Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tersangka


Bab 153. Tersangka


"Pappah, obilnya ada banak. Ngeng ... ngeng."


Afkar melompat-lompat berceloteh riang, mengekori Yudhis masuk ke garasi tertutup di area rumahnya, di mana beberapa mobil mewah bersemayam di sana, sengaja ditutup tak terlalu terexpose. Berbeda dengan jenis yang terlihat di luar, karena di garasi terbuka hanya ada Xpander hitam serta satu motor Nmax saja.


Yudhis berjongkok, meraup Afkar, menggendongnya. Dan seperti biasa tak tahan untuk tidak mengecupi gemas pipi Afkar yang semakin gembul. Bukan hanya Afkar yang membuatnya terus ingin menciumi, tetapi bundanya juga, hanya saja tentu berbeda varian kecupan.


"Jagoan Papa makin berat. Mau pakai yang mana buat pergi lihat ikan besar?" tanya Yudhis pada si bocah yang kini sudah dinyatakan seratus persen pulih kesehatannya, dan tidak lama lagi akan menjadi kakak. Berat badan Afkar juga naik pada angka yang seharusnya, si bocah yang sempat kurus memprihatinkan itu kini montok dan ceria.


"Mau naik nang awan," jawab Afkar cadel nan lucu.


"Huh, yang awan? Yang mana?" Yudhis mengerutkan kening, agak kebingungan.


Telunjuk Afkar mengarah pada Peugeot Traveller warna putih yang terparkir paling ujung. Mobil yang ukurannya lebih besar, tetapi bukan jenis super mewah seperti Audi merah yang diparkirkan dekat pembuka folding gate.


"Yang putih itu rupanya, sudah mau jadi kakak, makin pinter aja anak Papa." Yudhis terkekeh yang disambut anggukkan antusias si bocah bermata bulat itu.


"Iya, nang itu, nang walna awan. Obilnya gede, bial Mak Jeje sama Mak Titi ajak yihat itan besal."


"Oh, Jadi Mak Dije sama Mak Wati mau diajak juga?"


Afkar mengangguk-angguk lagi, begitu ceria gembira. "Cama Pappah, Unda, adik bayi, cama tata juga."


"Siapa tata?" imbuh Yudhis kemudian, selalu tertarik dengan kosa kata bahasa balita. Dan mengobrol dengan Afkar menjadi salah satu pelepas penat favorit baginya saat pulang ke rumah.


"Ini tata," ujar Afkar sembari menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Tan ada adik bayi, aku jadi Tata."


"Oh, Afkar jadi Kakak sekarang namanya."


"Af seru bener ngobrolnya, Bunda enggak diajakin." Khalisa pura-pura merajuk pada Afkar membuat Yudhis terkikik geli.


Yudhis menyudahi acara di garasi, merangkul Khalisa masuk ke ruang tengah.


"Makanya, jangan asyik nongkrong terus di depan kolam Ikan Koi, jadinya enggak kebagian jatah ngobrol seru sama kita," goda Yudhis, membuat Khalisa betulan cemberut sekarang. Dan Afkar ikut cekikikan menggoda bundanya.


Mereka bersantai di ruang tengah sembari menunggu makan malam matang. Khalisa jarang terjun ke dapur sekarang. Fase ngidamnya kali ini tak tahan dengan aroma bumbu-bumbu saat dipanaskan, mengundang mual di lambungnya. Lain halnya jika sudah matang, Khalisa tak pilih bulu akan menu yang disajikan.


Afkar melanjutkan bermain mobil-mobilan di lantai yang sudah dialasi karpet empuk, tak jauh dari ruang tengah, masih terlihat jangkauan mata.


Sedangkan Khalisa bersandar manja pada Yudhis di sofa, ingin dielusi punggung, kehamilannya yang sekarang benar-benar manja.


"Punggungku pegal," keluh Khalisa merajuk.


"Iya, iya, Sayang, sini aku usapin," ucap Yudhis mesra, dan paham istrinya yang sedang mengandung buah hatinya ini sedang ingin bermanja.


Yudhis menyalakan televisi sembari tetap mengelusi punggung Khalisa. Memilih channel berita.


Pelaku pembunuhan mayat wanita di Pantai Pangandaran telah terciduk. Dua orang pria dan dua orang wanita. Salah satunya merupakan tenaga kesehatan. Dari interogasi polisi, keterangan salah satu tersangka menyatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut atas perintah bos mereka, yang merupakan dalang dari kejadian ini.


Mereka diperintahkan menggugurkan paksa kehamilan korban yang berujung kematian tragis. Korban sendiri adalah selingkuhan si pemberi perintah. Dan tersangka otak pembunuhan bernama Dion Pramadana ditetapkan sebagai buronan polisi dan sedang dalam pencarian.


Khalisa terkejut hebat saat nama mantan suaminya disebut, bertepatan dengan foto Dion yang terpampang di layar televisi.


Bersambung.