
Bab 40. Hari H
Tya menutupkan pintu kamar yang ditempati Khalisa, menguncinya rapat-rapat.
“Khal, masih ada kesempatan buat kamu mengubah niatmu. Kumohon, berhentilah,” ucap Tya sembari memegang kedua pundak Khalisa.
“Aku sudah membulatkan tekad. Jadi Mbak Tya jangan buang-buang tenaga untuk menghentikanku. Juga, seperti yang Jordan bilang, aku punya utang di muka yang harus kubayar, yaitu semua biaya perawatan, makanan juga pakaianku selama dua bulan lebih di sini. Jadi aku enggak bisa mundur lagi dan aku memang tak berniat untuk berhenti,” sahut Khalisa tetap kukuh.
“Kamu pasti masih ingat, cincin mas kawin yang sewaktu pertama kali kamu datang ke sini masih kamu pakai, bukankah itu disita Jordan saat kamu mengangguk setuju untuk dilatih menjadi salah satu bunga malamnya? Anggap saja itu sebagai kompensasi atas biaya yang telah dikeluarkan Jordan. Juga, kamu di sini enggak makan tidur gratis, setiap sore kamu ditugaskan membersihkan halaman paviliun depan yang luas itu.”
Menepis tangan Tya dari pundaknya, Khalisa berpaling menuju jendela, tatapannya menerawang nyalang ke luar sana.
“Aku ingin segera menjemput anakku. Sudah mati-matian kutahan rasa rindu juga rasa khawatir, aku enggak bisa menahan diri lebih lama lagi. Jangan capek-capek mencegahku, Mbak. Keluar dari sini pun aku mau cari uang sebanyak itu ke mana? Aku bukan anak sultan, bahkan orang tua pun tak punya. Aku hanya akan bekerja sementara saja dan Jordan pun sudah menyetujui, setelah uang yang kuinginkan kudapat, aku akan pergi dari sini.” Tekad yang terbangun dari rasa sakit luka hati serta kemarahan, cukup sulit dirobohkan, Khalisa tak mudah digoyahkan, tetap bersikukuh pada pendiriannya.
Menghela udara dalam-dalam, Tya mengembuskan napasnya berat, menatap punggung Khalisa prihatin. Tya amat paham bagaimana hancur leburnya mental Khalisa, sehingga nekat memilih jalur gelap ini demi memeluk anaknya kembali.
Namun, tetap saja Tya tidak ingin Khalisa tercebur ke dalam lembah nista sepertinya, sebab tahu betul, jika sudah terjebak dalam lingkaran kelam milik Jordan, harapan untuk terbebas dari cengkeramannya teramat tipis, sulit mencari peluang melarikan diri. Tya yakin, di luar sana pasti masihlah ada solusi lain yang lebih baik meski mungkin sulit dicari, seumpama mencari jarum di tumpukan jerami.
“Yakin Jordan akan menepati janji? Kamu itu terlalu naif, Khal. Mulut Jordan sama sekali enggak bisa dipegang ucapannya. Kamu itu berlian yang sudah lama diincarnya, setelah keinginanmu terpenuhi, dia enggak akan melepaskanmu meski kamu memohon di kakinya. Kamu harus tahu itu!” Tya mencoba lagi memberi masukan, kali ini menekankan setiap kata-katanya, tak menyerah meyakinkan Khalisa untuk berhenti. Tya maklum akan pikiran pendek Khalisa, semua ibu di dunia ini sudah pasti akan melakukan apa pun demi si buah hati, bahkan nyawa pun rela dikorbankan.
“Jangan buang-buang energi, Mbak. Kalau Mbak Tya enggak mau mendandaniku, biar aku yang bersiap-siap sendiri,” ketus Khalisa keras kepala.
“Baiklah kalau begitu. Di kemunculan perdanamu, biarkan aku yang mendandani. Untuk selanjutnya kamu bebas merias diri sendiri, duduklah.”
Tepuk tangan Jordan menggema di udara. Para bunga malamnya yang akan bertugas menguras pundi-pundi para hidung belang sudah bersiap berjejer rapi di hadapannya. Semuanya berusaha memasang senyum simpul, tak terkecuali Khalisa. Gaun pendek sepaha dengan model belahan dada rendah mendominasi pakaian yang dikenakan. Ada yang modelnya ketat, ada pula yang beriak-riak. Memamerkan kemolekan.
