
Khalisa Bab 146. Membuatmu Gendut
Malam hari sudah memasuki waktu tidur. Di kamar utama kediaman Yudhis, masih ada aktivitas yang dilakukan.
Di atas peraduan empuk itu, rambut sepunggung Khalisa yang setelah berhijab hanya terlihat jika sedang berduaan dengan Yudhis, sedang disisir penuh kasih sayang oleh sang suami. Menggulirkan sisir lembut, menjaga supaya tidak menyakiti kulit kepala.
“Sudah, Cintaku.” Yudhis menutup acara sisir menyisir dengan kecupan mesra di pipi Khalisa.
“Makasih, Papa Sayang,” cicit Khalisa senang. Memutar posisi duduknya jadi berhadapan.
“Bang, kapan kita jemput Afkar? Aku sudah enggak sabar ingin berkumpul utuh dengan Afkar juga Abang dalam situasi tenang. Sekarang Afkar sudah sepenuhnya menjadi hakku. Rasanya masih seperti mimpi,” sambung Khalisa antusias, suaranya bergetar haru.
“Ini bukan mimpi. Tidak akan ada yang berani merebut Afkar darimu lagi kecuali mereka ingin mendekam di penjara.” Yudhis mengusap pipi Khalisa penuh sayang. Menyeka butiran haru yang terjatuh dari pelupuk. Sama-sama menderaikan syukur atas pencapaian perjuangan yang tidak singkat itu.
“Tentang hal menjemput Afkar sudah kupikirkan. Mengingat kamu sedang hamil dan tidak boleh kelelahan, jadi besok aku akan mengabari tentang kemenangan kita di pengadilan. Aku akan meminta tolong Papi dan Mami membawa Afkar pulang ke Bandung. Sekalian memberi kejutan, bahwa mereka akan punya cucu lagi. Pasti mereka sangat senang,” tutur Yudhis antusias.
“Semoga Mami dan Papi selalu diliputi kebahagiaan sepanjang masa dalam umur panjang serta kesehatan yang baik. Aku sangat berterima kasih sebesar-besarnya, orang tua Abang begitu sayang pada Afkar walaupun mereka tahu Afkar hanya anak sambung Abang.”
“Hilangkan kebiasaan menyebutkan kata itu. Afkar adalah anakmu yang berarti anakku juga. Mengerti?” kata Yudhis yang diangguki Khalisa berlumur rasa syukur.
“Masih mual?” tanya Yudhis kemudian sembari mengusap perut Khalisa, masih khawatir sebab selepas makan malam tadi Khalisa kembali mengeluh meski tidak sampai muntah.
“Sudah berkurang, Bang.”
Ya, mualnya selalu cepat mereda asalkan Yudhis dekat-dekat dengannya. Aroma segar maskulin si penanam benih, ternyata merupakan penawar mujarab rasa tak nyaman di perutnya imbas dari kehidupan baru yang kini sedang bertumbuh di rahimnya.
“Aku ingin tanya sesuatu?” kata Yudhis, nada penasaran terdengar kental.
“Boleh, Ada apa, Bang?” Khalisa membetulkan posisi duduknya di atas kasur.
Si tampan berpiyama warna navy itu tampak berpikir sebelum lanjut membuka suara. “Maaf kalau pertanyaanku mungkin agak sedikit mengungkit masa lalu. Tapi, jujur saja aku penasaran.”
Hening sejenak membentang, mata mereka bergulir menyelami netra masing-masing, kesunyian hanya diisi bunyi suara kodok di taman dekat kamar.
“Memangnya Abang mau tanya apa? Bilang saja, jangan ragu-ragu.” Khalisa menyahuti, membebaskan yang ingin bertanya.
Khalisa mengulum senyum, paham dengan kekhawatiran Yudhis. “Tapi yang penting, aku dan bayi kita sekarang semuanya sehat dan baik-baik saja. Juga, menurut yang aku pernah kudengar dari cerita orang-orang, tidak semua kehamilan memunculkan tanda-tanda serupa. Dan aku merasakannya sendiri sekarang. Kehamilan pertamaku dengan yang sekarang sangat berbeda rasanya.”
“Apanya yang berbeda?” tukas Yudhis ingin tahu.
