Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Si Buah Hati


Khalisa 68. Si Buah Hati


“Eh, eh. Jangan seenaknya teriak-teriak di rumah orang! Dasar tak punya tata krama!” Wulan berseru sengit pada Khalisa. Namun, tangisan Afkar yang sayup-sayup terdengar menulikan telinga Khalisa dari suara lainnya. Seluruh saraf di tubuhnya langsung terpusat pada satu suara yakni rintihan kesakitan si buah hati.


Tak memedulikan ocehan Wulan, mengetahui anaknya sedang sakit dan rintihannya terdengar memenuhi telinga, Khalisa berlarian mencari sumber suara disusul Yudhis juga Ceu Wati. Tidak akan ada satu orang pun yang dapat mencegah kakinya berlari seperti orang gila untuk mencari anaknya meskipun Wulan mencak-mencak ikut mengekori, murka karena ucapannya diabaikan. Sedangkan Amanda hanya memerhatikan keributan di rumahnya dengan raut datar, masih berdiri di tempatnya semula.


Rintih kesakitan Afkar menuntun Khalisa pada bagian belakang bangunan rumah. Suara tangis anaknya semakin dekat terdengar nyaring sekarang. Menajamkan pendengaran, Khalisa dapat memastikan suara tangis yang amat dikenali dan dirindukannya itu berasal dari ruangan paling ujung yang letaknya berdampingan dengan dapur.


Nyaris menabrak si ART belia yang tadi membukakan pagar depan, Khalisa menerobos masuk ke dalam ruangan yang pintunya dibiarkan terbuka itu. Ruangan tersebut ternyata sebuah kamar tidur, ruangan sempit yang hanya dilengkapi tempat tidur single dan sebuah lemari kecil, ventilasinya sangat kurang memadai, sehingga terasa pengap.


Bola mata Khalisa bergulir ke atas kasur. Di sana, sesosok mungil tergolek lemah dan pucat. Sedang menangis hingga terbatuk-batuk dalam kondisi baju basah terkena muntahan. Itu adalah anaknya, buah hatinya, si separuh napasnya yang membuatnya nyaris tak waras karena dipisahkan paksa darinya.


“Afkar!” Khalisa menghambur, meraup sang anak yang terbaring merintih, menggendongnya, mendekapnya erat. Kristal bening yang sejak berlarian tadi sudah bergerombol di pelupuk, jatuh luruh membanjiri hanya dalam satu kedipan kelopak mata.


“Sayangnya Bunda, sayangnya Bunda,” isaknya pilu terhukum rindu, suaranya bergetar. Khalisa menciumi Afkar di sela-sela isak tangisnya, tersedu-sedu haru seorang ibu yang akhirnya dapat kembali memeluk permata jiwanya setelah lama dipisahkan paksa, bercampur rasa takut kehilangan lantaran kondisi anaknya sedang tidak baik-baik saja.


Kondisi Afkar yang memang diare dari semalam ditambah muntah-muntah sejak tadi pagi, membuat si balita yang setiap hari berceloteh sedih ingin bundanya itu lemas sekarang, tak lagi menyadari bahwa kini ibu tercintanya sudah hadir di dekatnya, mendekapnya erat. Hanya menangis merintih kesakitan.


“Ini Bunda, Nak. Ini Bunda. Maafin Bunda terlambat jemput Afkar.” Tangis Khalisa pecah tak terbendung, sedu sedannya nyeri tak terperi.


Yudhis dan Ceu Wati ikut menyusul ke kamar, sedangkan Wulan enggan merangsek masuk, malah mengibaskan tangan di depan hidung, terganggu bau pengap dari kamar Ceu Wati. Amanda rupanya ikut menyusul, berdiri menyaksikan dari ambang pintu. Bersedekap di sana tanpa ekspresi.


“Mana yang sakit, Sayang? Mana yang sakit?” Khalisa meraba-raba panik tubuh sang anak. Tubuh Afkar juga ternyata demam, Khalisa semakin panik karena sang anak tak kunjung merespons ucapannya sejak tadi. Yudhis meraba bahu Khalisa dan meremasnya lembut menyalurkan kekuatan juga ketenangan tanpa kata.


“Sayang, ini Bunda, Nak. Af, Afkar?” Khalisa menepuk-nepuk lembut pipi putranya.


“Neng, punteun. Ini teh dedeknya sudah buang air lebih dari sembilan kali sejak semalam, demam sepanjang malam dan cuma bobo sebentar di gendongan saya, terus dari tadi pagi ditambah muntah-muntah.”


