Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Pembawa Berkah


Bab 81. Pembawa Berkah


Maharani resah luar biasa bukanlah tanpa alasan, dia hanya takut, cibiran kerabatnya dulu pada sang anak menjadi nyata, takut Yudhis menorehkan jejak cela seperti ibu kandungnya.


Saat memutuskan mengadopsi Yudhistira dulu, sebagian kerabat di keluarga besarnya maupun Barata, sempat mendendangkan nada-nada sumbang mengingat ibu kandung Yudhistira yakni Masayu, hamil di luar nikah tanpa tahu siapa ayah si bayi. Juga kondisi Masayu sebelum akhirnya berpulang ketika melahirkan Yudhistira ke dunia, mengalami gangguan kejiwaan setelah terguncang luar biasa kala Ningrum ibu kandung Masayu menutup mata.


Walaupun mendiang Masayu merupakan kakak dari Anggita yakni adik iparnya, mereka yang kurang mendukung keputusan Barata dan Maharani yang saat itu tak kunjung dikaruniai momongan, mengatakan Anggita dan Masayu meski saudara kandung jelas memiliki value berbeda. Anggita tidak memiliki riwayat miring, berbeda dengan Masayu yang di cap nakal.


Mereka bahkan sempat menakut-nakuti, melangkahi untaian takdir yang digariskan Yang Maha Kuasa. Mengadopsi anak yang tidak jelas bibit, bebet dan bobotnya merupakan kesalahan besar, menghakimi bahwa nantinya kelakuan Yudhistira setelah dewasa hanya akan membawa malu tak ubahnya ibu kandungnya. Juga mungkin membawa sial pada kehidupan Maharani dan Barata ke depannya.


Beruntung, keluarga inti baik dari pihak Barata maupun Maharani selalu mendukung penuh niatan juga tekad kuat mereka berdua. Bahkan Barata pernah membuat statement di sebuah acara besar keluarga yakni pada hari di mana dia dan Maharani merayakan anniversary pernikahan sewaktu Yudhis baru berumur enam bulan.


Barata mengatakan bahwa seharusnya mereka yang berpunya dan ingin mengadopsi anak, adopsilah anak-anak yang kurang beruntung seperti Yudhistira, yang sangat membutuhkan orang tua untuk membimbing.


Ibu yang mengandung telah tiada, sementara ayah biologisnya tidak tahu siapa, dan walaupun dapat ditemukan jika dicari dan diusut lebih dalam lagi, belum tentu si yang punya benih mau mengasuh dan menyayangi. Juga, janganlah gemar terus menerus mengorek kesalahan orang lain sementara tidak ingat akan cela diri sendiri. Jika benar berilmu, bagilah ilmunya pada yang tidak tahu. Andai memang sesamamu berbuat salah seharusnya dibina, bukannya dihina.


Seperti halnya yang Yudhistira lakukan pada Khalisa berkat didikan Barata yang membekas, membina Khalisa yang saat itu sempat memilih jalan salah supaya paham dan meninggalkan hal keliru itu, lalu setelahnya berupaya membina ke jalan yang benar.


Di tahun ke tiga pasca mengadopsi Yudhistira, limpahan karunia tak terhingga diberikan pada pasangan yang penuh tekad mengasuh si anak malang Yudhistira. Berkat cinta dan kasih sayang tulus mereka pada anak angkatnya, Sang Pencipta menganugerahkan keajaiban yang tak pernah disangka-sangka. Mematahkan judge kerabat mereka yang mengatai kehidupan Maharani dan Barata akan sial setelah mengadopsi Yudhistira, membungkam ribuan bantahan yang pernah dilayangkan. Karena pada kenyataannya Yudhistira membawa berkah.


Maharani yang pernah divonis tidak dapat mengandung, kondisinya membaik secara signifikan. Dan setelah beberapa kali upaya inseminasi sesuai saran dokter yang akhirnya dilakukan setelah adanya perkembangan kondisi Maharani kala itu, akhirnya Maharani diberi kepercayaan mengandung Erlangga. Kendati selama masa kehamilan perjuangan Maharani tidak mudah, benar-benar bedrest di tempat tidur sampai Erlangga terlahir ke dunia.


