Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Cemburu


Bab 107. Cemburu


“Hai, pengantin baruuuuuu.”


Aloisa yang baru masuk ke ruangan di mana Khalisa akan melakukan treatment, bercicit dengan hebohnya seperti biasa jika dia bertemu dengan orang-orang yang cukup dekat dengannya.


“Gimana kabarmu setelah menjadi Nyonya Yudhistira? Pasti Bang Yudhis memperlakukanmu bak ratu iya kan? Mengingat setelah lama betah menjomblo walaupun banyak perempuan yang mendekati secara tersirat bahkan sampai terang-terangan, mendadak dia memutuskan meminang seseorang sudah tentu rasa hatinya bukan main-main. Sebab Bang Yudhis pernah berkata, bahwa baginya pernikahan itu cuma sekali seumur hidup,” cerocos Aloisa berisik seolah mulutnya tak memiliki rem, membuat Khalisa tertawa canggung.


“Kabarku baik, Kak.” Hanya kalimat singkat itu yang Khalisa ucapkan lantaran bingung entah harus menjawab apa.


Aloisa meminta Khalisa berbaring pada bed yang sudah tersedia, lalu dia mulai melakukan tugasnya, menggulirkan alat memeriksa kondisi kulit Khalisa.


“Kulitmu termasuk bagus dan sehat walaupun rentan kering kalau cuaca terlalu dingin, benar begitu kan?”


“Iya, Kak. Kalau cuaca Bandung sedang dingin sekali, kulitku agak kering di beberapa bagian. Biasanya aku pakai baby krim punya Afkar, biar sekalian dan lebih hemat. Afkar tetap pakai baby krim dan aku bisa sekalian pakai buat pelembap,” tutur Khalisa apa adanya.


“Nanti akan kupilihkan skincare spesifik yang berfungi mempertahankan kelembapan sepanjang hari. Uang Bang Yudhis itu banyak, kamu jangan pakai baby krim lagi. Skincare Bang Yudhis saja pakai yang terbaik dari sini. Wajah dan tubuh perlu dirawat dengan perawatan terbaik jika memang mampu dan ada dananya, supaya tetap terjaga dan terpelihara, bukan hanya dengan air wudhu saja, karena untuk yang satu itu mutlak jelas wajib.”


Khalisa hanya mengangguk tipis, meski hatinya masih was-was, takut menjadi beban yang menghabiskan uang Yudhis untuk perawatan sekujur daksanya.


“Sorry, perawatan wajahmu jadinya dilakukan di step terakhir karena tadi aku harus menangani dua orang pasien VIP, ibu dan anak yang baru dua kali treatment di sini. Agak rewel, tapi tentu saja enggak mengalahkan kebawelanku,” ujarnya yang terkikik-kikik kemudian. “Setelah perawatan wajah nanti, kamu yang sudah cantik dan ayu ini bakal makin glowing. Akan kubuatkan perbandingan before afternya.”


“Ah, kakak terlalu memuji,” ujar Khalisa yang memang merasa dirinya biasa saja.


“Gimana tadi perawatan tubuh dan ratus di sini, suka?”


“Suka, Kak. Perawatannya bikin aku wangi, dan ini baru pertama kali buatku melakukan perawatan sangat lengkap begini.”


Ya, ini memang merupakan kali pertama bagi Khalisa. Saat masih bersama Dion, boro-boro untuk perawatan, untuk keperluan Afkar pun diatur Wulan. Walaupun ketika di tempat Jordan ia sempat diberikan perawatan tubuh dan wajah, jenis perawatannya tentu saja bukan kelas terbaik seperti yang didapatkannya kali ini. Di tempat Jordan memiliki tempat khusus tersendiri untuk perawatan tubuh para bunga malamnya tanpa harus pergi ke klinik, bisa dibilang treatment tahap menengah, bukan yang berkualitas super semacam ini.


“Syukurlah kalau kamu suka, dan aku yakin Bang Yudhis juga pasti suka, terutama hasil treatment ratus yang kamu lakukan tadi.” Aloisa cengengesan, nyengir kuda, sementara Khalisa yang masih belum paham hanya datar saja.


“Memangnya gunanya ratus saat spa tadi itu buat apa?” tanyanya polos karena memang tidak tahu dan tidak pernah.


Seketika pipi Khalisa memanas, memerah merona setelah paham apa gunanya, mengomel dalam hati sebab merasa bodoh karena tak tahu akan hal semacam ini padahal ia sudah pernah menikah.


“Perawatan yang bikin suami makin lengket dan kita juga dapat banyak pahala sebagai istri. Menunjang salah satu ibadah yang membuat pasangan sama-sama bahagia, mengeratkan ikatan pernikahan, apalagi pengantin baru yang pasti bawaannya pingin gempur terus. Bukankah begitu?” kekehnya menggoda Khalisa yang sedang merona, kentara salah tingkah juga malu.


