
Bab 58. Jaga Pandangan
Sudah tiga hari Khalisa tidak bertemu Yudhis, hanya bertukar informasi tentang progres perkembangan rencana Yudhis dan tim dalam proses membantunya melalui ponsel saja. Meminta Khalisa tetap berdiam diri di rumah Ghaisan dan Aloisa, dilarang bepergian keluar kecuali ada yang mengantar, khawatir si mucikari ataupun antek-anteknya memergoki Khalisa jika berkeliaran sendirian.
Sabtu pagi ini, Khalisa bersiap pergi ke rumah Yudhis. Sewaktu di perjalanan pulang sehabis berbelanja beberapa hari lalu, Khalisa sempat memaksa meminta pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, menjadi tukang sapu di kantor Yudhis pun tak mengapa, tak enak hati jika hanya menerima bantuan tanpa tahu membalas budi maupun memberi kontribusi.
Lebih tepatnya tak terbiasa, apalagi bantuan Yudhis padanya bagi Khalisa begitu melimpah, merasa sungkan jikalau hanya menerima secara cuma-cuma. Kendati enggan, akhirnya Yudhis memberi pekerjaan yang dirasa tetap aman bagi Khalisa dibandingkan bekerja di kantornya yang notabene merupakan lokasi fasilitas umum. Meminta si cantik nan ayu bermata sendu itu untuk berbenah dan membersihkan rumahnya di setiap akhir pekan, yaitu di hari Sabtu dan Minggu. Pekerjaan berbenah yang biasanya dilakukan oleh Yudhis sendiri dibantu si bapak tukang kebun.
“Kami yang antar. Tadinya Bang Yudhis mau ke sini jemput kamu, tapi aku sama Mas Ghai mau kencan pagi ini sambil olahraga di alun-alun, mau pacaran halal," ujar Aloisa gembira.
Aloisa sudah siap dengan pakaian olahraga begitu juga Ghaisan, Aloisa menghampiri Khalisa yang sudah cantik lagi-lagi sibuk membantu ART menjemur pakaian sebelum pergi.
Seperti di rumah Aloisa ini, Khalisa sangat jarang duduk diam meski si nyonya rumah mencerocos bawel memintanya banyak makan saja supaya lebih kuat menghadapi keluarga mantan suami bajingannya saat tiba masanya bertemu kembali. Bahkan hari kemarin Aloisa dibuat melongo juga ternganga, Khalisa yang lemah lembut dan terbilang mungil itu mengangkut galon penuh yang ditaruh pengantar air di depan pintu, sampai-sampai Aloisa meraba lengan Khalisa, mencari-cari kemungkinan eksistensi otot di sana yang menurutnya tenaga Khalisa cukup ajaib, tetapi yang didapatinya hanya lengan ramping.
“Baik, Kak. Saya ke depan sebentar lagi. Ini tanggung, masih ada satu ember tersisa yang belum dijemur,” sahut Khalisa sopan, di sela-sela sibuk menjemur.
“Ya ampun, aku merasa jadi si bawang merah dan kamu bawang putihnya! Biarkan ART yang mengerjakan sisanya, kamu mau ke rumah Bang Yudhis buat kerja kayak gini juga kan? Jadi, lebih baik simpan energimu. Ayo berangkat sekarang,” titah Aloisa tak mau dibantah, menarik lengan Khalisa supaya ikut dengannya.
*****
Sudah satu jam Yudhis mondar-mandir resah tak menentu di teras rumahnya, melongok ke gerbang pagar berkali-kali. Si tukang kebun yang sedang membersihkan kolam Ikan Koi menggeleng-geleng heran, ikut pusing sendiri melihat tindak tanduk tuannya yang tidak biasa.
“Ada di situ, Mang. Di laci kecil meja taman,” sahut Yudhis tidak begitu tanggap akibat fokusnya bercabang-cabang.
“Tapi ini adanya tinggal yang bungkusnya warna ungu, yang gambarnya si empus,” imbuh si mamang.
“Kasih dulu yang itu saja, Mang,” jawab Yudhis yang memang hilang konsentrasi.
“Hah? Ikan dikasih makanan kucing? Nanti ikannya berubah kumisan banyak jadi kayak kucing tidak ya?” gumam si mamang pelan juga bingung, menggaruk-garuk kepalanya tak gatal.
“Ck, kenapa masih belum sampai? Biasanya cuma butuh waktu tempuh dua puluh menit saja dari rumahnya ke sini, tapi ini sudah 23 menit masih belum sampai juga!” gerutu Yudhis resah, sembari memeriksa penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan.
Demi ikan-ikan Koi yang sedang berenang di ember besar saat singgasananya sedang dibersihkan, andai dapat berbicara mereka pasti sudah menjadi tim hore yang menyoraki kegalauan si pria berkaus hitam yang baru kali ini berulah bak cacing kepanasan. Baru telat tiga menit saja Yudhis sudah sewot tak karuan. Ini merupakan kali perdananya menanti dan menunggu seseorang, lantaran biasanya dirinya lah yang ditunggu.
Deru mesin mobil yang berhenti di halaman mengurai kegelisahan di wajah Yudhis. Dia sampai-sampai harus mengatur laju oksigen ke paru-paru demi tetap terlihat tenang dan berwibawa, menarik dan membuang napas teratur saat seseorang yang dinanti-nanti sudah tiba.
Yudhis terkesima saat melihat Khalisa dalam balutan busana muslim turun dari mobil, terpesona tiada tara, tertawan hati melalui mata, sebelum akhirnya keterpanaannya buyar oleh tepukan kencang di pundak juga bisikkan di telinganya.
“Hei, ingat, jaga pandanganmu!” bisik Ghaisan tepat ke telinga Yudhistira.
Bersambung