Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Menjadi Kita


Bab 113. Menjadi Kita


Di dini hari, Yudhis terusik dingin yang membelai pundak. Menggosok pelan matanya, menarik kedua alis nyaris menyatu memfokuskan mata pada jam dinding yang jarum pendeknya terarah pada angka dua dengan jarum panjang menunjuk ke angka enam.


Hawa sejuk yang dirasakannya, rupanya karena selimut yang membungkus tubuh tertarik turun hingga sebatas siku. Begitu kontras dengan suhu di hadapannya, jika punggung belakangnya kedinginan, lain halnya dengan dada bidangnya yang terasa amat hangat bahkan nyaris panas. Tentu saja kehangatan nan nyaman itu efek dari tubuh lembut yang bergelung mendesaknya. Bergesekkan kulit dengannya di bawah satu selimut, terlelap berbantalkan sebelah lengannya, balas memeluknya, menempelkan pipi sementara matanya memejam rapat.


Rekah senyum tak terelakkan bersama sanubari yang gegap gempita merayakan kebahagiaan. Yudhis menunduk, mengamati lekat-lekat si tulang rusuknya yang terlelap di pelukan. Mengamati alis rapinya, hidung bangirnya, dagu lancipnya, pipi mulusnya serta bibir merah delimanya yang sedikit bengkak akibat dikulumnya rakus ketika peleburan tadi membuat Yudhis lagi-lagi terpesona.


“Cantik. Istriku sangat cantik, cantik paras juga lembut hati,” gumamnya memuja tulus dari dasar jiwa. Mengecup kening, hidung juga bibir si pujaan hati yang masih asyik di dimensi tidurnya.


Buncah bahagia bak taburan kelip bintang menghiasi ruang rasa kalbunya. Memukau tiada tara, syahdu menghangatkan kalbu saat teringat kembali kejadian bergelora sebelum tidur tadi, bahwa kini Khalisa dan dirinya telah menjadi kita, menyempurnakan rasa hatinya yang telah seutuhnya berbalas. Juga mengingatkannya lagi pada rasa nikmat nyata kemenangan yang sesungguhnya, bukan hanya di alam mimpi seperti yang pernah dirasakannya, saat indahnya surga dunia digapai bersama. Saling memberi dan menerima, memenuhi dan dipenuhi nafkan batinnya bersama cinta yang kian bersemi indah.


Sebenarnya Yudhis ingin berlama-lama memeluk Khalisa. Hanya saja rutinitas yang sudah terbiasa dilakukannya di dini hari membuat Yudhis mengurungkan niat untuk bergelung lagi meskipun ingin. Memutuskan bangun dan melakukan mandi wajib sebelum bersujud di hamparan sajadah pada sepertiga malam.


“Maaf, Sayang. Aku harus bangun,” ucap Yudhis sangat pelan, seraya mencium ubun-ubun Khalisa.


Yudhis menarik lengannya yang dijadikan bantal perlahan-lahan supaya Khalisa tidak terbangun, menggantinya dengan bantal sungguhan. Selimut pun dibungkuskan erat penuh kasih, memastikan Khalisa tetap hangat, terlindungi dari hawa dingin di dini hari.


Baru saja Yudhis hendak beranjak dari tepian ranjang, pergelangan tangannya terasa ditarik.


“Abang mau ke mana?” tanya Khalisa serak dengan mata terkantuk-kantuk.


“Aku mau mandi wajib. Maaf kamu jadi terbangun, tidur lagi saja, ini baru setengah tiga.” Yudhis kembali menggeser duduknya mendekat, membungkuk dan merapikan rambut Khalisa yang terjatuh di kening.


“Kenapa mandi jam segini? Bukannya waktu Subuh masih lama?” tanya Khalisa lagi, sedikit merengek.


“Aku hendak menunaikan salat sunnah malam. Salat Tahajud. Karena aku punya hadas besar, jadi harus mandi wajib terlebih dahulu, menyucikan diri dari hadas besar,” jelas Yudhis sembari membelai lembut rambut Khalisa.


“Tahajud? Apa itu?” nada penasaran amat terdengar jelas.


Ketidaktahuan Khalisa akan amalan-amalan sunnah bukan sebab ia bodoh, melainkan penyebabnya adalah karena sejak kecil tak pernah diberi kesempatan belajar yang mumpuni juga tumbuh di lingkungan yang tidak sehat, tidak ada yang mendukung maupun mendorongnya. Dan saat ia beranjak dewasa kemudian bersuami, Khalisa sama sekali tidak mendapat bimbingan, yang ada hanya perundungan.


