
Bab 136. Masa Lalu
Semula, Yudhis takut Khalisa kecewa padanya, takut Khalisa merasa dibohongi olehnya lantaran belum berterus terang dari awal tentang siapa dirinya yang sebenarnya.
Untuk pertama kali, Yudhis membuka tabir diri paling rahasianya hanya pada wanita yang dinikahinya, hal yang tak pernah diceritakannya secara gamblang pada teman dekat sekalipun.
Tentang status sesungguhnya di keluarga Barata yang hanya anak angkat, tentang dirinya yang hadir di rahim ibunya tanpa tahu siapa ayah biologisnya, tentang dirinya yang terlahir dari kenakalan masa muda ibu kandungnya yang pasti sempat tak diinginkan detak jantungnya, kemudian dia dikandung dalam kondisi ibunya yang terkena gangguan mental dan akhirnya menutup mata saat membawanya lahir melihat dunia.
Tak ada yang ditutupi secuil pun. Yudhis berterus terang sejelas-jelasnya, ingin memberitahu Khalisa tentang siapa dirinya oleh diri sendiri, bukan sampai ke telinga Khalisa melalui mulut orang lain. Karena yang disampaikan mulut orang lain kadang kala tak sesuai faktanya. Bisa jadi topik yang sebenarnya hanya tentang ubi, tetapi sampai ke telinga orang lain sudah menjadi kolak ubi, bisa dibayangkan bukan? Seberapa banyak si ubi diolah?
Namun, kekhawatiran berlebihannya meletus di udara. Mungkin Yudhis belum menyadari, cerita asal-usulnya berefek dahsyat, membuat kepercayaan diri Khalisa yang kerap insecure bertumbuh subur sekarang.
Setelah mendengar curahan panjang lebar yang mengganjal di hati Yudhis, Khalisa justru menyambutnya dengan binar penuh sayang yang semakin tumpah ruah nyata, semakin cinta. Menatapnya lembut penuh pemakluman, menukas penuh penghiburan.
Meski memiliki asal-muasal yang hampir serupa, Khalisa mengatakan bahwa nasib Yudhis lebih mujur dibandingkan dirinya, karena memang begitulah faktanya.
“Abang sangat beruntung. Jelas lebih beruntung dari aku. Dan jujur saja aku iri," kekeh Khalisa menghibur manis, menularkan senyum yang sama pada si pria di dekapannya.
Khalisa memahami, seberuntung apa pun nasib Yudhis, pasti ada kalanya di lubuk hati terdalamnya memendam rindu tak tergapai pada sosok orang tua kandungnya, juga ada rasa khawatir menjadi manusia tak tahu diri saat kebaikan dan kasih sayang dari yang mengasihi sepenuh hati melingkupi. Sama seperti yang sering dirasakannya.
"Aku iri karena Abang Masih bisa mengetahui siapa yang melahirkan Abang ke dunia meski hanya lewat kenangan, masih punya tante yang merupakan kerabat ibu kandung, juga diasuh dan diangkat anak oleh orang tua luar biasa seperti mami dan papi, yang membesarkan dan mendidik Abang menjadi sosok luar biasa. Jelas terlihat, mami dan papi sangat menyayangi Abang seluas samudra. Sedangkan aku tumbuh di tempat yang dipandang miring orang-orang. Yang dipandang sebelah mata, dicemooh dan dihina, dicap kotor berlumur noda. Juga, aku hanya sebatang kara, enggak punya keluarga yang memiliki ikatan darah di dunia ini. Aku hanya punya Afkar,” tutur Khalisa. Dia bertutur tanpa mengeluh, malah sembari mengulas senyum.
“Bukankah sekarang kamu memiliki keluarga? Jangan bilang begitu lagi, hatiku sakit mendengarnya. Kamu takkan pernah tanpa keluarga lagi di dunia ini. Juga, noda yang mereka disematkan padamu sama sekali bukan salahmu. Orang-orang yang merasa dirinya suci, belum tentu memiliki kelembutan hati sesuci kamu, Khalisa. Karena terkadang mereka justru lebih buruk, hanya saja terlindungi dibalik kata keluarga terhormat."
Khalisa balas menatap Yudhis yang sedang mendongak. memaku mata padanya. Riak-riak cinta di bola mata Khalisa kini benderang terang seutuhnya. Tak gamang lagi, semakin mantap dalam dada. Merasa tak keliru telah memutuskan mencoba meletakkan hati penuh lukanya pada sosok Yudhis dalam jalinan asmara nan halal.
“Iya, aku sudah punya keluarga yang sebenar-benarnya keluarga. yang enggak memandangku sebelah mata, dan aku bahagia sekarang, sangat bahagia,” cicit Khalisa, merekahkan senyum cantiknya.
“Apa kamu kecewa karena aku menutupi ini darimu dan baru mengatakannya sekarang? mungkin ini terdengar naif, tapi jujur saja aku takut kamu kecewa dan merasa dibohongi,” desah Yudhis, membuang napas berat, masih dalam posisi memeluk Khalisa sembari berbaring.
“Kecewa? Sama sekali enggak. Justru aku bersyukur, karena ternyata kita punya kesamaan sekarang.”
Raut wajah tampan Yudhis berangsur lega. menyibak selimut, dia menggapaikan tangan meraih ponsel. Kembali berbaring setelah membuka kunci layar, menggulirkan jemari mencari-cari sesuatu pada fitur galeri di ponselnya.
“Mau lihat mendiang ibuku?” ucap Yudhis mendadak.
“Huh, mak-maksudnya ibu kandung Abang?” imbuh Khalisa sembari mengerjap.
Yudhis menganggukkan kepala. “Iya, ibu yang melahirkanku, yang hanya bisa kukenang lewat foto saja. Fotonya agak buram, tapi ibuku tetap terlihat cantik.”
“Aku mau,” jawab Khalis penuh semangat.
Antusias, Yudhis menunjukkan foto ibu kandungnya. “Setelah semua urusan pengadilan selesai, aku ingin mengajakmu berziarah ke makam ibu di Jakarta. Sekalian bersilaturahmi ke rumah om dan tanteku.”
“Aku sudah enggak sabar ingin berkunjung ke sana. Ingin berterima kasih padanya, sudah melahirkan sosok luar biasa seperti Abang yang dipertemukan denganku.” Mata Khalisa berbinar dipenuhi ketulusan semurni arti namanya.
Yudhis mengeratkan pelukan sembari bercerita tentang kisah masa lalu, dan Khalisa setia mendengarkan. Cerita Yudhis serupa dongeng menarik yang dibacakan sebelum tidur, mengantar keduanya dalam pelukan lelap dengan hati yang semakin terikat kuat dalam jalinan cinta, kian membuncah, yang dikuatkan simpulnya oleh ikatan kisah masa lalu.
Bersambung.