“Kata Mbak Farhana yang sering memberiku nasihat seputar pernikahan, menyenangkan suami itu banyak pahalanya, bonusnya makin disayang tentu saja. Urusan pemenuhan nafkah batin itu aspek krusial bagi pasangan menikah, wajib dilakukan setelah kita terikat yang namanya janji suci pernikahan, karena sumpah itu mengikat kita dengan pertanggungjawaban dunia akhirat. Terlebih jika suami ingin dengan meminta baik-baik, berdosa bagi kita kalau tidak menunaikan. Bahkan tidur memunggungi suami pun seharusnya tidak boleh dilakukan, kecuali memang suami meminta dan rido, seperti misalnya suami ingin tidur memeluk dari belakang,” tutur Aloisa, yang tanpa disadarinya semua kalimatnya sedang diolah pemikiran Khalisa yang beberapa hari ini sedang berupaya membuka hati dan pikiran tentang pernikahannya dengan Yudhis.


Dan kata-kata selanjutnya yang terlontar dari mulut Aloisa seolah tak terdengar lagi di telinga Khalisa, seakan mengambang. Ia sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri setelah Aloisa menyinggung perihal pertanggungjawaban dunia akhirat. Mau dilihat dari sudut pandang mana pun, dirinya dan Yudhis adalah pasangan menikah secara sah sekarang, sudah pasti di dalamnya terikat dengan semua kewajiban berikut tanggung jawab suami istri yang sudah ditetapkan dalam aturan agama juga negara.


Sore harinya Yudhis kembali ke klinik untuk menjemput Khalisa, duduk di ruang tunggu bagian depan sembari memeriksa dokumen-dokumen penting yang masuk ke alamat emailnya, yang kebanyakan berkaitan dengan pekerjaan. Beberapa notifikasi kiriman foto juga tampak masuk di panel atas ponsel, berasal dari aplikasi chat berlogo warna hijau yang semakin canggih fiturnya dari hari ke hari.


Foto-foto yang masuk adalah gambar Afkar yang bermain gembira di pantai di sore hari, ditemani papinya yang ikut berselfie ria, tak ketinggalan mencantumkan pesan teks susulan yang membuat Yudhis mengulum tawa dengan tingkah papinya sekaligus ingin.


Bunda, Papa, Af lagi main pasir sama Abah di pantai. Tolong buatkan adik secepatnya ya, biar Af ada teman main selain Abah yang sudah tua dan berisik ini.


“Mas ganteng?”


Seorang wanita berbaju mini menyapa dan menghampiri. Langsung duduk di sofa panjang ruang tunggu itu, tepat di sebelah Yudhis. Yudhis yang sedang senyam-senyum fokus ke layar ponsel seketika teralihkan.


“Wah, benar. Ternyata memang Anda. Saya sangat menunggu-nunggu telepon dari Anda, tapi ditunggu lama Anda tak kunjung menghubungi. Padahal Anda boleh kok menghubungi saya walaupun bukan untuk urusan membeli mobil.” Ternyata Gladys yang menyapa sok akrab, bahkan kini tak sungkan duduk bergeser mendekat menyisakan jarak sejengkal saja.


“Maaf, Anda siapa ya?” kata Yudhis, berpura-pura lupa. Bergeser duduknya agak menjauh dengan gerakan tak kentara.


Di saat Gladys sedang berusaha keras mengingatkan pertemuan mereka sebelumnya dengan si tampan berlesung pipi itu, Khalisa yang baru selesai melakukan perawatan keluar dari lorong ruangan treatment wajah yang areanya langsung memasuki ruang tunggu.


Khalisa menghentikan langkah, mengernyit merasa pernah melihat si wanita yang tampak sok akrab dengan Yudhis di ruang tunggu. Selepas mengamati beberapa saat, Khalisa ingat wanita berbaju seksi itu adalah sosok yang digandeng Dion di coffe shop tempo hari, juga sosok sama yang pernah digoda Yudhis untuk keperluan mencari Afkar.


Terdorong rasa yang masih belum dapat ditelaahnya dengan baik saat melihat wanita seksi itu tersipu-sipu mengajak Yudhis berbincang dengan bahasa tubuh kentara menggoda, bak macan betina ia mengayunkan kakinya cepat menghampiri.


“Papa Sayang, Bunda sudah selesai. Kita pulang sekarang yuk, mendadak di sini udaranya bau apek,” ketusnya dengan nada galak khas kaum hawa yang sedang cemburu.


Bersambung.