
Bab 25. Sembilu Lara
Langit dunia kecilnya runtuh, bumi sempit yang dipijaknya meluruh. Khalisa tak mampu bertumpu, daksanya terhuyung diterjang belitan pilu sembilu. Meremukkan percik kekuatan seumur jagung yang beberapa saat lalu baru dibangunnya, ditekadkannya dalam keterbatasan daya upaya.
Berpegangan pada pagar besi yang terus digebraknya tanpa henti, Khalisa bertanya-tanya dalam raungan lara hati. Hanya karena noktah cela noda yang bukan dosanya, masih belum puaskah pria yang telah mencerai beraikan ikatan suci mereka itu menghancur-leburkan istana kalbu asa cintanya yang tertatih-tatih dibangunnya hingga menjadi serpihan? Menumbangkan takhta ratunya tanpa belas kasihan? Bahkan mematah-matahkan harga dirinya sebab tak sudi lagi menerima kekurangannya. Sampai-sampai satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidupnya pun dipisahkan darinya, tak boleh dimiliknya, menghabisi harapannya sampai tak bersisa.
Tangis Khalisa melengking nelangsa, menyayat hati memenuhi udara. Sukmanya laksana direnggut paksa dari raga di detik itu juga, kala permata hatinya, denyut kehidupan di jiwanya, separuh napasnya, sumber kekuatannya, satu-satunya hal paling berharga yang dimilikinya dipisahkan secara kejam darinya.
“Tolong, buka pagarnya, hiks … hiks. Mas Dion! Mas Dion! Tolong buka kunci gembok ini! Afkar butuh aku, anakku butuh aku. Kumohon buka pagarnya, biarkan Afkar ikut denganku. Cuma Afkar yang kupunya, satu-satunya keluargaku di dunia. Kurelakan rumah tanggaku tercerai-berai. Kubiarkan diriku kau hina dan kau fitnah sesuka hati. Tak mengapa aku tak lagi punya tempat bernaung dari hujan dan panas matahari. Tapi aku mohon, tolong biarkan Afkar bersamaku, jangan ambil putraku dariku!”
Teriakan pilu Khalisa yang pantang menyerah kian melemah, semakin serak terus berdengung di luar pagar. Mengiba perih, demi memeluk kembali si binar jiwa dalam dekap hangatnya. Tak sanggup menanggung derita membayangkan terpisah hidup dari buah hatinya.
“Dion, kenapa Afkar tidak kamu berikan saja sih? Sudah satu jam lebih Khalisa berisik di luar pagar,” gerutu Wulan kesal, menarik kursi di ruang makan di mana Dion sedang meneguk kopi. Dia baru saja keluar dari kamar Amanda setelah menyiapkan air hangat nan harum dan nyaman untuk menantu kesayangannya berendam sebelum naik ke peraduan.
“Afkar juga anakku, Bu. Aku cuma enggak mau Afkar dibawa terlunta-lunta.” Dion menjawab tanpa senyuman di sela-sela menyesap kopi hitamnya. Sekilas, bias matanya kosong, mencerminkan isi hati juga kepala yang berkecamuk tumpang tindih. Selepas kata talak berderai dari lisannya untuk Khalisa, perlahan mulai tercipta ruang hampa di balik rongga dadanya, entah apa itu Dion pun tak memahaminya.
“Bukan hanya karena hal yang kusebutkan tadi, Bu. Tapi, aku juga melakukannya dalam rangka memberi pelajaran pada Khalisa. Dengan angkuhnya dia membangkang bahkan berani menamparku tadi, wanita kurang ajar!” geramnya penuh emosi.
“Bagus, Mbak Khalisa memang harus diberi pelajaran. Aku setuju Abang bikin si p*rek murahan itu makin menderita. Berani-beraninya dia fitnah aku seenaknya. Jelek-jelekin aku. Afkar itu kelemahan dia, misahin dia dari Afkar adalah cara jitu membuat dia meratap dalam derita. Ya semoga saja dia masih bisa waras nantinya.” Dania yang menaruh dendam kesumat lantaran Khalisa lancang bersuara menelanjangi boroknya di halaman belakang tadi, ingin ikut berpartisipasi berbuat tega demi memuaskan hasrat amarah bisikkan setannya.
“Benar juga, berani-beraninya dia jelek-jelekkin kamu, pasti dia iri karena tidak bisa sekolah tinggi-tinggi kayak kamu. Kalau alasannya buat ngasih pelajaran sama Khalisa, ibu setuju dengan keputusan Abangmu, biar Khalisa tahu rasa. Tapi siapa yang akan mengurus Afkar? Ibu malas lah, kalau harus direpotkan dengan tugas mengurus dan mengasuh cucu yang sama sekali tak bisa dibanggakan.” Wulan bersedekap, mengutarakan ketidaksediaannya tanpa merasa berdosa. Sama sekali tak ingat, bahwa Afkar merupakan darah daging Dion juga, anak dari putranya.
“Biar Ceu Wati yang urus Afkar. Kita juga bisa minta Manda tambah ART di rumah ini,” kata Dion menimpali yang diangguki Dania penuh semangat.
“Tapi, ada satu masalah lagi. Kapan Khalisa akan berhenti berteriak-teriak di luar pagar? Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Cari cara untuk mengusirnya pergi secepatnya, Ibu tidak ingin membuat Manda tak bisa tidur di hari pertamanya pindah ke sini. Manda itu permata berharga kita, yang bisa menjamin hidup kita selalu enak dan berkecukupan.”
Dion tampak berpikir, tak lama kemudian menggulirkan matanya mengisyaratkan sesuatu pada Wulan, menyeringai dengan kilat keserakahan. “Aku ada ide. Dengan ini pasti Khalisa pergi dalam hitungan menit dan dengan ini kita juga masih tetap bisa memanfaatkannya. Takkan kubiarkan ia bebas dari kendaliku semudah itu setelah memberontak tak tahu diri!”
Bersambung.