
Bab 105. Selangkah Maju
Sudah tiga hari berlalu, meski belum sampai pada tahap peleburan raga nafkah batin, tetapi Khalisa mulai terbiasa dikecup pipi sebelum tidur dan membiarkan dirinya dipeluk. Yudhis berusaha bersabar untuk itu, tak ingin egois memaksa Khalisa menjalankan kewajiban sebagai istri sepenuhnya tanpa tapi, mencoba memahami secara dewasa, luka psikis di hati Khalisa dari kisah sebelumnya pasti masihlah tersisa perihnya.
Khalisa tetap menjalankan tugas, mengulang kembali momen dirinya saat menjadi seorang istri. Lantaran dibolak-balik sampai jungkir balik pun, faktanya dirinya sekarang adalah istri dari Yudhistira Lazuardi, meski gelar istri kali ini tersemat tanpa terencana secara sadar.
Khalisa rutin menyiapkan makanan mulai dari sarapan hingga makan malam, juga mulai membiasakan diri memilihkan baju untuk dikenakan si pria yang masih asing dipanggilnya dengan sebutan suami itu setiap kali selesai membasuh diri.
Seperti pagi ini, Khalisa menyiapkan sarapan Sandwich Ayam persis seperti yang diajarkan Maharani. Maharani mengatakan, menu ini salah satu menu sarapan favorit Yudhis sejak remaja.
Potongan dada ayam yang sudah dimarinasi dengan bumbu dipanggang di atas teflon pemanggang sembari menyiapkan bahan lainnya. Di antaranya ada roti gandum tawar, keju slice, Selada Romania, irisan mentimun, irisan tomat apel juga mayones thousand island botolan.
“Bikin sarapan apa?” Yudhis menyusul ke dapur pagi ini. “Butuh bantuan?”
“Bikin Sandwich Ayam. Kata Bu Rani, Abang paling suka sarapan menu ini. Jadi, aku coba buatkan, tapi maaf, kalau rasanya enggak selezat buatan maminya Abang,” jelas Khalisa malu-malu. Ia sedang mencoba membalas perhatian Yudhis dengan membuatkan menu sarapan ini meski masih amatir.
Yudhis melipat bibir, berusaha menahan luapan senang yang mengundang sudut bibirnya tertarik ke atas. Baru tahu sensasinya, ternyata begini rasanya diperhatikan sosok yang dicinta, laksana melambung ke atas awan.
“Aku sudah tak sabar ingin mencicipi. Dari aromanya saja sudah sedap, pasti rasanya lezat. Apalagi kamu yang buat,” rayunya yang kemudian mencuri kecupan di pipi Khalisa sebelum kabur menarik kursi makan, membuat yang memasak tersipu merona sekaligus merasa terharu dipuji jerih payahnya, sebab sebelumnya apa pun yang dikerjakannya hanya menuai pendapat buruk dari keluarga mantan suaminya.
“Abang mau kopi latte juga?” Khalisa menoleh dan bertanya. Menawarkan sesuatu yang membuatnya merasa bangga karena Yudhis mengatakan menyukai kopi buatannya.
“Mau dong, mau sekali malahan. Kopi buatanmu paling enak,” jawab Yudhis, sembari melempar senyum manis.
“Oke, tunggu sebentar ya, Bang.”
Ya, Khalisa melayani Yudhis hampir dalam semua aspek kini. Hanya saja perihal pemenuhan nafkah batin masih belum siap direalisasikannya, masih ragu.
Bukannya tak paham bahwa hal tersebut cepat atau lambat harus ditunaikannya, hanya saja Rasa minder hebat mengerubuti. Yudhis masih perjaka sedangkan dirinya seorang janda, meski usianya lebih muda lima tahun dari Yudhis. Tak dipungkiri, Khalisa takut Yudhis kecewa padanya setelah hal itu terjadi, takut tidak puas dengan pelayanannya.
Selain masalah ranjang yang membuatnya krisis percaya diri, Khalisa dengan gamblang Khalisa meminta waktu pada Yudhis untuk menyiapkan mentalnya sendiri. Berbicara jujur bahwa dirinya masih dilanda takut merajut kembali kisah asmara lagi, karena rasa nyeri juga luka pengkhianatan sebelumnya masihlah belum mengering sepenuhnya.
Hari ini adalah hari ke empat setelah mereka resmi menjadi suami istri. Bertepatan dengan hari persidangan pertama gugatan Khalisa terkait hal asuh Afkar. Erika dan Raja datang pagi-pagi sekali ke rumah Yudhis untuk memastikan segala keperluan berkas yang akan dibawa tidak kurang sedikit pun. Berkoordinasi mematangkan semua persiapan persidangan.
