Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Keluarga


Bab 156. Keluarga


Para wanita sibuk mengobrol banyak hal di ruang tengah. Rumah mewah Arjuna yang berlokasi di kawasan elit Pantai Indah Kapuk Jakarta itu, malam ini tampak ramai, kedatangan keponakannya yang bertamu membawa serta satu keluarga.


“Bagaimana kandunganmu, baik?” Anggita bertanya pada Khalisa, mereka tengah berbicang bersama selepas makan malam bersama.


“Sangat baik, Tante. Cuma agak manja sedikit, pingin dekat-dekat Bang Yudhis terus kalau lagi mual,” sahut Khalisa sopan, malu-malu.


“Itu biasa. Beruntung ngidammu enggak aneh-anah. Sewaktu hamil Arimbi dulu, ngidam Tante aneh bin ajaib. Enggak layak diceritakan. Untung saja Mas Juna lah yang mengalaminya.”


Anggi terkekeh, teringat pada masa-masa mengidam Arimbi yang memang cukup ekstrem. Khalisa ikut tersenyum sembari mengamati sosok di depannya.


“Tante awet muda, masih terlihat seperti usia tiga puluhan,” ucap Khalisa polos apa adanya, mengamati wanita anggun bersahaja yang duduk di sebelahnya. Umur tantenya Yudhis ini konon katanya sudah di angka lima puluhan, tetapi tampilan wajah terawat juga postur mungilnya memang tak memperlihatkan usianya.


“Hei, Tante jadi ingin melihat cemin.” Anggita terkikik senang dipuji demikian, sedangkan si bungsu Arimbi yang juga berada di situ sedang bermain bersama Afkar, merotasikan bola matanya malas sembari menggelengkan kepala.


Arimbi sudah over dosis dengan reaksi semacam ini, cukuplah gombalan bucin sang papa yang membuat mamanya tersipu-sipu, reaksi yang hampir membuatnya gumoh setiap hari. Dan ia merasa aneh karena mamanya suka sekali digombali sang papa, malah senang dipuji demikian yang menurut anak muda sepertinya agak norak.


“Tapi memang benar. Mungkinkah tante punya tips khusus?” tanya Khalisa tak merasa canggung, selain cantik, Anggita ini ternyata ramah, tak menakutkan layaknya para nyonya besar di sinetron.


“Yudhis pintar memilih istri, pandai menyenangkan hati orang tua. Jujur saja, kami para wanita yang sudah masuk dalam sebutan kategori tua, terkadang membutuhkan pujian manis semacam ini. Mmm, tipsnya hanya satu. Jangan ragu menghabiskan uang suamimu untuk merawat dirimu semaksimal mungkin. Daripada uangnya dipakai wanita lain,” ujarnya yang kembali cekikikan, merasa lucu melihat ekspresi Khalisa yang melongo, menganggap ucapannya sungguhan meski tak sepenuhnya salah.


“Begitukah?” imbuh Khalisa sembari manggut-manggut, membuat Anggita tertawa renyah.


Sementara Khalisa antusias berbincang dengan Anggita. Afkar asyik bermain bersama si gadis cantik berambut ikal, anak bungsu Anggita dan Arjuna. Arimbi masih berkuliah jurusan kedokteran dan rencananya nantinya ingin mengambil spesialis anak, seperti pribadinya yang menyukai anak kecil.


“Pipi gembul, kamu suka mobil-mobilan? Aku punya Hot Wheel keren,” ujar Arimbi memamerkan koleksi mainannya yang terbilang antimainstream bagi anak perempuan. Mengambil satu dari deretan mainan mobil, Arimbi mengambil yang berwarna pink dan menunjukkannya pada Afkar, jenis Hot Wheel limited edition yang harganya setara dengan mobil sungguhan.


“Woah, keyen,” celoteh Afkar, meniru kalimat Arimbi, berjingkrak senang.


“Kamu mau?”


