai pria maupun suami, hanya dianggap seonggok barang yang bisa dimainkan sesuka hati. Tak dianggap berperasaan, sebagaimana dulu Khalisa diperlakukannya demikian.
Sementara di tempat lain Gladys sedang meregang nyawa. Mengalami pendarahan hebat setelah janin tak berdosa di rahimnya dikeluarkan paksa.
Bersambung.