
Extra Chapter 3
Hari berganti hari. Tak terasa kandungan Khalisa sudah menginjak bulan ke sembilan. Kehamilannya berkembang dengan semestinya tanpa masalah yang berarti. Hanya sempat mual muntah di trimester pertama yang terbilang masih wajar, serta fase mengidam khas ibu hamil pun tidak sampai berkeinginan ekstrem, cuma sewaktu ingin membeli daster dagangan Windy saja yang agak rewel.
Khalisa mengisi hari-harinya kini sebagai seorang ibu, istri, juga mengikuti les persiapan menjadi mahasiswa di setiap akhir pekan. Ia berencana mendaftar kuliah dan mengambil kelas karyawan setelah melahirkan nanti, selepas bayinya selesai melewati fase pemberian ASI eksklusif.
Yudhis menyarankan Khalisa mengenyam pendidikan lagi sampai jadi sarjana. Memang tidak wajib menjadi sarjana karena sejatinya kewajiban seorang istri itu adalah berbakti pada suaminya. Hanya saja sebagai suami Yudhis merasa berkewajiban mendidik istrinya dalam berbagai aspek, entah itu ilmu agama maupun akademik. Selagi fasilitas dan materi memadai sama sekali bukan halangan melanjutkan pendidikan bagi perempuan meski sudah berstatus menikah, mengingat manusia di dunia diwajibkan mencari ilmu itu sampai masuk ke liang lahat.
Yudhis memang tidak memaksa. Akan tetapi siapa sangka Khalisa begitu antusias dan langsung mengiyakan sarannya. Diberi kesempatan menimba ilmu dalam kondisi lumrah seperti masyarakat pada umumnya bagaikan mimpi yang menjadi nyata baginya. Khalisa sangat suka belajar sejak kecil, ingin bersekolah normal dan umum seperti yang lainnya. Hanya saja kesempatan tak berpihak padanya, bisa mendapatkan ijazah paket C pun sudah sangat bersyukur di tengah segala keterbatasannya dulu.
Khalisa berencana mengambil jurusan manajemen bisnis. Ia ingin ikut membantu Yudhis mengelola garmen nantinya yang rencananya dua tahun lagi akan membuka cabang di Kabupaten Bandung Barat. Yudhis memang tak pernah menuntut Khalisa ikut berkecimpung dalam urusan LBH maupun bisnis sampingan yang digelutinya sedari muda, malah cenderung meminta Khalisa duduk-duduk saja di rumah. Namun, sebagai seorang istri Khalisa ingin memiliki kontribusi, ingin ikut membantu dan juga ingin menggali potensi diri agar bisa mengangkat dagu penuh percaya diri mendampingi suaminya yang begitu luar biasa dari segala arah.
Khalisa ingin menjadi wanita seperti ibu mertuanya. Meski beliau merupakan putri satu-satunya yang berasal dari keluarga kaya raya, Maharani tidak serta merta berpangku tangan, membantu dan mendampingi Barata mengembangkan bisnis sampai sekarang.
Maharani sudah berada di Bandung ketika kandungan Khalisa memasuki kehamilan di masa akhir bulan ke delapan. Sesuai rencana yang sudah disepakati keluarga, Maharani akan tinggal di Bandung karena tidak ingin melewatkan momen melahirkan sang menantu. Berencana tinggal di rumah Yudhis sampai Khalisa dinyatakan pulih sepenuhnya setelah melahirkan nanti, ingin ikut merawat pemulihan istri dari putra sulungnya pasca melahirkan, juga ingin ikut merawat dan menimang si jabang bayi yang dari hasil pemeriksaan USG berjenis kelamin perempuan.
Maharani masuk ke kamar Afkar di mana Khalisa sedang membacakan sebuah buku cerita bertema islami yang dilengkapi gambar-gambar lucu menarik minat para bocah. Dia masuk membawa satu gelas tinggi jus dingin nan segar.
“Khal, minum dulu jusnya, Nak. Jus Buah Naga sangat bagus, supaya HB kamu tidak rendah. Apalagi mau melahirkan, kadar Hemoglobin harus stabil dan normal,” ucap Maharani penuh perhatian.
Khalisa yang sedang bersandar menegakkan punggung, menerima segelas jus buah yang bagi Khalisa bukan hanya sekadar jus, tetapi juga segelas perhatian serta cinta seorang ibu yang tidak pernah didapatkannya sejak ia dapat mengingat.
“Makasih banyak, Mi,” kata Khalisa penuh sukacita. Langsung meneguk isi gelas hingga tandas.
“Lagi apa cucu Oma yang ganteng?” Maharani ikut bergabung duduk di sisi ranjang Afkar. Menyapa manis dan hangat, mengelusi sayang kaki montok Afkar yang sedang berbaring.
“Inih, mau bobo. Tapi matanya endak mau meyem. Selu celita,” celotehnya ceria, berguling-guling senang. Mengatakan matanya susah memejam karena ceritanya seru, padahal pada faktanya sangat jelas terlihat Afkar mulai terkantuk-kantuk.
Suara pagar yang dibuka juga deru mesin kendaraan yang memasuki garasi terdengar sampai ke kamar Afkar.
