Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Pillow Talk


Bab 135. Pillow Talk


Sesi panas bergelora di kolam renang berakhir satu jam kemudian. Ditutup dengan acara mandi bersama di bawah shower air hangat. Selepas membersihkan tubuh dan berganti pakaian, keduanya memilih rebah di sofa yang letaknya berseberangan dengan ranjang besar di mana si bocah lucu terlelap. Tidak ingin saat naik ke ranjang, gerakan menginterupsi tidur Afkar yang begitu pulas menggemaskan.


Khalisa menyandarkan punggung pada bantal empuk berukuran besar, rebah tidak terlalu landai. Di pelukannya Yudhis bergelung memeluk, berbaring bersama di bawah naungan selimut lembut . Ada yang terlihat berbeda, kali ini Yudhis yang bermanja pada Khalisa, sedangkan biasanya Khalisa lah yang diperlakukan demikian.


“Ehm, ehm, setelah mengacaukan kolam renang, mendadak ada yang dusel-dusel berubah jadi bayi besar,” ledek Khalisa, terkikik geli.


“Bolehkah?” Yudhis menengadah, memicing cabul.


“Huh? Maksudnya beneran jadi bayi begitu?” imbuh Khalisa mengerutkan dahi.


“Hmm. Aku ingin menjadi bayi sungguhan yang diberi ini sebelum tidur.” Yudhis bergumam, tangannya nakal menggerayangi, membelai bagian membusung sang istri yang tidak tertutup bra, hanya terhalang gaun tidur saja.


“Tadi kan sudah! Tangannya diem enggak” Khalisa menepuk galak tangan nakal Yudhis, kemudian tertawa kecil dengan pipi pipi bersemu. “Sudah jam sebelas. Ayo tidur. Pasti capek kan selepas berenang plus-plus.”


“Capek, tapi nagih. Ketagihan lihat ekspresi cantik dan seksi istriku,” jawab Yudhis lugas tak malu sedikit pun, mengeratkan pelukannya pada Khalisa.


Khalisa merapatkan pipi di ubun-ubun Yudhis. Membelai punggung suaminya itu sebagaimana yang sering dilakukan Yudhis padanya di saat menjelang tidur. Selang beberapa menit, embusan napas nyaring Yudhis di kesunyian malam tertangkap telinga Khalisa.


“Ada apa, Papa sayang?” tanya Khalisa mendayu merdu. Beberapa bulan hidup satu atap dengan Yudhis, sedikit demi sedikit Khalisa mulai dapat membaca kapan pria yang telah menjadi suaminya itu sedang berkeluh kesah tanpa kata.


“Maaf,” kata Yudhis parau, hanya satu kata singkat lagi, tetapi nada rasa bersalah berdengung jelas di udara.


“Kenapa minta maaf? Buat apa?” Khalisa keheranan, meraup sisi wajah tampan Yudhis, mempertemukan pandangan dalam satu garis lurus.


“Maaf, atas sikap sinis kerabat papiku di acara keluarga kemarin malam. Juga maaf, karena aku tak bertindak langsung saat mendengar semua cecaran Tante Herlina padamu. Aku mendengar jelas semuanya, dan disiksa sesal kemudian sebab malah memilih diam karena sebuah alasan.” Yudhis akhirnya mengutarakan hal yang mengganjal di hatinya, suaranya serak, raut wajahnya kesakitan juga bersalah.


Di luar dugaan, Khalisa malah tertawa kecil. “Abang pikir, aku enggak tahu Abang berdiri membelakangi di balik pohon bonsai yang sedikit gelap di taman kemarin? Body Abang itu tinggi tegap, pohon bonsai enggak mampu menyembunyikan wujud gagah suamiku. Terlebih lagi dari aku. Mungkin kerabat Abang enggak menyadari, tapi aku tahu Abang ada di sana.”


Khalisa menyelami manik jantan yang tampak resah di hadapannya. Yudhis hampir setiap saat selalu membelanya di garda terdepan, bahkan mulai di saat mereka belum terikat jalinan pertautan hati satu sama lain. Khalisa menyimpulkan, pasti ada hal besar yang membuat Yudhis bersikap demikian sewaktu makan malam.


Pupil Yudhis melebar seketika, dibuat terkejut. “Jadi, itu artinya aku tertangkap basah?”


“Lalu, kenapa kamu enggak melakukannya?”


“Kalau aku bar-bar begitu di acara silaturahmi keluarga, nanti justru imageku sebagai menantu lemah lembut pupus sudah,” tutur Khalisa berbalut canda, sedangkan Yudhis mengulum senyum masam.


“Apakah kamu marah dan kecewa padaku atas sikapku kemarin?” lirihnya resah, penuh dilema.


