
Bab 89. Aksi Mami
“Hati-hati, Pi. Kalau sudah sampai di Bali jangan lupa kasih kabar.” Yudhis ikut turun dari mobil dan mengantar papinya sampai ke area depan Bandara Husein Sastra Negara.
Barata mengangguk sembari menepuk-nepuk pundak si sulung. “Pasti. Tolong jaga mamimu ya. Ini kali pertama mamimu Papi tinggal di sini tanpa Papi temani. Akh, walaupun nanti pas di Bali Papi pasti bakal kesepian karena berjauhan dengan bidadari hati yang selalu menemani sepanjang hidup ini. Dua minggu lagi Papi akan datang buat jemput mami, kalau dibiarkan pulang sendiri takut ada yang gondol.”
“Haish, sudah tua pun masih bucin!” Yudhis mengejek sembari mengulum tawa.
“Jangan meledek. Kamu pun pasti tidak akan jauh beda saat beranjak tua seperti Papi ini nanti,” kekeh Barata usil.
“Baiklah, yang merasa paling tua.”
“Nanti siang bakal ada kiriman sepeda roda tiga ke rumahmu, buat Afkar. Tadi pagi Papi memalak Om Juna lewat telepon supaya mengirimkan sepeda roda tiga paling bagus dari The Royal Departement Store. Tapi katakan pada Afkar kalau itu dari Abah ya, bukan dari Om Juna. Sebentar lagi sudah waktunya berangkat, Papi masuk dulu. Dah Om Papa.”
Barata melenggang masuk dengan santainya setelah berpamitan sembari melontarkan kosa kata yang membuat Yudhis bersungut-sungut sekaligus bersemu senang. Menuju tempat parkir bersama kepala yang dipenuhi pikiran-pikiran tentang perkataan Barata di mobil tadi.
Hari Senin tiba. Khalisa sudah bersiap memakai seragam OB yang masih baru, yang diantarkan Raja kemarin sore. Kerudung bergo warna hitam dipilih Khalisa untuk dipakai hari ini dibanding pashmina, supaya mempercepat acara berpakaian, maklum saja ia belum mahir memakai jilbab yang harus ditata menggunakan jarum pentul maupun peniti.
Sebuah tas berisi kelengkapan Afkar juga sudah siap di kasur. Berisi susu, botol susu juga camilan serta makan siang instan untuk Afkar. Tak lupa obat-obatan yang masih harus diminum Afkar.
Khalisa menyampirkan kain gendongan, lalu menggendong Afkar yang sudah dimandikan juga sudah diberi sarapan. “Hari ini Bunda mulai kerja, Af jadi anak baik ya di tempat kerja nanti. Kan Bunda kerja buat beli susu Af sama kue enak.”
“Iya, sudah Bunda bawa. Sekarang kita ke depan, siap-siap nunggu Om Yudhis.”
Sementara itu, di kamar Yudhis yang terbuka pintunya, Maharani dan Yudhis sedang berbincang.
“Kamu yakin, tak masalah membiarkan Khalisa bekerja sambil momong anak di kantor? Mami merasa tak tega melihatnya. Tak tega pada anaknya juga pada ibunya. Khawatir Afkar kekurangan perhatian dan Khalisa pun pasti kerepotan.” Maharani mengajak sang anak berbicara sembari merapikan jas juga rambut Yudhis penuh kasih sayang.
“Aku juga tidak yakin, Mi. Tapi di balik tubuh lembutnya, Khalisa memiliki tekad kuat. Kalau kita tidak memberinya rasa percaya bahwa dia mampu, aku khawatir mentalnya menciut karena dijatuhkan sebelum berperang. Tapi Mami tenang saja, aku akan memantau pekerjaan Khalisa di kantor supaya Afkar tidak kurang perhatian dan Khalisa tidak terlalu kelelahan.”
“Hhh, kamu benar, hal ini membuat dilema karena berkaitan dengan psikisnya yang pasti masihlah rapuh. Kalau kita mematahkan semangatnya sekarang, itu malah terkesan mengolok-olok karena kita malah meragukan tekadnya.” Maharani membuang napas bimbang.
“Mami juga ingin tanya, Khalisa tidak mungkin tinggal di sini terus maupun di rumah Ghaisan kan? Lalu nantinya, dia mau tinggal di mana? Dengan penghasilan sebagi OB, mungkin Khalisa bisa menyewa tempat tinggal sederhana secara bulanan, hanya saja untuk menyewa pengasuh pasti tidak akan mampu. Tapi, tidak mungkin juga Afkar dibawa ke tempat kerja terus menerus. Anak kecil seusia Afkar harus terkurung di tempat kerja ibunya sebetulnya kurang baik bagi tumbuh kembang anak. Juga, saat ada peninjuan dari pihak pengadilan, andai mendapati Afkar dibawa-bawa bekerja oleh Khalisa apakah itu tidak masalah? Bagaimana kalau pengadilan menolak permohonannya karena hal ini?”
“Sebetulnya aku sedang memikirkan solusi lain, tapi kita harus melihat dulu apakah strategi pertama ini efektif atau tidak,” jelas Yudhis sembari mengencangkan tali arloji di pergelangan tangan kirinya.
“Solusi apa?” desak Maharani pura-pura tidak tahu, padahal dia sudah mengobrol panjang lebar dengan Barata sebelumnya, dalam rangka memprovokasi Yudhis secara halus demi kebaikan Yudhis juga demi menolong Khalisa yang kesusahan.
“Nanti akan kukatakan kalau memang sudah waktunya. Aku berangkat, Mi.”
Bersambung.