Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Narsis


Bab 131. Narsis


“Kata Yudhis, Erlangga ngasih kado pernikahan voucher bulan madu buat dia dan Khalisa. Apakah itu artinya anak-anak kita sudah mulai berbaikan?” Maharani meminta pendapat pada Barata.


Mereka berdua sedang berbincang sore di taman belakang. Barata sibuk memberi makan ikan-ikannya, sedangkan Maharani tengah menyiram tanaman bunga-bungaan kesayangannya.


“Papi juga merasa begitu. Erlangga mulai menguarkan sinyal melunak sejak kita kembali dari Bandung setelah pernikahan Yudhis dengan Khalisa. Juga setelah sering bermain bersama Afkar, dia tak lagi terus membahas pembangkangan terkait kehadiran Yudhis yang menjadi anak angkat kita, tidak terus mendesak hanya ingin menjadi anak satu-satunya.”


“Papi merasa tidak. Kehadiran Khalisa dan Afkar itu mirip seperti kehadiran Yudhis dulu dalam hidup kita. Membawa banyak berkah dan kebaikan. Mungkin ini merupakan salah satu jawaban Sang Pencipta atas do’a-do'a kita, ingin anak-anak kita rukun lagi seperti dulu,” tutur Maharani, kelegaan tergambar jelas di wajahnya yang masih terlihat jelas gurat cantik berkelasnya kendati usianya tak muda lagi.


Barata mengangguk setuju. “Mami benar, membawa kita pada momen manis di masa lalu. Oh iya, ke mana pengantin baru kita juga si pipi bulat? Dari tadi enggak kelihatan?”


“Yudhis lagi ngajak Khalisa dan Afkar jalan-jalan ke pantai. Mumpung cuaca bagus.”


“Kalau si bungsu?”


“Erlangga lagi jemput neneknya, nanti malam kan kita sudah berencana mau makan malam bareng keluarga besar, sekalian memperkenalkan Khalisa sebagai menantu kita. Oh iya, apa Papi menyadari sesuatu? Sepertinya siasat kita membuat Khalisa lebih dekat dan mau membuka diri pada Yudhis membuahkan hasil. Dua hari ini Mami mengamati, sikap Khalisa pada Yudhis sekarang sudah enggak sedatar sewaktu selepas akad nikah. Bahkan tadi subuh, Mami mendapati rambut mereka berdua basah sewaktu Mami mau antarkan handuk tambahan,” tutur Maharani penuh arti sembari cekikikan.


“Ide Papi brilian kan? Akh, akhirnya Yudhis berhasil menjadi pejantan tangguh. Yah, beginilah kalau punya otak encer, ide muncul tepat waktu dan sasaran.” Barata menimpali, terkekeh memuji dirinya sendiri, yang ditanggapi wanita berbaju coklat susu bercorak bunga-bunga itu dengan gelengan kepala juga tawa yang sama.


“Iya deh iya, ide Papi memang brilian dan Mami akui itu. Kalau Yudhis sejak pertama kali memang sudah terdeteksi terkontaminasi virus bucin, dan sepertinya sekarang Khalisa ikut tertular,” ujar Maharani ceria, membuat Barata cengar-cengir senang.


“Papi juga bisa melihat, kemajuan kedekatan mereka signifikan. Tapi, sejak awal Papi yakin Yudhis pasti takkan kesulitan meluluhkan Khalisa. Kita hanya perlu andil sedikit saja. Walaupun putra kita bukan pecinta wanita dan Khalisa adalah yang pertama membuatnya tergerak hati, Yudhis itu punya pesona tersendiri yang mampu melumerkan hati kaum hawa. Sepertiku tentu saja. Like father like son.”


“Idih, tua bangka narsis!” sungut Maharani sebal, ikut tertawa sembari menggelengkan kepala.


“Tapi, walaupun narsis begini, jangan salah, mampu membuat Tuan Putri Maharani Syailendra kecantol jatuh cinta,” tukas Barata iseng, punggungnya berguncang oleh tawa renyah, yang dihadiahi tepukan kencang di pundaknya dari sang istri yang memasang raut sebal.


“Kumat! Sudah tua juga!”


“Bulan madu, bulan madu, sadar diri, ingat encok di pinggang!” Maharani menaruh botol semprotan penyiram bunga, mengentakkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan Barata yang mengekori, terus menggodanya tak berkesudahan.


*****


Di hamparan pasir putih berpadu deburan ombak, dibingkai panorama indah memikat Pulau Dewata yang keelokannya tersohor sampai ke berbagai penjuru dunia, Yudhis berjalan sembari menggenggam mesra tangan Khalisa dinaungi hangatnya mentari sore hari. Sementara Afkar di depan mereka berlarian gembira. Berceloteh ini dan itu pada bundanya, menerangkan apa yang diketahuinya.


"Unda, ini ail laut," ujarnya memekik senang, ketika ombak yang membawa air laut menyentuh kaki mungilnya yang sengaja berjalan tanpa alas kaki. Afkar berjongkok, menyentuh air yang berkecipak dan menepuk-nepuknya senang, menerbitkan senyum bahagia penuh syukur di paras cantik Khalisa.


"Pappah, ini pacil!" Afkar meremas pasir putih setengah basah itu dengan tangannya, memainkannya ceria.


"Pinternya jagoan Papa." Yudhis bertepuk tangan, ikut bermain pasir dengan si bocah lucu.


Khalisa bergabung, berjongkok dengan sang anak juga Yudhis. Lagi-lagi haru menyerbu, menyentuh kalbunya sebagai seorang ibu melihat anaknya berbahagia dikelilingi kasih sayang tulus berlimpah.


Dulu, bahkan bermimpi pun Khalisa tak berani, dirinya juga Afkar dikasihi dan disayangi begitu besar oleh orang-orang terhormat seperti keluarga Yudhis. Di titik terendah fase hidupnya, Khalisa


hanya bercita-cita ingin mencari kebahagiaan besama si jantung hati dan terbebas dari belenggu keluarga Dion, tanpa cemoohan serta cacian lagi, dan yang didapatkannya kini ternyata lebih dari yang pernah dibayangkannya.


"Bang, kayaknya kita belum pernah foto bareng. Kalau boleh, aku ingin kita berfoto bertiga di sini, buat kenang-kenangan dalam rangka pertama kalinya aku datang ke Bali," pinta Khalisa agak sungkan juga malu, khawatir dianggap norak dan khawatir Yudhis keberatan.


"Kenapa enggak bilang dari tadi? Tentu saja boleh, ratuku," bisik Yudhis dengan nada merayu, membuat Khalisa meraba pipinya yang menghangat.


Yudhis meminta tolong pada orang-orang yang juga sedang berjalan-jalan di pantai, berpose memeluk Khalisa serta Afkar. Bahkan di akhir foto mereka mengambil gambar dalam pose mencium pipi Afkar dengan gembira bersamaan, sungguh potret keluarga kecil yang manis dan harmonis.


Berbanding terbalik dengan keadaan seorang pria yang tengah diserbu kekalutan, tidak lain adalah Dion. Benihnya yang sering tumpah membasahi ladang si sekretaris, kini membuahkan janin, membuatnya kalang kabut akibat ulah bejadnya sendiri.


Bersambung.