
Khalisa Bab 142. Pengadilan
Yudhis pulang ke rumah saat waktu hampir memasuki tengah malam. Khalisa yang menunggu kepulangannya, ketiduran di ruang tamu dan terjaga seketika begitu mendengar mesin mobil memasuki garasi.
“Persiapan kita sudah sangat matang, semoga besok semuanya lancar dan hasilnya sesuai harapan,” kata Yudhis, merangkul Khalisa memasuki kamar utama. Mulai terkantuk-kantuk saking lelahnya dia hari ini.
“Semoga. Aku selalu berdo’a agar semua urusan ini segera selesai. Abang pasti capek kan, mengurusi urusan perebutan hak asuh Afkar yang kuinginkan?” Khalisa tak bisa menyembunyikan kecemasannya. Yudhis berkerja dan berusaha begitu keras untuknya.
“Capek itu biasa. Karena tubuh manusia memang dirancang untuk merasakan rasa yang namanya lelah. Semua usaha kerasku demi mendapat apa yang ingin kamu perjuangkan, anggap saja sebagai bujuk rayu seorang pria pada wanita yang ditaksirnya. Semacam rayuan gombal demi menggaet hati bunga pujaan,” kekeh Yudhis. Mata beratnya kentara amat lelah.
“Cara merayu dan menggombal pengacara ternyata kayak gini ya. Eksklusif dan berbeda.” Khalisa tertular tawa, ikut terkekeh pelan. “Makasih banyak, Bang. Atas semua kerja kerasnya demi mewujudkan keinginanku. Semoga Abang selalu dalam lindungan Allah di manapun berada, dalam keberkahan juga umur panjang,” sahut Khalisa, nada bicaranya terbalut syukur tak terkira, yang dibalas Yudhis dengan kecup sayang di ubun-ubunnya.
Saat memasuki kamar, Yudhis hanya lanjut bercengkerama sebentar dengan Khalisa dan langsung ketiduran, bahkan belum berganti pakaian saking lelahnya.
Khalisa mengurungkan niat memberitahu kabar bahagia yang hendak disampaikannya pada Yudhis, tak sampai hati menahan suaminya yang terlihat amat lelah untuk tetap terjaga dan mengajaknya berbincang membahas hal penting, terlebih lagi besok merupakan hari penting, Yudhis harus beristirahat segera supaya esok tetap prima.
Mengambil washlap yang dibasahi air hangat, Khalisa menyeka pelan pahatan wajah tampan suaminya. Ia beralih melonggarkan kancing kemeja Yudhis, juga mengurangi bantal yang terlalu tinggi supaya posisi tidur si tampan berlesung pipi itu lebih landai.
Melebarkan selimut, Khalisa ikut bergabung ke dalamnya, memeluk dan mengendus-endus Yudhis yang aromanya bagi Khalisa lebih enak dari wangi apapun, ampuh meredakan pergolakan perut imbas dari hamil mudanya.
“Mmhh, bayi Bunda kayaknya suka banget ya sama wanginya Papa,” cicitnya sembari mengelus perut, senyumnya tersungging manis.
Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap. Yudhis sudah rapi dan tampan. Rambutnya ditata rapi menggunakan sedikit pomade. Daksa tinggi tegapnya terbalut setelan abu-abu tua dipadu kemeja putih, dilengkapi dasi bermotif diagonal berwarna senada yang dipilihkan Khalisa.
Khalisa juga menyiapkan sepatu pantopel warna coklat tua yang sudah disemir mengkilap, outfit wajib yang selalu dipakai Yudhis saat persidangan, karena untuk sehari-hari suaminya itu lebih menyukai alas kaki kasual.
Khalisa pun berdandan serapi mungkin hari ini. Tetap tidak berlebihan dan menutup aurat dengan baik. Ia ingin berpenampilan memantaskan diri bersanding dengan Yudhis yang aura karismatiknya luar biasa tak tertahankan. Sebagai bentuk penghargaan seorang istri pada suaminya dengan menjadi sebaik-baiknya pakaian dalam rumah tangga. Juga untuk menghormati majlis yang akan dihadirinya, di mana orang-orang yang hadir di sana juga kebanyakan berpenampilan perlente.
Raja dan Erika juga datang ke rumah sebelum waktu sarapan tiba. Sehingga Khalisa belum memiliki waktu senggang untuk menyampaikan perihal kehamilannya pada Yudhis.
Ia menahan dirinya, menunda menyampaikan kabar kehamilannya. Ingin bercerita di saat suaminya sedang bersantai, bukan di saat tengah berjibaku dengan masalah penting dan diburu waktu.
Persidangan kali ini berlangsung di pukul sembilan pagi. Ceu Wati sesekali terlihat gugup, terutama saat melihat kemunculan Dion di pengadilan. Intimidasi tatapan Dion padanya membuat Ceu Wati agak ciut. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, berkat Khalisa, Yudhis beserta tim yang meyakinkannya bahwa menyuarakan kebenaran bukanlah suatu kesalahan, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
“Jangan takut. Kami akan selalu ada buat Ceu Wati. Menjamin keselamatan sebagai saksi. Coba bayangkan jika yang terjadi pada Afkar dan Khalisa dialami saudara dekat Ceu Wati, apakah Ceu Wati akan tetap diam?”
Dari kejauhan, mata jelalatan Dion memindai Khalisa yang semakin cantik dan berisi. Dibalut bungkus mahal dari kepala hingga ujung kaki. Tidak ada lagi Khalisa yang menyedihkan, yang lusuh berbaju pudar, yang kurus dengan tulang belulang menonjol. Paras ayunya bahkan bersinar merona, kentara lebih bahagia dibandingkan saat masih bersamanya.
Dion terpesona, tatapannya lapar tak tahu malu. Dibalas Khalisa dengan sorot tajam nan dingin sedingin pedang es. Khalisa yang dulu sering tertunduk takut dan patuh, kini menatapnya berani dengan dagu terangkat, keberanian yang membuat rasa sesal Dion meruncing menusuk-nusuk kalbunya, menyaksikan mantan istri yang disia-siakannya bersinar setelah dipoles cinta juga kasih sayang tulus pria lain, tak lagi menoleh padanya, di luar ekspektasinya.
Bersambung.