“Mau … mau.” Afkar mengangguk-angguk cepat tanpa pikir panjang, padahal biasanya Afkar tak berani begini, perasaan anak kecil memang lebih peka dari orang dewasa, tahu mana yang berhati tulus dan mana yang tidak.


“Boleh, tapi harus dijaga baik-baik ya. Ini salah satu Hot Wheel kesayanganku. Karena kamu pintar dan lucu, Hot Wheel ini kuberikan padamu. Ini dibeli di Amerika, memalak Abangku sewaktu aku ikut dengannya ketika dia pergi seminar di sana.” Arimbi mengajak ngobrol balita tiga tahun layakanya teman sebaya, memang begitulah ciri khas dia, tetapi para anak-anak malah suka jika mengobrol dengannya.


“Itu, buah yang dari Bali,” ujar Arimbi iseng.


“Bimbi, jangan mengajari Afkar yang enggak-enggak!” Anggita menyela obrolan putrinya dengan si bocah lucu.


Arimbi terkikik geli. “Mana ada, Ma. Aku cuma ngajarin yang iya-iya lho ini. Suwer,” sahutnya sembari mengacungkan dua jari. “Aku cuma ngasih info sama dedek gembul lucu ini, biar ketularan suka Hot Wheel.”


“Sebaiknya jangan. Mainan yang kamu suka ini bikin Mama sakit kepala dengan harganya!” Anggita memijat pelipis, sementara si bungsu malah cengar-cengir.


“Kalau boleh tahu, harganya berapa ya, Non? Bibi pernah lihat mobil-mobilan kecil kayak gini banyak di Pasar Baru.” Bi Dijah yang sedari tadi menyimak, tertarik menimpali, suaranya pelan hanya didengar Arimbi dan Afkar. Dibuat kebingungan saat menyaksikan nyonya besar kaya raya mengunjukkan keberatan hanya untuk sebuah mainan mobil-mobilan kecil.


“Beneran, Bibi mau tahu?” goda Arimbi, menggelitiki jiwa Kepo Bi Dijah.


“Memangnya berapa ya?”


“Untuk yang pink ini, seharga satu unit mobil Fortuner keluaran terbaru. Makanya aku enggak mau beli sendiri. Memanfaatkan fasilitas seorang abang semaksimal mungkin," jelas Arimbi sembari cengengesan, berbanding terbalik dengan Bi Dijah yang diserang syok mendengar harga mainan.


*****


“Bagaimana kantor LBH mu? Lancar?” Arjuna membuka kata begitu Yudhis ikut bergabung di taman belakang, menghirup udara segar di malam hari sembari menikmati kecipak air kolam hias.


“Semuanya lancar terkendali, Om. Oh ya, di mana Brama?" tanya Yudhis yang sejak tadi tak melihat keberadaan putra sulung sang paman.


"Masih sibuk di Negeri Singa. Merealisasikan pembangunan The Royal Plaza di sana. Dia begitu gigih ingin melebarkan sayap di Singapura."


"Brama memang selalu hebat dan mengesankan walaupun sedikit menyebalkan," canda Yudhis yang berhasil membuat Juna terbahak, mengangguk mengiyakan.


"Lalu, bagaimana kabarnya? Sudah lama aku tidak balapan kuda dengan eksekutif muda jenius klan Syailendra."


“Dia selalu bilang kabarnya tetap keren, sukses dan baik saat kami bertanya. Walaupun kamu pasti tahu sendiri, dia jadi gila kerja dan tak terlihat berminat lagi pada wanita setelah putus dari mantan Putri DKI, Selena Langit Aryasatya. Usulan perjodohan pun kerap ditolak, hanya mengizinkan asisten pribadinya mendampingi setiap aktivitasnya. Entah sampai kapan dia mau begitu, dasar keras kepala!" tutur Juna yang menghela napas berat.


"Semoga Brama segera membuka hati lagi. Supaya Om tidak diledekin papi karena sudah keduluan punya cucu," goda Yudhis usil, yang dihadiahi sang paman dengan decak sebal disusul tawa kemudian.


Bersambung.