Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Last Extra Chapter


Last Extra Chapter


Bagi Khalisa, momen melahirkan meninggalkan trauma membekas dalam ingatannya. Sewaktu persalinan Afkar dulu, ia harus berjuang sendiri tanpa didampingi suami dan keluarga. Dion lebih mementingkan pekerjaan lemburnya, sedangkan mertua dan adik iparnya sibuk menghadiri arisan keluarga.


Kala itu, Khalisa hanya didampingi petugas kesehatan di sebuah fasilitas kesehatan terdekat. Kondisi fisik Khalisa yang terbilang agak kurang gizi, membuatnya amat kepayahan saat melahirkan Afkar. Ditambah sakit kontraksi luar biasa yang harus ditahannya selama hampir seharian sejak subuh hingga jam enam petang menguras seluruh energinya. Rasa sakit yang harus ditanggungnya tak hanya sampai di situ. Setelah bayinya lahir, plasentanya saat itu tak kunjung keluar sendiri, mengalami pelengketan sehingga harus diambil paksa. Mengalami pendarahan yang cukup serius waktu itu tanpa ada yang mensupport, membuatnya stress dan trauma berkepanjangan.


“Jadi itu alasannya?” Yudhis yang sejak tadi mendengarkan keluh kesah Khalisa membuka suara. Dia menjadi pendengar yang baik sembari memijat kaki Khalisa lembut. Berbincang di kamar mereka, duduk pada karpet tebal yang terhampar melapisi lantai dekat ranjang. Membangun atmosfer senyaman mungkin agar istrinya bersedia bercerita panjang lebar membuka unek-unek terkait alasan ketakutannya perihal melahirkan.


Khalisa mengangguk. “I-iya, karena itu, Bang,” sahutnya, kentara amat takut, bukan sekadar di mulut saja.


“Waktu itu, aku sangat ketakutan. Enggak ada orang terdekat yang menemaniku terlebih lagi menghibur ketakutan juga kesakitanku. Aku benar-benar sendiri tanpa didampingi siapapun di saat menanggung rasa sakit dan ketakutan hebat, aku bahkan takut andai tak berumur panjang saat itu. Bukan menolak menerima ketetapan takdir, tapi aku takut enggak ada yang sayang pada bayiku kalau aku tak bertahan,” lirihnya serak.


Yudhis menggeser duduknya dan merengkuh Khalisa ke dalam dekapan. Membelai lembut punggung istrinya yang terasa bergetar pelan imbas dari isakan tertahan. Yudhis mencium ubun-ubun Khalisa yang masih tertutup jilbab bergo rumahan, memberi kecupan sayang menenangkan.


“Sayang, dengarkan aku. Semua kenangan buruk itu jangan diingat-ingat lagi. Dulu ya dulu, sekarang berbeda situasinya. Kondisi tubuhmu kini sangat sehat bugar. Bayi kita juga tumbuh dengan baik tak kalah sehat. Dan kupastikan, aku beserta keluargaku akan selalu ada mendampingimu di saat persalinanmu. Enggak akan kubiarkan kamu berjuang sendiri. Sudah kupilihkan rumah sakit, dokter, dan perawat terbaik. Juga, aku selalu berdo’a di setiap sujudku, agar proses melahirkanmu membawa putri kita lahir ke dunia dimudahkan dan dilancarkan. Semuanya sehat, selamat.”


Khalisa menyeka sudut mata, menengadah menatap mata suaminya yang sedang menunduk memandanginya lembut. “Seharusnya aku enggak resah begini kan, Bang? Aku percaya, Abang adalah sosok suami dan ayah yang bertanggung jawab. Maaf, kalau aku malah merasa resah, semata-mata karena mendekati masa HPL ini bayang-bayang trauma dan stress melahirkan di masa lalu mendadak mengganggu dan menghantuiku. Maafin aku ya, Bang.”


Yudhis mengulas senyum. Memeluk Khalisa lebih merapat. “Enggak usah minta maaf. Aku paham dengan perasaanmu saat ini. Trauma membekas memang terkadang kambuh tak diundang. Tapi, mulai sekarang anggap bayang-bayang itu hanya mimpi buruk sekilas yang pernah singgah. Jangan ragu berbagi segala keresahanamu denganku apapun itu karena aku adalah suamimu. Aku selalu ingin jadi orang pertama yang menjadi tempatmu berkeluh kesah. Mengerti?”


“Bidadariku yang cantik dan pintar,” kekeh Yudhis memuji menggoda. “Nah, sekarang daripada resah gelisah, lebih baik kita lakukan terapi alami di malam hari yang berguna melancarkan persalinan,” ujarnya, menyeringai agak lain.


“Terapi? Mau terapi apa dan di mana ada tempat terapi yang masih buka malam-malam begini?” tukas Khalisa yang lambat tanggap akan maksud terselubung di balik kalimat Yudhis.


“Enggak perlu pergi ke manapun, karena terapinya justru harus di sini?”


“Huh? Di sini?” Khalisa mengerjap penasaran.


“Iya, di sini, Bunda. Di kasur kita, terapi yang juga disarankan dokter supaya jalan lahirmu lancar bebas hambatan. Terapi tengok menengok,” bisik Yudhis serak, membuat Khalisa merona malu menangkup pipi saat berhasil memahami.


SELESAI


Terima kasih banyak para pembacaku tersayang, sudah mendukung dan mengikuti cerita ini sampai tuntas. Dukung juga cerita terbaruku yang berjudul SINFUL ANGEL ya. Jangan lupa follow IGku di @Senjahari2414 untuk info novel lebih lanjut dan visual novel.


Love & Hug 🥰💞