“Erika, Raja. Tolong siapkan periksa kembali semua persiapan kita yang sudah disusun sebelumnya di kantor LBH. Nanti kita janji bertemu di pengadilan saja, aku dan Khalisa kan datang langsung ke sana siang ini setelah dari kantor kelurahan. Kalau bisa, kalian datanglah lebih awal, untuk memantau situasi juga mencari informasi, karena dari tabiat pihak lawan terlihat jelas tak segan bermain kotor.”
Erika dan Raja tak membuang waktu setelah berdiskusi, langsung pergi menunaikan perintah Yudhis.
Menghampiri, Yudhis memeluk mesra dan menopangkan dagu di pundak Khalisa. mempertemukan pandangan mereka di cermin.
“Kamu sudah siap? Bertemu secara resmi dengan mantan suamimu di pengadilan yang mungkin suasananya memancing emosi.”
Menghela napas nyaring, Khalisa mengangguk sembari mengulas senyum. “Aku siap, Bang. Abang sudah melatihku untuk mengendalikan diri selama beberapa hari ke belakang dalam rangka menghadapi hari ini. Do’a pun selalu kupanjatkan, seperti nasihat Abang, bahwa setiap usaha harus diiringi dengan doa.”
Yudhis mengeratkan pelukan. “Hmm, kita memang harus membiasakan diri untuk melibatkan Allah dalam setiap urusan, berdo’a di setiap kesempatan. Entah itu di saat sulit yang pasti untuk memohon pertolongan, maupun di kala senang yang mencerminkan bahwa kita insan bersyukur. Janji Allah, siapa yang pandai bersyukur maka akan ditambahkan nikmatnya. Karena hidup kita ini amat butuh kasih sayang Allah, dan dengan do’a lah kita menyampaikan permohonan.”
Khalisa mengangguk-angguk. Ribuan riak kagum juga segan membanjiri manik matanya saat menatap sosok luar biasa yang memeluknya. Yang banyak membuka pikiran sempit dan keruhnya, tanpa menghakimi ketidaktahuannya.
“Oh iya, surat nikah kita sudah dibawa?” Yudhis mengingatkan. “Untuk keperluan penunjang yang aku yakin akan sangat membantu mempercepat proses putusan hak asuh. Kecuali lawan kita bermain kotor maka bisa jadi prosesnya menjadi panjang, tapi kendati begitu jangan pernah menyurutkan semangat, selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha dalam hal kebaikan.”
“Sudah, Bang. Semuanya sudah masuk ke dalam tas.”
“Sebelum ke pengadilan kita ke kantor kelurahan daerah sini. Kita harus mengambil kartu keluarga yang baru jadi hari ini. Bisa dijadikan sebagai berkas penunjang tambahan andai ada yang meragukan pernikahan kita, yang meragukanmu adalah istriku sekarang. Ayo, kita berangkat.”
Dengan mantap, Khalisa menerima uluran tangan Yudhis, berangkat bersama diiringi jerit do’a dalam hati.
*****
Dion membanting kencang pintu ruangannya di showroom sepulang dari pengadilan, diikuti tim kuasa hukumnya mengekori masuk. Beberapa barang di atas meja ikut melayang berhamburan, menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya.
Penyebabnya karena, di persidangan perdana ini fakta-fakta juga berkas lampiran yang diajukan Khalisa dengan pengacaranya, mengindikasikan hak asuh lebih condong pada Khalisa. Padahal Dion menggelontorkan dana tambahan demi memuluskan taktik belakang layar yang direncanakannya bersama si kuasa hukumnya.
“Sial! Kalian semua tidak becus!” makinya.
Dia juga kesal bukan kepalang. Di pengadilan tadi, Khalisa tidak menoleh terpesona padanya, hanya berinteraksi mata pun sekilas saja, padahal Dion sudah berdandan serapi dan semenawan mungkin dalam rangka mencuri perhatian. Akan tetapi, Khalisa sama sekali tidak meliriknya.
“Kalian pokoknya harus mencari cara lain untuk memukul mundur peluang menang mantan istriku! Korek juga semua informasi tentang pernikahannya dengan si pengacara angkuh itu, cari celah untuk melemahkannya!” titahnya seenak jidat pada para kuasa hukumnya yang kini menghela napas lelah.
Bersambung.
Jangan lupa dukung terus cerita ini dengan hadiah dan votenya juga ya , makasih semua 🥰🤗.