“Kalau begitu. Aku juga mau ikut salat Tahajud,” cicit Khalisa, beringsut bangun tak sabaran. “Abang mau kan mengajariku? Aku juga ingin menjadi manusia yang pandai bersyukur, ingin belajar lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta seperti yang Abang lakukan.”


Senyum Yudhis mengembang lalu mengangguk, membuat Khalisa memekik senang, tak ubahnya anak kecil yang dibolehkan memakan es krim di saat sedang batuk pilek.


Mereka mandi bersama kendati keduanya masih kikuk dan agak malu. Sebagai suami, Yudhis mendengarkan Khalisa membaca niat bersuci dari hadas junub lebih dulu, khawatir masih keliru. Dan dia bernapas lega saat Khalisa ternyata dapat membacanya dengan benar. Juga memerhatikan detail cara bersuci, agar mandi wajib mereka sah dan benar.


Mereka mandi di bawah kucuran air hangat, benar-benar hanya mandi saling menyabuni kendati canggung. Dan saat waktunya membilas, Yudhis mempersilakan Khalisa membilas diri terlebih dahulu untuk menyelesaikan mandinya, selalu mengutamakan Khalisa di setiap saat, dan setelahnya barulah gilirannya.


Khalisa mengecup punggung tangan Yudhis begitu salat selesai. Sang suami mengajari dengan sabar dan sang istri patuh mengikuti penuh semangat. Keduanya dibanjiri nikmat ibadah bersama tiada tara. Kenikmatan luar biasa yang baru dirasakan Khalisa selama hidupnya.


Seperti biasa, Yudhis menunggu waktu subuh dengan berzikir dan mendaras kitab suci. Khalisa duduk masih memakai mukena tak jauh darinya. Mendengarkan dengan khidmat juga memerhatikan secara saksama, dibuat terus terkagum-kagum pada sosok tampan berlesung pipi itu.


Sebenarnya, inginnya Yudhis bergelung kembali di bawah selimut dan mengacak seprai mengulangi yang semalam, tergoda dingin menusuk tulang yang pasti lebih nikmat untuk mendaki nirwana bersama yang dicinta. Namun, khawatir nantinya malah salat Subuhnya kesiangan, menyabarkan diri dan berseru pada dirinya sendiri bahwa masih banyak waktu untuk itu.


“Ayo, kita beribadah lagi.” Yudhis menyergap Khalisa yang sedang melipat mukena saat baru saja menyelesaikan rangkaian ibadah subuh bersamanya.


“Hah? Maksud Abang solat lagi?” imbuhnya polos.


“Bukan itu, tapi ibadah yang mampu mengusir dingin, membuat berkeringat, plus menunaikan misi memberi adik buat Afkar, Bunda,” bisiknya sensual menggoda ke telinga Khalisa membuat si empunya meremang.


Khalisa tersipu. Membiarkan dirinya diseret ke atas ranjang, memasrahkan diri dikecup sayang, dipuja dan dibuat melayang. Menerbitkan rintih nikmatnya lebih hebat dari yang semalam, saat sang jantan mencumbunya lebih rakus dari kali pertama. Membanjirinya dengan benih-benih cinta mengalir deras menghangatkan rahimnya, setelah dirinya dibuat mengerang dan mengejang terlebih dahulu, dipenuhi kepuasan nafkah batinnya yang dulu lebih sering diabaikan oleh yang pertama mempersuntingnya.


Saling memeluk lagi kembali diulangi, saling mengusak ranjang menyambut pagi. Lagi, kali ini Yudhis mengungkung lagi setelah beberapa saat beristirahat memulihkan tenaga sembari saling membelai setelah meraih kemenangan bersama. Belum puas mereguk madu manis si bunga indah pujaan. Ingin menuntaskan dahaga tak berkesudahannya.


Dan tak disangka kali ini Khalisa mengutarakan ingin belajar menjadi pihak yang melayaninya meski dengan malu-malu. Ingin menguji diri berdasarkan yang pernah diajarkan Tya tentang cara memuaskan pria di ranjang, yang tak disangka kini malah bermanfaat dalam konteks ibadah halal, kendati bagi Khalisa pun ini merupakan kali pertama belajar agresif demi ingin menyenangkan sang suami.


Yudhis lebih dari sekadar senang, menyambut penuh sukacita, mempersilakan ratu hatinya menguasai medan kali ini. Memberi Khalisa kepercayaan penuh memimpin peleburan, bersinergi bersama hingga indahnya surga dunia kembali digapai bersama-sama berpadu teriakan menggema.


Bersambung.