Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Karma


Bab 152. Karma


Sejak pagi, Wulan terus saja mengomel tak henti pada Dania. Meminta putri bungsunya itu untuk berangkat kuliah, lantaran Dania mogok ke kampus sudah hampir dua minggu.


"Cepat berangkat kuliah! Kamu sudah pulih betul sekarang. Tidak ada alasan lagi untuk bermalas-malasan. Mau jadi apa kamu nanti kalau putus kuliah di tengah jalan? Sayang otak cerdasmu itu!" Wulan mencerocos berisik pada Dania yang malah menutup telinga.


"Pokoknya aku enggak mau ke kampus! Memangnya Ibu pikir belajar itu gak capek apa? Aku malas ngotak! Terus, aku juga malu kalau berangkatnya naek ojek, ditambah sekumpulan mahasiswi mengataiku ****** gara-gara temanku yang mengantarku aborsi menyebar gosip. Dasar teman muka dua!"


"Bukannya temanmu itu sudah kamu beri imbalan tutup mulut dengan membelikannya ponsel mahal model terbaru? Seharusnya kamu rampas lagi saja ponsel itu kalau dia berkhianat. Lumayan kalau dijual lagi," seloroh Wulan sewot.


"Enggak sudi! Mau ditaruh di mana mukaku, Bu? Udah deh, Ibu jangan rese!" Dania berdecak malas. "Bang Dion juga ke mana sih? Tiba-tiba ngilang lepas tanggung jawab akan biaya hidup kita. Kabarnya udah pisah sama si nona sok kecakepan yang depak kita dari rumahnya itu. Kalau cerai dapat duit kan? Kenapa enggak pulang ke kita dan malah lenyap enggak ada jejak? Jangan- jangan Bang Dion asyik menikmati harta gono gini sendirian?" tuduh Dania geram, bahkan tak peduli akan penyebab perceraian kakaknya itu, hanya uang saja yang ada di otaknya.


"Ta enggak tahu ke mana. Ibu juga dibuat pusing dengan menghilangnya Abangmu. Entah di mana dia sekarang. Enggak ngasih kabar, enggak kirim uang. Haduh, kepala ibu pusing mikirin tagihan utang!"


"Kalau ibu mau aku ke kampus lagi, belikan aku mobil. Daripada koleksi perhiasan emas ibu cuma dipajang, mending dijual saja dan belikan mobil buat aku ke kampus," pinta Dania menuntut terbalut provokasi.


"Enak saja! Jangan melibatkan perhiasan kesayangan Ibu."


Sementara itu, di tempat lain Dion tengah terlunta-lunta. Bersembunyi di sebuah desa terpencil di Kabupaten Bandung Barat. Dia lebih mirip gembel sekarang, lusuh dari ujung kepala hingga kaki. Hidupnya tak tenang, bahkan tidur pun tak nyenyak, disiksa bayang-bayang Gladys yang terus menghantuinya.


Sebulan lalu selepas ribut besar dengan Amanda yang berujung kata cerai, Dion dihadiahi kado mencengangkan, yakni kabar kematian Gladys dari orang-orang suruhannya. Gladys mengembuskan napas terakhir akibat mengalami pendarahan hebat selama hampir dua hari setelah aborsi paksa dilakukan. Tak mampu bertahan, menyusul bayinya yang telah direnggut lebih dulu hak hidupnya.


Dion kelabakan. Awalnya hanya berniat menggugurkan janin di rahim Gladys, bukan membunuh wanita itu. Namun, kenyataan berkata lain. Semua rencananya gagal total.


Demi menghilangkan jejak, Dion menyuruh orang-orang suruhannya bersama dirinya langsung membuang jasad Gladys ke laut. Dan sejak hari itu, Dion hidup dalam pelarian. Tiada lagi ketenangan, yang ada hanya ketakutan dan penyesalan yang setiap harinya kian menggulungnya hebat.


Bersambung.


Cerita ini sebentar lagi menuju ending. Jangan lupa kencengin vote dan giftnya. Pendukung gift 3 teratas akan mendapatkan giveaway kenang-kenangan dari Senja, dan peringkat gift 4-10 akan mendapat hadiah hiburan.


Maaf, baru bisa update kembali. Kehidupan real life sedang lumayan penuh sekali terkait mengurusi acara hari kemerdekaan. Terima kasih buat semua yang sudah sabar menanti, semoga kalian selalu sehat dan bahagia di manapun berada 🤗💜.