Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Bertatap Muka


Bab 67. Bertatap Muka


Di depan sebuah rumah bertembok tinggi Yudhis dan Khalisa berhenti. Yudhis mencocokkan nomor alamat rumah yang diberikan satpam dengan yang tertulis di sisi kiri tembok rumah dan semuanya valid. Bangunannya tertutup, pagarnya pun tanpa celah. Sehingga kegiatan di dalam sana sulit terlihat dari luar. Hanya balkon lantai dua menjulang yang terjangkau penglihatan.


Dengan kaki terseok-seok tak sabaran, Khalisa turun lebih dulu. Kedua telapak tangannya sedingin es, bahasa tubuhnya tak dapat lagi menyembunyikan siksa rindu yang membuncah dalam dada. Yudhis cepat-cepat menyusul turun, terpaksa meraih dan menggenggam erat sebelah tangan Khalisa yang gemetaran.


“Khal, kendalikan dirimu, kendalikan segala bentuk emosi. Ingat, jangan panik,” ucap Yudhis berusaha menenangkan, meremas tangan Khalisa menyalurkan kekuatan. “Tarik dan buang napas teratur. Aku tidak akan menekan bel sampai kamu benar-benar bisa memastikan dirimu tenang.”


“Maaf, Bang. Maaf.” Khalisa menyahuti, mengangguk paham meski merasa frustrasi.


“Aku tahu ini enggak mudah buat kamu. Tapi, kita bisa sampai di sini menempuh berbagai upaya, jangan sampai kesempatan langka ini sia-sia hanya karena kamu tak mampu mengendalikan emosimu sendiri. Kamu tidak ingin terpisah lebih lama lagi dengan Afkar akibat kita salah melangkah bukan? Jadi kamu harus tetap tenang, seperti yang kamu bilang, ingin ikannya didapat tanpa membuat keruh airnya.”


Diiringi do’a dalam hati memohon pada Sang Maha Baik agar semua urusannya dimudahkan dan dilancarkan, Yudhis menekan bel yang terpasang di tembok depan dekat plang nomor rumah besar itu. Satu kali bel ditekan tidak ada respons, dan yang kedua akhirnya membuahkan hasil.


Salah satu ART yang masih terbilang belia dengan lap serbet di tangan membukakan pintu pagar sedikit saja, yang penting ada celah. Melongokkan kepala dan mendadak salah tingkah begitu melihat ketampanan yang menekan bel.


“Mau ke siapa, Mas?” tanyanya.


“Bapak Dionnya ada?” Yudhis bertanya penuh wibawa juga pesona. “Saya Yudhistira Lazuardi, dari LBH Raksa Gantari.”


Yang ditanya sepertinya kurang peduli entah kurang paham dengan kalimat lanjutan Yudhis. Saking terpesonanya si ART hanya menangkap pertanyaan Yudhis yang menanyakan keberadaan tuannya.


“Bapak belum pulang sejak kemarin."


Ya, Dion memang belum pulang, beralasan pergi ke daerah kabupaten terpencil pada Amanda untuk menyurvei lokasi nasabah peminjam baru di koperasi secara langsung, padahal yang sebenarnya terjadi, Dion asyik mengayuh di ranjang hotel menunggangi si sekretaris hingga lupa waktu.


“Kalau Bu Amandanya ada?” lanjut Yudhis.


“Ada, silakan masuk saja.” Tersihir karisma Yudhis yang luar biasa bersinar, si ART yang biasanya bertanya detail pada setiap tamu yang datang sesuai arahan tuannya, mendadak menjelma ibarat kerbau yang dicucuk hidungnya. Membukakan pagar lebar-lebar dan mempersilakan masuk.


Walaupun serasa tak menapak bumi, Khalisa menegarkan diri melangkah masuk dan menahan diri untuk tidak serta merta menerobos, mengikuti Yudhis dengan tenang ke dalam sana.


Kira-kira lima menit menunggu di ruang tamu, sosok nyonya rumah muncul dari lantai dua. Yudhis berdiri menyambut menjaga tata krama, diikuti Khalisa melakukan hal serupa, yang sejak tadi mengedarkan pandangan mencari-cari Afkar ke setiap sudut yang terjangkau mata dari ruang tamu.


Amanda sepertinya belum mengenali siapa sosok cantik bergamis dusty pink dipadu kerudung putih yang sedang menunggu di ruang tamunya. Dia hanya pernah sekilas bertemu Khalisa dan itu pun dalam kondisi kacau dan keadaan fisik Khalisa yang tidak sebaik sekarang.


