Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Putus Ikatan


Bab 23. Putus Ikatan


Dion tak peduli dengan Khalisa yang mengaduh kesakitan. Terus memaksa menarik lengan rapuh Khalisa dan begitu sampai di gudang dia mendorongnya masuk hingga terjerembap ke lantai.


“Dari mana kamu punya uang buat beli baju baru? Katakan dari mana!” desak Dion penuh marah.


“Kalau kubilang aku bekerja untuk mendapatkan baju ini apa Mas percaya? Seharusnya Mas malu, hanya untuk sepotong daster saja aku harus bekerja susah payah untuk mendapatkannya, aku bahkan harus mengiba pada ibu demi membeli jajanan untuk Afkar anak kita. Karena suamiku juga ayah anakku sudah tak lagi peduli apakah kebutuhan istri dan anaknya terpenuhi atau tidak. Dan asal Mas tahu, aku gigih mendapatkan sepotong baju ini untuk menyambut kedatanganmu, ingin menyenangkanmu. Tapi balasan Mas sungguh istimewa, semua upaya tulusku dihadiahi madu beracun yang kamu bawa!”


“Pekerjaan macam apa yang kamu maksud huh? Memangnya kamu bisa kerja apa dengan ijazah paket C mu itu, Khalisa? Jangan-jangan kamu memang benar menjual diri!” tuduhnya. “Sejak kapan, huh? Sejak kapan!”


Dion memaksa Khalisa berdiri. Menarik kencang si daster pink yang masih baru itu hingga robek bagian depannya. Mendesak Khalisa hingga punggung kurusnya membentur tembok. Menciumnya brutal dan menggasak pakaian dalamnya juga.


“Mas hentikan!” Khalisa meronta, menolak, melawan sekuat tenaga dengan air mata yang kembali berderai. Melayangkan tinju lemahnya ke segala arah, dalam upayanya melindungi diri.


Hatinya yang sudah dilukai kian sakit luar biasa, kini, Khalisa juga merasa direndahkan oleh pria yang pernah mengucap janji suci untuknya, benar-benar merasa tak lagi dihargai.


“Aku enggak seperti yang Mas tuduhkan! Jangan sentuh aku!” Khalisa meraung marah. Dalam wujudnya yang sudah kusut masai bahkan nyaris urian, ia tak berhenti melawan. Tahu takkan ada yang menolongnya di rumah ini, hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.


Pemberontakan Khalisa yang tak pernah muncul ke permukaan selama ini, mendorong Dion terus melancarkan aksinya lebih intens. Terprovokasi kemarahan, Dion memaksa Khalisa membuka seluruh kain yang melekat di kulitnya, membuat Khalisa merasa dilecehkan oleh suaminya sendiri. Kecewa tak terperi, meringis perih di sanubari.


Plak.


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Dion hingga tertoreh kencang ke samping. Kemurkaannya kian membara, tak pernah menyangka Khalisa yang lugu ternyata berani menamparnya mentah-mentah.


“Jangan bicara sembarangan lagi tentangku Mas! Belum puaskah akan rasa sakit yang terus Mas torehkan di hatiku? Ikatan kiat sudah rusak, kepercayaanmu juga kepercayaanku telah koyak. Enggak ada lagi yang tersisa yang pantas untuk dipertahankan. Bukankah aku sudah enggak ada harganya lagi di matamu saat Mas menyebutku murahan? Jadi sekarang lepaskan saja aku!” teriak Khalisa sembari terisak-isak memeluk dirinya sendiri dalam kondisi compang-camping. Sudah tak sanggup lagi menanggung segala cerca yang kini ditaburi fitnah kejam.


“Baik. Ingat dan dengar ini baik-baik. Hari ini, detik ini, aku Dion Pramadana menceraikanmu Khalisa Suci Kirani! Mulai saat ini, kau bukan lagi istriku!” serunya lantang hingga terdengar ke kamar depan. Menyunggingkan senyuman puas Wulan dan Amanda. Tertawa gembira bersama di atas tangisan perih si sebatang kara.


Bersambung.