“Obat dari apotek yang diperintahkan Bu Wulan dibelikan sopir, Neng.” Ceu Wati menjawab apa adanya. Memperlihatkan jenis obat yang diminta Wulan dibelikan oleh sopir lantaran neneknya itu malas bergerak sendiri.


Khalisa geram bukan kepalang melihat jenis obat yang dibeli, hanya obat mencret ringan. Giginya gemeletuk menahan marah serta murka pada Wulan, pada Dion juga dua orang wanita dewasa lainnya telah menyepelekan dan menelantarkan Afkar yang sakit sampai kepayahan. Akan tetapi, saat ini bukan waktunya untuk mengurusi hal itu meski kemarahan meluap-luap, Afkar adalah prioritas utama sekarang.


“Dedek Afkar memang sudah sebulan ini nafsu makannya terus menurun, cuma mau minum susu saja. Karena muntah, dedek juga kesusahan minum jadinya makin lemas, saya takut dedek Afkar kenapa-napa?” Ceu Wati hampir menitikkan air mata saat bertutur pada Khalisa. “Maaf, karena saya kurang baik menjaga dedek Afkar. Juga mungkin karena merek susunya diganti sama Ibu Wulan jadinya dedeknya sakit,” sambung Ceu Wati serak menahan tangis, menerangkan perkiraan kemungkinan penyebab sakitnya Afkar.


“Apa? Kenapa jenis produk susunya diganti! Afkar itu punya alergi dengan beberapa merek susu!” protes Khalisa. Menghunuskan kilat berang pada Wulan yang dibalas delikan sinis.


Afkar kembali muntah-muntah hebat di gendongan Khalisa, membuat Khalisa panik luar biasa. Menoleh pada Yudhis, Khalisa mengenggam lengan Yudhis sekencang-kencangnya.


“Abang, aku ingin membawa anakku ke rumah sakit, sekarang juga! Tolong aku, Bang, tolong!” mohonnya setengah berseru diburu takut juga emosi. Wajah Khalisa sudah sepenuhnya basah oleh air mata sekarang, dan Afkar semakin kepayahan.


Yudhis mengangguk cepat. “Kita ke rumah sakit sekarang juga, tapi kamu harus gantikan dulu baju Afkar, baju basah bisa membuat kondisinya semakin memburuk saat di perjalanan nanti.”


Ceu Wati sigap mengambilkan baju bersih Afkar, memberikannya pada Khalisa untuk dipakaikan. Membantu memakaikan kaus kaki juga menyerahkan kain jarik yang tersampir di pundak.


“Eh, eh, eh. Kalian tidak bisa membawa Afkar dari sini. Menerobos masuk tidak tahu sopan santun dan sekarang seenaknya mau membawa Afkar. Kalian bisa dilaporkan sebagai penculik karena membawanya tanpa ada izin dariku juga Dion selaku ayahnya!” seru Wulan berapi-api dari ambang pintu. Hendak menyambar Afkar yang sedang digantikan baju, tetapi dengan sigap Yudhis menghalangi.


“Kami megambil Afkar sudah melalui prosedur yang benar, juga melampirkan berkas resmi yang sudah saya serahkan pada Bu Amanda terkait hal ini. Dan sekarang hak Khalisa membawa Afkar bersamanya semakin kuat, dengan adanya bukti kelalaian yang telah Anda dan Pak Dion lakukan. Selain memisahkan paksa dari ibu kandungnya yang jelas-jelas sangat dibutuhkan oleh anak seusia Afkar, Anda dan Pak Dion juga telah menelantarkan Afkar hingga jatuh sakit dalam kondisi yang termasuk parah. Kalau Anda tetap bersikeras, kami akan membuat laporan tambahan tentang kelalaian mengasuh anak dan peluang Bu Khalisa mendapat hak asuh anak secara sah semakin terbuka lebar.”


“Aku akan balik melaporkan Khalisa juga kamu Pak Pengacara muda! Anakku punya kuasa hukum yang lebih hebat. Aku akan tetap melaporkan Khalisa telah menculik Afkar kalau dia nekat membawa Afkar dari sini sekarang! Biar Khalisa dipenjara sekalian. Biar tahu diri!” Wulan tetap keras kepala, lupa tempat di mana kakinya berpijak, hilang ingatan kalau dia cuma penumpang.


Bersambung.