Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Restu


Bab 93. Restu


Semua orang bubar setelah solusi akhir disepakati. Khalisa berbincang dengan Erika juga Ghaisan untuk melengkapi beberapa persiapan rencana pernikahan ekspres ini, sedangkan Yudhis masuk ke kamar Maharani, bersimpuh bertumpu pada lutut di depan ibunya yang duduk di sisi ranjang.


Meraih kedua tangan Maharani penuh takzim, Yudhis mencium punggung tangan Maharani penuh bakti, lalu menaruh sepasang telapak lembut yang selalu membelainya penuh sayang itu di ubun-ubunnya.


“Mami,” ucap Yudhis serak.


“Ya, Anakku?”


“Terima kasih, sudah menjadikanku anakmu.” Menarik napas panjang Yudhis kembali berbicara. “Maafkan atas segala salah dan khilafku sebagai seorang anak selama ini. Juga maafkan, karena aku mengambil keputusan besar tanpa berembuk dulu dengan Mami. Bukannya aku tidak menghormati Mami dan Papi, tapi karena situasi darurat, berpacu dengan waktu. Untuk itulah, sekarang ini aku meminta do’a juga restu. Walaupun niatanku untuk menolong wanita malang yang kesusahan, tapi restu Mami dan Papi tetaplah yang utama. Dan kali ini aku sedikit memaksa.”


Maharani mengusap rambut Yudhis, meraba pipi si sulung penuh kasih. “Kamu pikir Mami buta rasa juga mata?” ujarnya sembari mengulas senyum. “Mami tahu, kamu menaruh hati pada klienmu yang satu itu. Walaupun ajakan menikahmu terselubung niatan membantu, tapi Mami tahu bahwa itu berasal dari lubuk hati, bukan sekadar ingin menolong. Kamu pun pasti tahu, bahwa menikahi klien tidak ada dalam kamus tips-tips memenangkan kasus.”


Yudhis mengulum senyum, bersemu merah telah tertangkap basah. “Jadi, bagaimana. Apakah Mami merestui niatanku mempersunting seseorang seperti Khalisa? Khalisa bukanlah anak pengusaha maupun keluarga terpandang, hanya janda muda sebatang kara yang diselimuti duka lara.”


“Dengan siapa pun kamu menetapkan hati, itu sama sekali tidak masalah bagi Mami dan Papi. Semua manusia sama derajatnya di hadapan Yang Maha Kuasa, yang membedakan hanya amalannya. Khalisa begitu santun terhadap orang tua, cakap dan sigap mengurus rumah tangga, selalu bersyukur dengan apa pun yang didapat. Bagi Mami itu sudah lebih dari cukup, karena yang terpenting adalah hatimu, hatimu bahagia. Kamu juga sudah dewasa. Berhak memilih sendiri terutama tentang pasangan karena kamu yang akan menjalani. Kami yakin, Yudhis kami tidak akan menjatuhkan pilihan pada orang yang salah setelah kamu ditempa sedemikian rupa sejak dini. Pandangan orang janganlah menjadi patokan. Sebab manusia sama sekali tidak berkemampuan melampaui kehendak Sang Pencipta. Jadi, restu Mami dan Papi, selalu menyertaimu, Nak. Terlebih lagi kali ini niatanmu begitu banyak dampak baiknya.”


“Makasih, Mi. Makasih.


****


“Pesan yang Mas kirim tadi itu beneran serius kan? Bukan cuma kabar hoax?” berondongnya tak tahan ingin segera mengkonfirmasi.


“Iya, serius. Khalisa menerima tawaran Yudhis. Jomblo abadi kita benar-benar sold out.” Ghaisan menyahuti penuh semangat.


“Kapan rencananya?”


“Secepatnya, Yudhis ingin melangsungkan ijab kabul yang tercatat sah secara agama dan negara minggu depan. Aku juga akan turut membantu mengurus beberapa hal. Lebih cepat lebih baik, karena Khalisa berpacu waktu dengan peninjauan dari pengadilan. Walaupun mempersiapkan pernikahan dalam satu minggu itu sudah pasti banyak effort yang harus dicurahkan. Baik itu tenaga maupun dari segi finansial.”


“Khalisanya beneran mau? Gimana ceritanya?”


Rasa kepo Aloisa semakin menggunung. Khalisa yang terkesan datar-datar saja akan soal rasa hati terlebih terlihat tak tertarik pada sebuah ikatan hubungan pernikahan sebab pasti masih trauma, mendadak menerima tawaran Yudhis untuk menikah merupakan hal mencengangkan.


“Khalisa menerimanya demi Afkar. Tahu sendiri bagaimana gigihnya Khalisa ingin mendapatkan hak asuh anaknya secara utuh. Tapi semoga rasa hati Yudhis serta niatan baiknya, mampu membuka hati dan pikiran Khalisa, bahwa Yudhis bukan sekadar layak diberi ungkapan terima kasih atas ketulusannya, tapi juga layak dibalas cintanya. Walaupun pada mulanya jalan mereka bersama demi Afkar,” jelas Ghaisan, sembari merangkul pinggang bidadari hatinya untuk masuk ke dalam rumah dan menuju ruang makan.


“Tapi aku yakin, Khalisa tidak akan terlalu sulit membuka hatinya untuk Bang Yudhis nantinya. Percayalah, meski bertekad keras, hati wanita itu lembut. Akan tersentuh dan luluh seiring waktu saat diberi kelembutan juga. Dan Mas juga tahu sendiri, bagaimana lembutnya dengan penuh puja Bang Yudhis memperlakukan Khalisa. Perhatian berlebih perdana yang hanya diberikan Yudhistira Lazuardi pada Khalisa. Kita do’akan dan bantu yang terbaik, semoga semua rencana baik ini lancar sampai terealisasi.”


“Ah, istriku makin bijak saja. Bikin aku lapar pingin makan kamu, apalagi aku libur memelukmu beberapa malam membuatku kesepian. Kamu terlihat lebih enak dari menu di meja makan ini.” Ghaisan melirik Aloisa penuh arti, sementara telunjuknya jatuh ke atas meja makan.


Bersambung.