“Kayaknya Yudhis sudah pulang. Tadi pagi bilang sama Mami katanya pulang dari LBH mau ke Pekalongan ngecek garmennya di sana, tapi ini baru jam delapan dan dia sudah kembali ke rumah.”
“Iya, Mi. Itu suara mobil yang tadi pagi dipakai Bang Yudhis. Mungkin enggak jadi ke Pekalongan.” Khalisa tampak kebingungan. Di satu sisi ia sedang menidurkan Afkar karena memang sudah waktunya Afkar beristirahat, tetapi di sisi lainnya Khalisa ingin menyambut Yudhis di depan pintu.
Keresahan Khalisa terbaca jelas oleh mertuanya. Maharani mengulum senyum, mengambil alih buku cerita dari tangan Khalisa. “Sana, sambut suamimu. Biar Mami yang lanjutkan baca cerita dan kelonin Afkar.”
“Duh, aku jadi enggak enak ngerepotin Mami terus, tadi siang yang kelonin Afkar bobo siang juga Mami.” Seperti itulah Khalisa, kerap sungkan meski ia tahu mertuanya yang ini jelas tulus dan sayang padanya juga Afkar sepenuh hati, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Wulan dulu.
“Acik, celita-celita yagi cama Oma tantik!” pekik Afkar gembira saat melihat Maharani memegang buku yang tadi dibacakan bundanya. “Unda calam Papa aja, Af mau cama Oma duyu. Calamnya nanti,” ujarnya lucu menggemaskan. Begitu pengertian, seolah memahami kegalauan bundanya.
Khalisa meninggalkan Afkar yang bergelung senang di pelukan Maharani. Sungguh hatinya dipenuhi lentera benderang nan hangat di mana-mana. Dirinya yang sempat tak tahu harus pergi ke mana dan entah harus membawa Afkar bernaung di mana hanya beratapkan langit dan beralaskan tanah, kini justru mendapatkan tempat yang selama ini dicari dan dimohonkannya dalam setiap do’anya. Yaitu sebuah naungan perlindungan yang disebut keluarga.
“Assalamualaikum.” Suara maskulin Yudhis menggema begitu pintu depan dibuka.
“Waa’alaikumsalaam.” Khalisa menjawab salam sang suami. Mencium punggung tangan Yudhis penuh takzim, yang dibalas kecupan sayang di ubun-ubun, kening, kedua pipi yang ditutup kecupan manis di bibir.
Yudhis lalu membungkuk, mencium dan mengelus perut Khalisa, menyapa anaknya di dalam sana. “Tuan putri, mana salamnya buat Papa?”
Perut Khalisa langsung menyembul, menonjol di sisi kan dan kiri, seolah si jabang bayi paham bahwa papanya sedang menyapanya.
“Ya ampun, heboh banget ini.” Khalisa terkekeh senang. Ikut mengelusi permukaan perutnya.
“Mana Afkar?” tanya Yudhis, celingukan mencari si bocah gembul yang biasanya berlari menyambutnya saat pulang bekerja. “Sudah tidur?”
“Belum, lagi dikelonin sama Mami, lagi asyik baca buku.”
“Ah, rupanya sama pawangnya. Pantas saja enggak menyambut, karena kalau lagi sama Mami atau Papi, pasti Afkar bawaannya nempel terus.” Yudhis ikut terkekeh, merangkul Khalisa melangkah masuk.
“Iya, tadi juga bilangnya salam sama Papanya nanti saja, mau cerita-cerita dulu sama Oma katanya. Abang sudah makan?”
“Belum, pinginnya makan kamu,” goda Yudhis. Pipi Khalisa merona seketika.
“Oke, deh. Kalau begitu aku akan menyajikan diriku ke atas piring,” sahut Khalisa, mulai berani meladeni godaan suaminya membuat Yudhis tergelak.
“Oh iya, Abang enggak jadi ke Pekalongan ya?”
Yudhis mengangguk. “Hmm. Tadi selepas Asar sudah mau berangkat. Tapi ada informasi jalur ke sana terjadi kecelakaan pohon tumbang yang menimpa beberapa mobil yang lewat, sewaktu hujan deras tadi siang. Mau memaksakan pergi firasatku mendadak enggak enak walaupun cuaca sore tadi sudah kembali cerah. Jadi kutunda minggu depan saja. Kandunganmu bagaimana kabarnya hari ini? Apakah sudah ada tanda-tanda melahirkan?”
“Belum, Bang. Mungkin tanda-tandanya akan muncul sesuai perkiraan dokter, sekitar dua minggu lagi.”
“Ah, aku sudah tak sabar menanti kelahiran putri kita,” kata Yudhis, tersenyum merekah, mendaratkan kecupan bertubi-tubi di kepala Khalisa, sedangkan Khalisa malah menegang mendengar kata melahirkan.
Khalisa mendadak menghentikan langkah. Lantas mendongak pada Yudhis, terlihat takut-takut.
“Ada apa, Khal?” Yudhis mengerutkan kening, bertanya langsung saja saat mendapati bahasa tubuh Khalisa mendadak tegang.
Khalisa meremas jari jemarinya sendiri, menelan ludah resah lalu berkata sangat pelan. “Bang, se-sebenarnya. Aku … aku takut melahirkan.”