Barata dan Maharani memang tidak lantas berpangku tangan begitu saja setelah mengetahui kondisi vonis Maharani. Paham arti pasrah yang sebenarnya, bukan berpasrah diri dengan berhenti berikhtiar yang sama saja artinya dengan berputus asa akan rahmat Sang Maha Baik.


Pasrah yang benar ialah, tetap berusaha tak kenal lelah dengan tidak menyurutkan ikhtiar, tetapi selalu ingat bahwa hasil akhirnya hanya Allah yang berhak menentukan. Mereka selalu mengingat pepatah yang dikatakan orang tua Barata, tidak ada sakit yang tidak ada obatnya di dunia ini kecuali kematian.


Menghabiskan waktu hingga matahari tergelincir di ufuk Barat, Yudhistira rampung menjelaskan alasannya. Bercerita panjang lebar pada kedua orang tuanya secara terperinci tentang siapa wanita cantik dan si balita lucu yang ikut pulang ke rumahnya.


Maharani yang semula terbaring lemas, langsung bangun dari baringannya, terisak-isak dibanjiri kelegaan setelah diserbu ketakutan. Mengusap-usap lengan putra sulungnya penuh kebanggaan.


“Makasih, kamu selalu menjaga kepercayaan Mami dan Papi. Maafkan Mami yang sempat berpikiran jelek tadi, Ibu mana pun pasti tidak ingin anaknya terjerumus ke jalan yang salah.”


“Aku paham, dan Mami pun jangan bosan untuk selalu mengingatkanku. Apa jadinya aku tanpa bimbingan Papi dan Mami. Maaf, sudah membuat kalian khawatir.” Yudhistira menyusut buliran bening yang membasahi wajah Maharani penuh bakti juga sayang. Menenangkan ibunya yang sempat dibuat khawatir olehnya.


“Nah sekarang Mami bisa tenang kan setelah mendengar penjelasan anak kita? Juga benar kata Yudhis, kasihan kalau Khal, Khal siapa tadi namanya?” Barata bertanya sembari membetulkan letak kacamata double fokusnya.


“Khalisa, Pi,” sahut Yudhis sembari mengulum senyum.”


“Iya itu Khalisa, kasihan kan Mi, anak semuda itu harus menanggung begitu banyak beban hidup yang teramat berat sendirian tanpa adanya keluarga yang mendukung, memang wajib ditolong.”


Maharani mengangguk setuju, sebagai seseorang yang menggagas dan membangun sebuah yayasan pemberdayaan perempuan di Bali, hatinya tergerak dan ikut prihatin.


“Iya, memang wajib ditolong. Dia masih sangat muda, wajar kalau mentalnya rapuh saat beban berat terus menerus ditumpahkan di pundaknya, sehingga sempat berpikiran pendek. Terlebih lagi dia tidak punya keluarga yang mendukung dan menyemangati. Semoga perjuangannya juga usahamu mendapatkan hak asuh anaknya dilancarkan dan dimudahkan. Tapi, tadi Mami sempat ngomel-ngomel di depan Khalisa. Duh, jadi enggak enak sama Khalisa dan bocah lucu tadi. Pasti mereka mengira mami ini galak, gimana dong, Nak, Pi?” ujarnya bingung sendiri.


“Kalau merasa begitu, sebetulnya mudah saja, Mami tinggal minta maaf sama Khalisa, tapi ya itu pun kalau Mami tidak keberatan, Papi cuma menyarankan, enggak maksa. Meminta maaf tidak lantas membuat seseorang menjadi rendah, karena hanya orang-orang berhati besarlah yang mampu melakukan itu. Benar kan, anak Papi yang ganteng?” kata Barata yang meminta pendapat si sulung.


“Tentu saja Papi yang lebih tahu harus bagaimana, dan Mami juga pasti lebih dari paham. Aku masihlah mentah.” Yudhistira menjawab netral saja, tidak ingin terkesan menggurui dua orang yang amat dihormatinya.


Maharani mengangguk-angguk, kemudian turun dari kasur. “Kalau gitu, Mami mau bersiap-siap minta maaf, mau mandi dulu biar cantik dan wangi sebelum menyapa Khalisa, biar meninggalkan kesan baik,” sahutnya bersemangat, menerbitkan senyum kelegaan di wajah Barata juga Yudhistira yang memuja sang ibu dalam balutan tatap penuh syukur.


Bersambung.