
Bab 56. Dilema
Malam ini Dion mondar-mandir tak jelas loteng rumah barunya. Sejak kemarin, hampir setiap satu jam sekali dia mengecek ponselnya, berharap Khalisa menghubungi lagi dan memohon padanya. Namun nihil, perkiraannya meleset.
Dua hari yang lalu Dion memang sengaja menggunakan Afkar sebagai senjata, melebih-lebihkan kabar sakit Afkar agar Khalisa menyerah dan menerima tawaran pertamanya saja. Dion masih sulit menerima Khalisa yang biasanya patuh di bawah kakinya, kini luar biasa membangkang.
“Ini Khalisa ke mana sebenarnya? Tumben enggak sewot, biasanya dia selalu dengan mudah terprovokasi jika itu berkaitan dengan Afkar!” kesalnya seraya mengentak lantai. “Rasanya enggak mungkin Afkar sudah tidak lagi berarti buat Khalisa, mungkinkah aku harus mencari cara lain?”
“Mas! Mas Dion, Mas!” panggil Amanda, berseru mencerocos dengan nada tinggi. Datang menyusul ke balkon loteng dengan raut wajah tak sedap dipandang.
“I-iya, Sayang, ada apa?” balas Dion lemah lembut, berusaha menetalkan raut muka kesalnya. Mendekati dan merangkul Amanda yang cemberut.
“Itu ibu ikut campur terus masalah mengurus Fika dan aku enggak suka! Sudah tahu bayi merah kita memang sejak lahir mengalami permasalahan kesehatan. Bilangin sana sama ibu, jangan sok tahu. Memangnya ibu itu dokter? Fika anakku, ini juga rumahku, akulah yang berhak mengatur apa pun di sini, bukan ibumu yang ikut menumpang itu!” seloroh Amanda tanpa jeda, terbakar emosi. Tak terima saat Wulan ikut merecoki caranya mengurus bayi.
Fakta sebenarnya, Wulan hanya memberi usulan agar Fika si bayi sakit-sakitan yang usianya belum genap sebulan itu disusui ASI saja mengingat produksi ASI Amanda terbilang subur, bukan dengan susu formula, berharap kesehatan si bayi membaik jika diberi asupan ASI.
“Memangnya ibu ikut campur gimana?” tanya Dion gelisah.
Selama ini Dion lebih banyak disetir ibunya, sehingga dia kebingungan bertindak saat Amanda meminta untuk dibela dan dimenangkan dari ibunya. Tidak terbiasa, lantaran dulu setelah menikah dengan Khalisa, Dion hanya pernah membela Khalisa di awal-awal pernikahan saja dan itu pun terkesan setengah hati, selebihnya hanya membiarkan saat mantan istrinya itu dipojokkan Wulan.
“Tanya saja sendiri! Pokoknya kalau ibu ikut campur lagi, aku ingin ibu angkat kaki dari sini. Dan kalau Mas enggak setuju dengan keinginanku, silakan tinggalkan kursi jabatan kepala koperasi juga kuasa penuh showroom baru! Mas harus ingat, sejak kecil, apa pun keinginanku selalu terpenuhi. Kalau enggak, siap-siap saja dengan konsekuensinya!” sembur Amanda sembari bersedekap, berang berapi-api.
*****
[“Hei, kau mencurigakan. Kudengar, Yudhistira Lazuardi bukan hanya memborong pakaian wanita, tapi juga baju anak-anak. Ada apa denganmu? Tidak biasanya pak pengacara kita ini berbelanja royal untuk lawan jenis. Benar dia klienmu? Atau pacarmu? Atau jangan-jangan sebenarnya wanita yang kau bawa ke mallku itu pacarmu dan kau sudah punya anak dengannya tanpa sepengetahuan keluarga besar kita!”]
“Perlu diketahui, benihku sangat mahal, bukan untuk disebar sembarangan! Pasti manajer cabang Bandung yang melapor tentang aktivitasku tadi siang. Itu melanggar privasi!” sahut Yudhis sebal, dia sedang bervideo call dengan Brama sekarang. Hubungan antar saudara mereka terjalin sangat akrab, saling menjaga satu sama lain.
[“Siapa suruh minta diskon, mau tak mau kegiatanmu di mall tadi sampai padaku secara terperinci. Ayo mengaku, untuk siapa baju anak yang kamu beli itu, huh?”]
“Untuk anak klienku tentu saja, tidak mungkin kubelikan buat tukang kebunku. Berhenti berpikir aneh-aneh tentangku. Ada hal lebih penting yang harus kau urusi yaitu dirimu sendiri. Aku juga jadi curiga, kenapa sering tinggal di Singapura akhir-akhir ini? Bukannya dia pindah ke sana setelah menikah? Jangan-jangan Sadewa Bramantya Syailendra masih mengejar-ngejar si primadona yang membuatmu mendapat gelar ganteng-ganteng patah hati?”
[“Sejak kapan advokat membuka cabang profesi jadi peramal? Aku masih lebih baik, setidaknya pernah berpacaran, bukan sepertimu yang betah menjomblo sampai sekarang. Semoga saja seleramu tidak berbelok pada si tukang kebun yang mengapeli rumahmu di setiap akhir pekan saking lamanya seorang Yudhistira hidup sendiri.”]
Seringai puas Brama dari seberang sana terlihat jelas sebelum sambungan video call dimatikan, membuat Yudhis bersungut-sungut sebal dan memilih membuat kopi saja daripada jengkel.
Akan tetapi, sesampainya di dapur dia tak kunjung menyeduh kopi latte kesukaannya, malah tertegun memandangi gelas sembari senyum-senyum sendiri, teringat pada cantiknya Khalisa yang menunduk serius ketika sedang membuatkan kopi pagi untuknya.
“Sedang apa, dia sekarang?” gumamnya, mulai tertaut rindu tak ingin berhenti bertemu.
Bersambung.