
Bab 41. Black Paradise
Empat orang bunga malam asuhan Jordan termasuk Tya, didampingi dua orang preman kacung-kacung Jordan, bertolak dari markas menuju kafe yang dimaksud Tya, yakni Kafe Black Paradise. Sengaja Tya menempatkan Khalisa di jok paling belakang, disusul dirinya yang ikut duduk di sebelah Khalisa.
Khalisa memilih membuang pandangan ke luar jendela, menghindari bertukar kata dengan Tya. Tya menatap punggung rapuh Khalisa dengan perasaan berat, masih berharap Khalisa membatalkan tekad kuatnya.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya kenapa Tya begitu sayang pada Khalisa. Setiap melihat Khalisa, Tya selalu teringat kembali pada momen masa remajanya dulu. Khalisa kecil pernah pasang badan untuknya dari kemarahan Ibu Sera si pemilik panti, membelanya ketika Tya yang sedang sakit dan kelelahan karena dituntut mengerjakan banyak hal juga diharuskan membantu memasak di dapur, tak sengaja menumpahkan sepanci sayur untuk lauk makan anak panti.
Khalisa mengatakan pada Bu Sera bahwa dirinya lah pelaku yang menumpahkan sayur, agar Tya yang sedang tak sehat terhindar dari hukuman. Bahkan setelah menanggung hukuman mengepel seluruh lantai panti, Khalisa kecil menyempatkan datang ke kamar Tya, membawa semangkuk biskuit murah yang diseduh air hangat, menyuapinya yang sedang terkapar sakit.
“Khal, ka_”
“Sudahlah, Mbak.” Potong Khalisa cepat, memangkas ucapan yang hendak keluar dari mulut Tya. “Gak usah capek-capek membujukku.”
“Aku janji ini yang terakhir kali,” balas Tya pelan setengah berbisik. “Tolong, dengarkan ucapanku baik-baik. Khal, coba kamu pikirkan, bagaimana andai di masa depan anakmu tahu ibunya melumuri diri dengan lumpur dosa demi bisa memeluknya lagi? Walaupun kenekatanmu ini adalah untuk memperjuangkannya, apa kamu yakin dia akan baik-baik saja mengetahui hal ini nantinya?”
Suasana lengang disertai aura remang-remang terbalut kemewahan menyambut Yudhis dan rekan ketika melangkah masuk ke area lebih dalam di kafe Black Paradise yang sarat akan privasi itu. Musik jazz berpadu lirik lagu mengalun lembut di sudut ruangan. Sofa-sofa juga kursi-berdesain estetik ditata berkelompok, mengusung tema warna tanah dan kayu-kayuan mendominasi. Lampu-lampu kristal Chandelier menggantung semarak di langit-langit tinggi, kemudian di sayap kanan terdapat meja bar memanjang dengan kursi-kursi tinggi berjejer di depannya.
Si klien melambai begitu melihat kedatangan mereka, mempersilakan duduk pada jejeran kursi-kursi tinggi di sana. “Maaf karena saya mempersilakan Anda semua duduk di area ini, kebetulan saya bertugas di sini, di bagian bar bersama bartender.”
“Sama sekali tidak masalah,” jawab Yudis tetap sopan sebelum mendaratkan pinggul pada kursi bar disusul Erika juga Raja.
“Pak Yudhistira dan rekan mau minum apa? Saya ingin menjamu, atas kesediaan Anda sekalian datang ke sini sesuai dengan permohonan saya. Bagaimana kalau Cocktail?”
Yudhis mengulas senyum sekilas dan menjawab tegas dengan tetap menjaga etika. “Maaf sekali, bukannya tidak menghargai, tapi kebetulan saya tidak minum minuman yang dicampur alkohol.”
Si klien wanita itu mengangguk paham. “Bagaimana dengan jus buah-buahan?” tawarnya lagi.
“Boleh, jus jeruk saja,” tukas Yudhis yang disetujui oleh Raja juga Erika. “Biar saya yang membayar, jangan sungkan dan repot-repot menjamu. Simpan saja uangnya untuk anak-anak Anda juga untuk membeli obat ibu Anda.”
Obrolan serius pun berlangsung. Sesekali terjeda oleh pelanggan yang memesan minuman. Sisa berkas pelengkap diserahkan. Namun, di tengah-tengah Yudhis sedang memeriksa isi map yang diberikan si klien, fokusnya terganggu oleh aroma parfum menyengat yang mendadak memenuhi indra penciuman, disusul bunyi nyaring alas stiletto yang terdengar lumayan ramai.
Mengangkat pandangan dari kertas di tangan, Yudhis yang penasaran dengan atmosfer mengganggu itu mencari sumber datangnya aroma kuat juga bunyi-bunyi hak sepatu tinggi yang mengetuk lantai.
Dari arah pintu lapis kedua yang menjadi sekat pembatas antara area kafe terbuka dengan area dalam yang lebih tertutup, empat orang wanita berpakaian kurang bahan masuk ke sana. Berlenggak-lenggok nakal. Bahkan yang dua orang berjalan paling depan, mengedip genit pada Yudhis dari kejauhan sebelum mereka menuju sofa melingkar yang terdapat di pojok ruangan, di bagian yang paling minim pencahayaannya.
“Ternyata ini memang kafe remang-remang hanya saja tidak kentara. Ghaisan harus tahu ini, sepertinya di sini sering terjadi praktik prostitusi terselubung,” gumam Yudhis sembari geleng-geleng kepala.
Saat hendak kembali fokus pada diskusinya dengan Erika juga Raja, Yudhis urung melakukannya. Kedua matanya kini malah memicing memaku pada sosok yang berjalan paling belakang, yang juga datang bersama dengan para wanita genit tadi. Jikalau bahasa tubuh wanita lainnya berlenggok nakal sembari menebar senyum mengundang sy*hwat yang sengaja diumbar, yang satu ini tidak demikian. Berjalan kaku dengan raut tegang, dan sebagai laki-laki Yudhis harus mengakui, meski yang belakang ini tak mengumbar senyum, parasnya memang yang paling cantik jelita di antara yang lainnya.
Namun, lama kelamaan dia merasa terganggu, diamati lebih lama, Yudhis merasa familiar dengan sosok itu. “Siapa dia? Kenapa aku merasa pernah bertemu dengannya? Tapi di mana?”
Memutar rekaman dalam ingatan dengan keras untuk sejenak, Yudhis nyaris terlonjak dari kursinya, netranya membola terkesiap begitu isi kepalanya dapat mengingat dengan benar.
“Khalisa?”
Bersambung.