
Bab 29. Kamu Lagi
Rumah Windy menjadi tujuan Khalisa sekarang setelah memutar otak harus pergi ke mana di saat hari kian larut. Bermaksud meminta izin untuk berteduh barang semalam, malam ini saja.
Tya memesan taksi daring, mengantarnya sampai ke depan gang di mana Windy tinggal sebelum dia kembali ke pondok di mana dirinya juga teman-teman seprofesinya tinggal. Sebuah mes yang disediakan oleh si mucikari bernama Jordan yang dulu sempat hendak membawa Khalisa juga sewaktu Khalisa ditolong oleh Dion.
Bukannya Tya tidak kasihan pada Khalisa yang kelimpungan mencari tempat berteduh dan terombang-ambing tanpa tujuan. Akan tetapi, andai membawa Khalisa ikut serta bersamanya, Tya takut dan khawatir, Jordan yang memang mengincar Khalisa sejak lama memanfaatkan situasi sulit si wanita lugu bermata indah itu.
Khalisa sampai di depan rumah Windy menjelang tengah malam. Meski tak enak hati karena kedatangannya sudah pasti mengganggu, ia memberanikan diri mengetuk pintu lantaran riak gerimis terus turun enggan berhenti. Namun sayang, ternyata Windy tidak ada di rumah, tetangga rumah sebelah yang merupakan warga baru lah yang keluar dan memberitahu Khalisa.
“Mau ke Teh Windy ya?”
“Iya, Bu. Maaf mengganggu dan bikin berisik malam-malam, saya temannya Windy, ada perlu mendesak.”
“Enggak apa-apa. lagian saya juga belum tidur. Teh Windy sama suaminya pulang ke Cirebon, mendadak tadi siang. Bapaknya meninggal dunia dan ibunya masuk rumah sakit. Kena musibah, kecelakaan lalu lintas. Enggak tahu bakal berapa lama di Cirebon. Soalnya tadi sore telepon saya, masalah tagihan kreditan juga diserahkan sama saya untuk sementara waktu, karena kondisi cedera ibunya lumayan parah.”
“Begitu ya, Bu. Semoga Windy sekeluarga tetap tabah dan kuat,” ujar Khalisa menderaikan kalimat menguatkan untuk orang lain di saat dirinya pun bahkan butuh dikuatkan.
“Oh iya ada perlu apa sama Teh Windy? Kalau tentang masalah kreditan, bisa langsung ke saya saja. Semua catatannya tagihan sudah dikirimkan lewat handphone sama Teh Windy.”
Khalisa menggeleng pelan. “Bukan, Bu. ada keperluan lain. Kalau begitu saya permisi.” Meski kian bingung harus ke mana, Khalisa tak punya pilihan lain selain pergi. Bergelut dalam kebimbangan, menelan sedih sebab tak punya tempat untuk pulang. Panti asuhan pun bukan pilihan, hanya beralaskan bumi yang dipijak dan beratapkan langit itulah rumahnya sekarang.
“Aku harus ke mana?” gumamnya letih, tak lagi punya harapan lain untuk berteduh malam ini.
****
Baru saja hendak merebahkan punggung, Yudhis terpaksa menyingkirkan selimut yang semenit lalu dilebarkan menutupi daksa tinggi tegapnya guna melindungi dari hawa dingin.
“Beruntung warga sekitar rumahnya ada yang sedang berjaga tugas ronda malam dan mendengar teriakannya. Katanya korban hendak menghubungi Pak Yudhis langsung, tapi yang tercepat ditemukannya adalah kontakku. Maklum, huruf E lebih atas posisinya di banding Y,” jelas Erika sembari terkekeh, sengaja mencairkan ketegangan yang menyergap sekitar. Erika sampai di rumah sakit lebih dulu ditemani Raja, salah satu staf LBH Raksa Gantari juga.
“Sudah membuat laporan pada polisi? Kalau belum, aku akan menghubungi Ghaisan.”
“Raja sudah bergerak cepat membuat laporan tadi. Tersangka juga sudah diamankan pihak berwajib. Kinerja si anak baru itu lumayan bisa diandalkan. Tapi sebaiknya Pak Yudhis juga menghubungi AKP Ghaisan untuk mengkoordinasikan perihal permintaan bantuan hak perlindungan korban. Khawatir terjadi hal lanjutan yang tidak diinginkan.” tukas Erika, sembari menunjukkan beberapa laporan di layar ponselnya.
Satu jam lebih Yudhistira di rumah sakit membantu mengurus ini itu termasuk menghubungi keluarga korban. Menunggu di sana sampai keluarga yang bersangkutan tiba dan polis yang ditugaskan berjaga sudah berada di tempat. Erika pulang lebih dulu bersama Raja dan Yudhis yang paling terkahir meninggalkan rumah sakit.
“Ah, sepertinya aku butuh kopi,” keluhnya sembari memasang sabuk pengaman, bersiap kembali pulang.
Menilik arloji, ternyata waktu sudah memasuki pukul satu malam. Memeriksa aplikasi peta di gadgetnya, Yudhis mencari letak kedai kopi terdekat yang masih buka guna menyegarkan matanya yang mulai terasa berkunang-kunang, akibat kurang tidur berjilid beberapa malam ke belakang disambung malam ini.
“Yang terdekat cuma ada warung kopi biasa. Tapi ya sudahlah, daripada ngantuk berat.”
Rintik hujan kecil setia menemani perjalanannya, disertai embusan angin dingin menusuk tulang. Mobilnya berbelok pada tikungan jalan kecil menuju kedai kopi. Namun kira-kira lima meter lagi mencapai kedai, lagi-lagi Yudhis mengerem mobilnya mendadak, menimbulkan bunyi decit nyaring yang dihasilkan dari pergesekan kencang ban mobil dengan aspal.
“Haish! Kenapa wanita itu terus berlalu lalang di mataku!” kesalnya, sebal sendiri. Memukul setir dan mengusap wajahnya kasar, memejamkan netranya sejenak. “Ini pasti efek kurang tidur.”
Ada yang berbeda dari sebelumnya, kali ini setelah kembali membuka mata sosok wanita itu benar-benar nyata. Duduk di pinggir kedai kopi sembari memeluk tas erat-erat dalam kondisi setengah kuyup. Terlihat dari sebagian rambutnya yang basah.
Yudhis memarkirkan mobilnya sembarang. Berderap cepat menghampiri dengan geram. Menggerutu kesal dalam hati, bisa-bisanya wanita berwajah lugu ini berkeliaran tengah malam sendirian. Entah mengapa dia merasa marah tanpa sebab, padahal, wanita yang pernah diantarnya pulang itu bukanlah siapa-siapanya.
“Kamu lagi? Sedang apa berkeliaran hujan-hujanan tengah malam begini? Kenapa gemar sekali membuat orang lain khawatir!”
Bersambung.