“Seperti kata peribahasa, tak kenal maka tak sayang. Sebelum berlanjut pada keperluan saya datang menemui Bu Amanda, izinkan saya memperkenalkan diri. Saya Yudhistira Lazuardi. SH dari LBH Raksa Gantari, selaku kuasa hukumnya Ibu Khalisa Suci Kirani.” Yudhis mengarahkan tangan kanannya pada Khalisa yang duduk di kursi sebelah kirinya.


Sontak Amanda terperanjat mendengar nama Khalisa, memindai saksama pada wanita cantik berhijab di samping Yudhis dari atas kerudung hingga ujung jari yang tertutup kaus kaki.


“Kamu? Mau ngapain kamu ke sini? Pakai bawa-bawa pengacara lagi. Kalau mau ngurusin persoalan surat cerai ke pengadilan agama saja, bukan ke sini!” serunya sengit dengan tatap membeliak.


“Aku datang ke sini bukan karena hal itu, surat cerai sudah ada padaku, tapi aku datang ke sini untuk membawa Afkar, aku sudah mengajukan gugatan perihal hak asuh resmi ke pengadilan," jelas Khalisa tegas, tetap tenang, tanpa suara meninggi.


“Begitulah, Bu Amanda, maksud kedatangan kami.” Yudhis menimpali. “Bu Khalisa hendak membawa Afkar karena pengasuhan anak balita tetap lebih berat pada ibunya. Dan selama proses pengadilan berjalan diikuti pengkajian dilakukan oleh pihak berwenang sampai putusan ditetapkan, Afkar masih merupakan hak Ibu Khalisa yang mengurus, terlebih lagi perceraiannya dengan Pak Dion termasuk disebabkan perselingkuhan, sehingga Bu Khalisa memiliki porsi yang lebih banyak atas hak asuh Afkar untuk saat ini. Kami juga sudah membawa berkas lengkap, menyertakan dokumen dari komnas perlindungan anak untuk prosedur pengambilan Afkar secara resmi dari rumah ini tanpa menyalahi aturan. Sebagai warga negara yang baik juga terdidik, saya sangat yakin Anda akan bersikap kooperatif."


Yudhis melontarkan sanjungan sebagai cara halus dan elegan agar negosiasi tetap berjalan tenang. Melempar umpan lagi di air jernih, dan sepertinya si ikan tertarik pada umpannya.


“Tidak bisa!” Wulan menyambar pembicaraan mereka. Muncul tiba-tiba di ruang tamu. “Afkar tidak akan diserahkan pada Khalisa apa pun alasannya seperti yang sudah diputuskan Dion. Ajukan saja gugatan ke pengadilan. Memangnya Khalisa punya uang dari mana buat bayar pengacara dalam jangka panjang? Cih, tak tahu diri!” cibir Wulan pedas pada Khalisa.


Walaupun sejujurnya tadi dia terkejut bukan main setelah mengamati dari jauh bahwa tamu yang datang adalah mantan menantunya yang dulu sering dicercanya. Khalisa sekarang begitu berbeda. Rapi, bersih dan semakin cantik mengenakan pakaian muslimah, bermerek lagi, bukan yang murahan. Bertanya-tanya bagaimana caranya Khalisa yang sebatang kara itu bisa menjelma cantik begini, sangat bertolak belakang dengan ekspektasinya yang mengira akan bertemu Khalisa dalam keadaan menggembel setelah berpisah dari anaknya.


“Maaf Anda siapa?” tanya Yudhis tegas.


“Saya ibunya dari ayahnya Afkar yang artinya adalah neneknya Afkar."


“Kebetulan saya adalah kuasa hukum Ibu Khalisa yang sudah siap mendampinginya tanpa batas waktu, bila perlu seumur hidup, bukan temporary. Juga, kekuatan hukum pengasuhan Afkar tetap lebih condong pada Ibu Khalisa sebagai ibu kandungnya untuk sekarang, bukan pada Anda meskipun Anda neneknya. Jadi, Anda tidak punya hak kuat melarang klien saya membawa anaknya," terang Yudhis tetap elegan, tidak terburu amarah.


Di tengah-tengah atmosfer yang cukup tegang di ruang tamu, suara ribut Ceu Wati yang masuk ke ruang tamu mengalihkan semua perhatian.


"Non Manda, Bu Wulan, bagaimana ini? Dedek Afkar sekarang muntah-muntah sudah lebih dari empat kali, bukan cuma buang-buang air," selorohnya panik.


Khalisa yang sedang duduk spontan berdiri, merangsek mendekati Ceu Wati, mencampakkan sikap tenang yang sejak tadi dibangunnya mati-matian. Mengguncangkan bahu Ceu Wati sangat kencang.


"Di mana anakku? Di mana Afkar!" teriaknya penuh emosi.


Bersambung.