“Aku ingin bercerita. Dulu. sewaktu hamil Afkar, aku enggak mengalami yang namanya mual muntah, tapi justru aku lebih sering lapar. Malah bisa dibilang nafsu makanku bertambah berkali-kali lipat. Hanya saja, aku lebih banyak enggak mampu mendapatkan makanan yang kumau. Tanpa aku membeberkan secara rinci pun, Abang pasti sudah paham dan dapat menyimpulkan sendiri situasi kala itu dari kronologi cerita-ceritaku sebelumnya. Mungkin, sejak dalam kandungan Afkar tahu, bahwa dirinya tak disayangi oleh keluarganya yang lain selain aku, jadinya Afkar enggak membuatku mual muntah. Tapi sekarang, sepertinya bayiku tahu kalau Papanya mencintainya, sehingga dia agak manja.” Khalisa menundukkan pandangan. Mengusap perutnya penuh sayang.
Yudhis harus mati-matian menahan gejolak panas menyesakkan dada, membuat tenggorokannya tercekat mendengar kisah kehamilan Khalisa dulu yang pasti tidaklah mudah bagi seorang wanita muda sebatang kara tanpa keluarga kandung, tidak memiliki tempat untuk sekadar berbagi kisah sesak guna meringankan beban di dada. Terjebak di antara kumpulan manusia yang menganggapnya tak setara, memandang berlumur noda juga nista imbas dari asal usulnya. Menyebut diri mereka keluarga, padahal hanya status guna menyelubungkan maksud memerah tenaga si lemah tanpa belas kasihan, tak dianggap berperasaan.
“Sekarang kamu enggak akan kelaparan lagi, Khal. Aku akan memenuhi lambungmu dan membuatmu gendut,” ujarnya serak, berusaha menahan tenggorokan yang tercekat.
Khalisa tertawa renyah mendengar kalimat Yudhis. “Dan itu berhasil, enggak lama lagi, perutku bakal gendut sampai usia kandungan sembilan bulan,” imbuhnya cekikikan.
Sorot mata Yudhis kian melembut dan hangat, mencurahkan segenap rasa untuk si wanita berparas ayu yang kini sedang mengandung buah hatinya. Tak ingin Khalisa merasa hampa maupun kekurangan rasa cinta.
“Ayo tidur. Ibu hamil enggak boleh begadang.” Yudhis menepuk-nepuk bantal, mengulas senyum manisnya begitu menawan.
Bibir Khalisa mengerucut dengan kedua mata memicing. “Bawel,” candanya pada Yudhis yang sejak mengetahui dirinya hamil jadi overprotective dan super posesif.
“Aha, itu julukanku sewaktu di kampus,” ujar Yudhis menimpali, terkekeh memamerkan lesung pipinya.
Yudhis rebah lebih dulu, membuka kedua lengan mengundang wanitanya yang masih betah duduk. “Ayo, sudah malam. Kita butuh tidur, hanya benar-benar tidur. Dan selama tiga bulan ke depan, aku enggak akan membuatmu berkeringat sebelum terlelap. Sesuai saran dokter.”
Tak berlama-lama, Khalisa memasrahkan diri ke dalam pelukan hangat Yudhis, menghidu aroma pria yang memeluknya dalam-dalam. Memejamkan mata saling berpelukan bersama senyuman terukir di wajah keduanya.
Sementara itu di tempat lain, Dion yang kusut dan baru saja memijakkan kakinya di rumah di larut malam, dikejutkan dengan keributan para ART yang berlalu lalang.
Kekalahan di pengadilan mengakibatkan kepalanya berdenyut nyeri dan penyambutan keributan tak karuan di rumah mengakumulasi kepenatan hingga kepalanya terasa mau pecah. Ditambah lagi Gladys terus merengek menghubungi ponsel rahasianya, menuntut tanggung jawab, mengancam akan membeberkan hubungan terlarang mereka pada Amanda kalau Dion tidak mau menikahinya, menikah siri pun Gladys tak keberatan.
“Ada keributan apa ini?” ketusnya kesal pada salah satu ART sembari memijat pelipis.
“Itu, anu Pak. Riri bayi Bapak dan Non Manda sakit. Barusan dilarikan ke rumah sakit dan kami disuruh Non Manda berbenah keperluan Riri untuk rawat inap. Riri mendadak kritis dan tadi Non Manda juga ngamuk-ngamuk karena handphone Bapak enggak bisa dihubungi.”
Bersambung.