Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Aroma Favorit


Bab 139. Aroma Favorit


“Bi Dije, aku mau minta tolong.” Khalisa yang kembali lagi ke dapur setelah mengantar Yudhis berangkat bekerja, menghampiri Bi Dijah yang sedang menata isi kulkas.


“Mau minta tolong apa, Neng? Bibi siap laksanakan.” Bi Dijah menyahuti begitu heroik, mengundang kikik geli Khalisa juga Ceu Wati yang sedang mengelap piring basah.


“Begini, nanti kalau semua pekerjaan rumah sudah selesai, tolong periksa semua tanggal kadaluarsa stok makanan. Tadi sewaktu bikin sarapan, butter yang baru kubuka kemasannya baunya aneh saat dipanaskan. Belum kulihat lagi tanggal expirednya, karena aku tak tahan dengan aromanya.” Khalisa menjelaskan, dan entah kenapa rasa mual itu mulai kembali ketika menggibahi si butter yang menjadi penyebab mual muntahnya pagi ini.


“Siap, Neng. Ada lagi yang bisa dibantu?”


“Sudah cukup, Bi. Dan buat Ceu Wati, nanti siang ada yang ingin kudiskusikan tentang persidangan besok,” pinta Khalisa yang langsung diangguki cepat oleh Ceu Wati.


“Baik, Neng.”


“Bi, Ceu. Aku ke kamar dulu, lagi kurang enak badan, kayaknya masuk angin sama agak capek sehabis berpergian perjalanan jauh.”


“Bibi buatkan wedang jahe mau? Nanti diantar ke kamar, biar agak enakan,” tawar Bi Dijah yang terlihat khawatir.


“Atau, mau saya kerokin, Neng. Biasanya lebih ampuh mengatasi masuk angin?” Ceu Wati ikut menimpali, menghampiri Khalisa yang memang terlihat agak pucat pagi ini.


“Enggak usah, Bi. Ceu. Aku sudah dibalur minyak angin sama Bang Yudhis tadi. Sebentar lagi juga biasanya baikan kok.”


Khalisa cepat-cepat kembali ke kamar. Biasanya ia ikut berbenah rumah meski Bi Dijah sering mengomel dan melarang. Akan tetapi, Khalisa bukanlah tipe yang betah duduk diam tanpa melakukan apa pun walaupun sudah ada ART di rumah ini.


Khalisa mempercepat langkah, tak tahan dengan lambungnya yang lagi-lagi bergolak. Tujuan utamanya adalah kamar mandi pribadinya, dan seluruh sarapan yang tadi hanya dilahap lima gigitan saja seluruhnya terkuras keluar.


Sempoyongan, Khalisa menyeret kedua kakinya ke arah ranjang, membanting tubuh lemasnya di sana.


“Akh, ya ampun. Masuk angin naik pesawat ternyata lebih dahsyat efeknya dibanding naik bus. Padahal sudah dibalur minyak angin. Tapi mualnya malah datang lagi,” keluhnya sembari memegangi perut.


“Mmhh, aroma Bang Yudhis harum banget, aku suka sekali,” cicitnya, yang kemudian meraih satu guling untuk dipeluk dan diendus.


Menjelang sore, mual Khalisa yang asyik datang dan pergi kembali menguat, hanya mereda jika berada di dalam kamar, tetapi saat keluar terlebih lagi pergi ke dapur lain cerita.


Khalisa mengomel sendiri, mengatai dirinya kerbau malas karena malah ingin terus rebah santai di kasur, karena seharian ini lebih sering berbaring di kamar. Berkutat di ranjang dan memeluk guling beraroma Yudhis erat-erat, sembari menggulirkan ponsel melihat-lihat fotonya, Afkar serta Yudhis yang berpotret bertiga saat di Bali.


Yudhis menelepon sekitar pukul empat sore, bertanya kondisi Khalisa juga memberitahu kemungkinan dia akan pulang malam. Masih banyak tektek bengek yang harus dipersiapkan untuk persidangan final besok, sehingga Yudhis dan tim mau tak mau harus bekerja lembur.


Aku sudah baikan. Abang jangan cemas, bekerjalah dengan tenang.


Tidak ingin menjadi istri manja, Khalisa mengatakan pada Yudhis bahwa dirinya baik-baik saja. Menyahuti dengan intonasi ceria. Terlebih lagi yang Yudhis kerjakan sedang mengurusi kepentingan gugatannya akan hak asuh si buah hati tersayangnya.


“Duh, apa lambungku memang bermasalah lagi ya? Bukan cuma masuk angin. Apa kata Bang Yudhis benar kayaknya, ketegangan menghadapi persidangan besok bikin asam lambungku naik. Kalau dibiarkan begini takut besok kondisiku enggak prima saat di pengadilan. Apa aku pergi ke dokter saja ya?” gumamnya sendiri.


Menimbang-nimbang cukup lama, Khalisa memutuskan memeriksakan diri ke dokter tanpa Yudhis, tidak ingin terlalu banyak membebani sang suami yang sudah begitu banyak mencurahkan banyak hal untuknya.


“Mang Darjat. Tolong antar saya ke klinik terdekat. Gejala masuk anginnya terus datang dan pergi. Sepertinya butuh obat dokter. Tapi untuk yang satu ini, tolong jangan bilang sama Bang Yudhis kalau aku pergi ke klinik ya, Mang. Saya tidak mau bikin Bang Yudhis banyak pikiran.”


“Duh, gimana ya. Kalau nanti Den Yudhis ngomel-ngomel gimana?” ujar Mang Darjat kebingungan, karena Yudhis selalu berpesan untuk melaporkan kemanapun Khalisa pergi.


“Biar nanti malam saya sendiri yang bilang langsung. Mamang jangan khawatir. Bang Yudhis lagi sibuk banget hari ini, saya takut dia ikut sakit kalau terlalu banyak beban pikiran. Lagi pula saya ini cuma masuk angin, bukan sakit parah.”


Mang Darjat akhirnya menyanggupi, bersiap mengantar sang nyonya ke tempat yang diminta.


Bersambung.