“Bagus, kalian semua memesona dan menggairahkan. Apalagi kamu, berlianku, kamu bersinar. Aku memasang tarif tertinggi malam ini khusus untukmu. Ingat, jangan mengecewakan.” Jordan terkekeh pelan, menjumput ujung rambut Khalisa yang tergerai dan menghidu wanginya dalam-dalam, kurang ajar.
“Bawa mereka semua ke kelab, sekarang juga!”
“Ada apa lagi,” sambar Jordan tak sabaran.
“Untuk Khalisa dan beberapa unggulanmu, aku sarankan untuk dibawa ke kafe remang-remang yang menjadi favorit pelanggan VIP kita. Kemarin aku sempat menguping, mereka akan janjian bertemu di sana. Si pejabat nakal yang paling royal juga akan hadir, mereka hendak membuat perayaan privat. Bukankah mereka paling suka barang baru? Aku yakin mereka tak segan merogoh kocek dalam-dalam, terutama untuk Khalisa.”
Tya merayu dan mengusulkan hal itu pada Jordan sebagai upaya terakhir akan rasa kasihnya pada Khalisa, masih hendak berupaya meyakinkan di perjalanan nanti. Andai Khalisa akhirnya tak bisa dihentikan, setidaknya Tya berusaha memilihkan pelanggan yang berlaku lembut pada kupu-kupu malam yang dibayarnya, bukan yang berbuat kasar. Berbeda dengan situasi di kelab, yang kebanyakan pelanggannya sudah teler dan mabuk berat.
*****
“Pak Yudhis, klien terbaru kita mengajak bertemu malam ini, di sebuah kafe mewah yang setahuku sebenarnya sejenis kafe remang-remang, hanya saja tidak kentara karena terbalut bungkus mahal, cuma segelintir orang yang tahu,” kata Raja. Dia, Yudhis juga Erika masih berada di kantor padahal hari sudah larut, hampir memasuki pukul sembilan.
“Hmm, klien yang mana?” Yudhis sudah tidak aneh dengan permintaan klien yang terkadang ingin bertemu membicarakan hal penting terkait pendampingan hukum di tempat-tempat tak lazim. Dia bahkan pernah beberapa kali menginjakkan kaki ke kelab hiburan. Bukan hendak minum dan berdansa, semua dilakoni untuk urusan pekerjaan demi membela dan menolong yang kesusahan.
“Yang kemarin sore takut-takut dan celingukan pas datang ke sini, yang bawa anak kembar. Yang Anda tugaskan untuk saya dan Mbak Erika tangani dulu saat Anda sedang ada tamu penting dari kejaksaan.”
“Kenapa memilih bertemu di sana?” Yudhis bertanya sembari mengusap dagu.
“Dia bekerja sebagai waiters di situ, sudah satu tahun, setelah suaminya berpulang. Dia cerita, terpaksa bekerja di sana demi menghidupi anak-anak juga ibunya yang sakit, sulit mencari pekerjaan yang bayaran dan tipnya lumayan, walaupun dia mengatakan tak nyaman bekerja di lingkungan semacam itu. Alasannya meminta bertemu di sana bukan di kantor lagi demi alasan keamanan juga, agar saudara-saudara serakahnya yang terus menahan hak bagiannya dari hasil penjualan tanah warisan orang tua mereka dengan berbagai dalih, tidak mengendus upayanya mencari bantuan keadilan, soalnya di telepon tadi dia berkata, kemarin sore merasa dibuntuti." Erika ikut menimpali, kemudian Raja kembali menyambung kata sembari menunjukkan beberapa berkas.
"Dari keterangannya, dia merupakan anak bungsu yang selama ini tak berani protes pada keegoisan kakak-kakaknya. Ibunya yang pikun, sejak lama dirawat olehnya karena anak si ibu yang lainnya tidak ada satu pun yang sudi merawat. Malah asyik menghamburkan uang. Memutuskan menuntut setelah lelah menunggu selama ini, terdesak faktor kebutuhan. Butuh bekal untuk biaya sekolah, untuk berobat si ibu. Juga ingin berhenti bekerja di kafe itu, berniat membuka usaha makanan sendiri di rumah. Lagi pula, bagian warisan itu memang merupakan haknya. Beberapa berkas pelengkap sudah diserahkan pada kita, dan malam ini dia hendak menyerahkan sisanya sambil menjelaskan lagi detail perkaranya.”
Yudhis mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan panjang lebar Erika juga Raja, sekaligus membaca kembali beberapa lembar kertas penting yang berserakan di meja.
“Oke, kita berangkat. Aku bawa mobil sendiri. Kamu dan Raja pakai mobil operasional kantor.”
Bersambung.