Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tersedak


Bab 52. Tersedak


Jordan melempar gelas berisi wiski yang sedang diteguknya. Membantingnya ke dinding, berakhir pecah berserakan di lantai.


“Sial!” umpatnya berang, wajahnya merah padam penuh emosi. “Kenapa harus Khalisa! Padahal aku sudah lama mengincar si lugu itu. Dia punya daya pikat berbeda. Bahkan di kemunculan perdananya ada berani membayar dua ratus juta, hal yang cukup langka. Bisa-bisanya si lugu naif itu malah berulah jadi maling dan terpaksa harus kulepaskan. Juga, kenapa setelah ditempa selama tiga bulan lamanya tidak membuahkan hasil melayani tamu? Arghh sial! Seharusnya aku menguji cobanya dulu sendiri!” semburnya marah.


“Tapi, kurasa, performa perdananya yang buruk sama sekali bukan kesalahan arahan kita, Jordan. Metode pelatihan yang kamu buat itu sudah yang paling terbaik di antara para pesaingmu.” Tya melontarkan pujian terselubung maksud lain, duduk di pangkuan Jordan dengan pose merayu.


“Jadi, apanya yang salah? Kamu melatihnya dengan benar kan?” Jordan meruncingkan ujung mata pada Tya.


“Buktinya selama ini, yang kulatih kebanyakan selalu berhasil menjadi bunga malam terampil, hanya ada beberapa yang amatir setelah dilatih, yang memang enggak ada bakat merayu. Bisa jadi Khalisa adalah salah satunya, yang memang enggak berbakat mau dilatih sekeras apapun. Lagi pula, lebih baik dilepaskan daripada ikut terbawa-bawa kasus yang melibatkan lapor melapor ke pihak berwajib . Bukankah kamu tidak suka itu, Jordan? Kau pernah bilang berurusan dengan pihak berwajib itu merepotkan walaupun ada beking di belakang punggungmu. Terlebih lagi, yang membeli jasanya semalam pasti orang berduit serta berpengaruh. Dia bilang punya bukti CCTV kan? Dilihat dari tampilannya sekilas pun, pria yang semalam membayar Khalisa pasti bukan orang sembarangan.”


Tya ikut menimpali meniupkan debu pada pikiran Jordan yang sedang carut marut supaya semakin keruh. Tya merasa lega mendengar Khalisa kabur meski berita tentang pencurian membuatnya cukup tercengang. Merasa tak percaya sosok selugu Khalisa berani mencuri. Namun, menurut Tya itu lebih baik daripada berkubang di lembah nista nan kotor kendati sama-sama tak bisa dibenarkan. Mengira pasti Khalisa nekat menjadi pencuri demi mendapat uang lima ratus juta lebih cepat.


*****


Hoodie dan celana jeans yang dipinjamkan Aloisa menjadi pembungkus tubuh Khalisa siang ini, terlihat lebih baik jika dibandingkan celana trening dan sweter kedodoran milik Yudhis yang dipakai sebelumnya. Sengaja Yudhis meminta Aloisa meminjami hodie berpenutup kepala, khawatir berpapasan dengan anak buah si mucikari dan mengenali Khalisa sedang berkeliaran dengannya.


“Kita mau ke mana, Bang?” Khalisa memberanikan diri bertanya saat mobil melambat di jalanan padat. Cuaca cukup terik di luar sana, beruntung pendingin mobil berembus sejuk di suhu yang pas sehingga penghuni di dalamnya tetap merasa nyaman.


Yudhis tak langsung menjawab, asyik merasai sensasi berombak-ombak dalam dada meresapi sebutan ‘Abang’ yang diucapkan Khalisa. Terdengar lebih merdu ketimbang saat diucapkan orang lain, menggelitiki segumpal daging yang bersemayam di balik rongga dadanya.


Tak kunjung mendapat jawaban, Khalisa menoleh dan menelengkan kepala. “Bang, kita mau ke mana?” cicitnya lagi. Khalisa ingin tahu sebab Yudhis belum memberitahu tujuan mereka pergi.


“Eh, iya cantik. Kita mau per_”


Belum juga kalimatnya rampung, Yudhis terbatuk kencang, tersedak omongannya sendiri. Secara impulsif, mulutnya menyerukan apa yang berkerumun di otaknya, membuatnya terperanjat kaget.


“Abang kenapa batuk-batuk? Sakit?” Khalisa tidak fokus pada ucapan Yudhis sebelumnya, teralihkan pada batuk yang mendadak ribut. Mengambil sebotol air mineral di dekat jok, Khalisa membukanya dan menyodorkannya pada Yudhis.


“Minum dulu, Bang. Itu mukanya sampai merah begitu, pasti tenggorokannya sakit banget ya?” ujar Khalisa cemas.


“Makasih,” jawab Yudhis singkat, menerima uluran air dan meneguknya. Menenangkan diri secepat mungkin kemudian menyambung kata. “Aku mengajakmu keluar untuk membeli beberapa potong baju. Kalau kubelikan takutnya tidak cocok ukuran dan modelnya. Enggak mungkin kamu terus-terusan pakai sweter dan trening kan?”


“Aku yang bayar. Sebagai imbalan atas segelas kopi nikmat yang kamu buatkan tadi pagi. Tapi, sebelum berbelanja temani aku makan siang, rasa-rasanya aku mulai bosan makan sendiri, ketagihan makan ditemani seperti tadi pagi.”


Bersambung.


Note


Assalamualaikum, halo para pembacaku tersayang, bagaimana kabarnya sore ini? Terima kasih selalu setia menanti Khalisa-Yudhistira.


Alhamdulillah wasyukurillah, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih buat semua teman-teman pembaca tersayang. Terharu sangat hati ini atas antusiasme juga apresiasi, dukungan dan cintanya untuk cerita ini melalui vote, gift, like, favorit dan komentarnya. Semoga semua kebaikan kalian, dibalas Allah dengan ribuan kebaikan lainnya yang tak terhingga.


Bismillah. Sebagai tanda cinta dan sayangku atas apresiasi luar biasa kalian, aku akan mengadakan giveaway yang akan diumumkan pemenangnya begitu novel ini tamat. Hanya sebuah kenang-kenangan dari Senjahari, si binar jingga di ufuk Barat yang ingin mengindahkan dan menghangatkan hati kalian layakanya senja di sore hari.


Hadiah giveaway berupa kenang-kenangan akan diberikan pada akun pembaca yang menempati podium dukungan vote dan gift 3 teratas.


*Podium dukungan 1 hadiah giveaway berupa paket hampers berisi tumbler spesial Senjahari, kerudung spesial Senjahari, dan satu buah frame kacamata (Untuk frame bisa custom, nanti bisa pilih sendiri)


*Podium dukungan dua akan mendapat hadiah giveaway tumbler spesial Senjahari dan minigram.


*Podium dukungan tiga akan mendapat giveaway kerudung spesial Senjahari dan minigram.


*Dukungan posisi 4-10 akan mendapatkan hadiah hiburan.


Dukung terus cerita Suci Dalam Noda, ajak juga teman-teman kalian untuk membaca supaya ikut memetik makna baik dari cerita ini. Share juga di sosial mediamu, agar cerita ini bisa dibaca lebih banyak penikmat aksara dan dipetik hikmahnya oleh banyak orang, bukan hanya sekadar hiburan di kala senggang.


Ingin lebih dekat dengan author? Follow Instagramku di @Senjahari2412


With love,


Senjahari_ID24