“Kenapa marah? Pola pikir Abang yang lebih dewasa dibanding aku, pasti berpikir matang sebelum bertindak. Aku sangat mengerti, di acara hangat keluarga rasanya tak etis dan tak pantas jika kita malah terpancing perselisihan oleh seseorang yang sengaja ingin memancing di air keruh. Terlebih lagi, dia itu lebih tua. Saat yang muda menaikkan nada suara meski di posisi yang benar, tetap porsinya dipandang salah kalau berurusan dengan yang namanya keluarga yang lebih tua, akan dicap dan dianggap tidak punya tata krama walaupun hanya menyindir halus. Dan aku tahu, Abang bersikap begitu bukan tanpa alasan. Justru, Aku malah berharap banyak Abang memilih diam. Aku enggak ingin emosi Abang meledak di acara semalam seperti ketika Syafa mengataiku. Di acara keluarga sarat makna yang disiapkan mami dan papi penuh kasih sayang untuk kita. Anggap saja netizen pro dan kontra.” Khalisa bertutur panjang lebar, membetulkan posisi memeluknya lebih intim.


“Tante Herlina memang hobi memancing amarah di setiap kesempatan. Dia juga yang mengompori hingga hubunganku dengan adikku sempat merenggang. Tapi aku memilih tak memberitahu mami dan papi walaupun tahu biang keroknya, memutuskan menghindar pergi. Khawatir dianggap menjelekkan saudara papi. Seperti semasa aku di sekolah dasar. Suatu kali, aku pernah mengadu tentang Tante Herlina yang sering membuliku dengan kata-kata kasar memojokkan. Mami dan papi langsung membelaku. Tapi justru sebagian keluarga besar malah menyalah-nyalahkan orang tuaku. Mematah-matahkan, mencecar keras sikap mami dan papi dengan aku sebagai penyebabnya. Aku sayang kamu, Khalisa. Tapi aku juga sayang orang tuaku. Maaf, aku belum bisa menjadi suami yang terbaik buat kamu.”


“Siapa bilang? Abang adalah yang terbaik dari yang terbaik. Lagi pula, Di saat ada yang sengaja memancing emosi, diam ada kalanya lebih baik. Bukan berarti kalah, tapi demi memutus kesempatan niatan buruk yang merujuk pada hal-hal enggak bermanfaat. Karena kalau terpancing, yang memancing akan merasa menang. Juga, mengambil tindakan tanpa berpikir panjang saat terpengaruh kecamuk perasaan, tetap sulit berpikir jernih. Aku enggak menuntut kesempurnaan dari Abang, karena aku juga enggak sempurna. Justru kita harus saling memaklumi, dalam upaya belajar saling mengerti. Dan aku tahu sikap Abang yang semakin manis merupakan cara Abang untuk menghiburku iya kan? Itu sudah jadi obat ampuh buatku, lebih dari cukup.”


“Jadi aku ketahuan lagi?” desah Yudhis lesu.


“Sepertinya setelah menikah dengan Abang, aku jadi punya indra keenam,” kekeh Khalisa menghibur. “Anggap saja kata-kata tantenya Abang merupakan kerikil dalam perjalanan pernikahan kita. Hal wajar saat jalannya tidak selalu mulus. Abang dan keluarga menerimaku juga Afkar dengan penuh kasih sayang itulah yang harus aku ingat dan syukuri. Untuk yang lainnya sama sekali enggak ingin kupikirkan lebih lanjut.”


“Hhh, tapi tetap saja kepalaku mendidih setiap kali teringat hal itu,” ucap Yudhis frustasi.


Khalisa membelai rambut Yudhis, lembut dengan segenap sayang.


“Ucapan kerabat Abang enggak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hinaan yang sering kudapat dulu. Saat tantenya Abang mencecar dengan pertanyaan memojokkan begitu, harus kuakui sesudahnya aku merasa marah, sedih, juga terkikis percaya diri. Tapi, setelah kupikirkan lagi, semua perkataannya tentangku benar adanya. Aku memang enggak punya orang tua juga enggak kuliah. Gak ada yang salah, memang faktanya begitu.”


“Dan di bagian kalimat penutup Tante Herlina tentangku pun adalah fakta,” sela Yudhis, membuat Khalisa tertegun sejenak sembari menelan ludah.


Khalisa teringat pada kata 'anak pungut' yang justru memang terus terngiang dan berputar di kepalanya dibandingkan cecaran pedas untuknya, hanya saja enggan menanyakan.


“Y-yang mana?” balas Khalisa hati-hati, takut salah menerka.


Tatapan Yudhis menyendu. “Tentang kata anak pungut. Karena itu benar adanya. Aku, hanya anak angkat mami dan papi, bukan anak kandung.”


Bersambung.