Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Ibu Hebat


Bab 85. Ibu Hebat


Malam ini Afkar begitu senang. Berceloteh gembira meski sudah terkantuk-kantuk, menolak diajak tidur. Bocah itu begitu senang saat Yudhis menyerahkan kantung belanja berisi mainan selepas makan malam tadi, yakni mainan mobil-mobilan juga motor-motoran yang dibeli Yudhis sewaktu berniat mengembalikan KTP Khalisa.


Afkar terus memainkan mobil-mobilan berwarna merah yang dioperasikan menggunakan remot kontrol. Bermain gembira di ruang tengah rumah Yudhis ditemani Khalisa. Rumah Yudhis yang biasanya sunyi senyap itu, malam ini begitu meriah dan hangat, sebab penghuni di dalamnya bertambah, terutama berkat keberadaan si bocah lucu.


“Sayangnya Bunda, bobo dulu, yuk. Sudah mau jam sembilan malam. Af juga baru sembuh, terus itu matanya sudah ngantuk kan?” bujuk Khalisa lembut.


Tak dipungkiri Khalisa ikut senang melihat anaknya berbahagia. Lebih tepatnya sangat senang juga terharu, menyaksikan si buah hati ceria gembira memiliki mainan yang lebih dari kata layak, jenis benda yang belum pernah dimiliki Afkar selama ini. Bagi Khalisa mainan yang dibelikan Yudhis termasuk dalam kategori mahal, teramat istimewa dan ia tak mampu membelikannya, sedangkan keluarga mantan suaminya dulu boro-boro peduli perihal mainan, selalu masa bodo dengan keinginan Khalisa yang ingin menyenangkan anaknya.


“Bental, Unda. Bental yagi ya, ini obilnya beyum nantuk, macih mau main,” jawab si bocah lucu itu, balas membujuk dan mencium pipi Khalisa dalam rangka bernegosiasi dengan sang bunda, begitu menggemaskan.


Tak ingin mengacaukan euforia anaknya yang baru saja kembali ke pelukannya, Khalisa mengangguk mengiyakan untuk kali ini. “Ya sudah, boleh. Tapi jangan lama-lama ya, kasihan mobil sama motornya harus bobo juga, biar besok bisa main lagi sama Afkar.”


Maharani yang semula hanya memperhatikan dari kejauhan, ikut bergabung bersama Khalisa dan Afkar. Duduk di karpet tebal yang mengalasi lantai marmer ruang tengah, karpet yang berfungsi sebagai penghalau hawa dingin menembus kulit saat duduk di lantai.


Maharani juga mengajak Afkar mengobrol, bocah itu membuka diri meski Maharani adalah orang yang baru ditemuinya, mau bercakap-cakap bahkan mencium punggung tangan Maharani saat diminta memeragakan gerakan salim.


“Iya, Nyonya. Dan berkat Bang Yudhis yang mau menolong saya juga bersedia membantu, saya punya harapan untuk mendapatkan hak asuh Afkar melalui jalan yang benar sekarang,” jawab Khalisa, tetap menjaga sopan santun. Entah itu dari cara bicara maupun dari posisi duduk yang dirapikan, adab dalam menghormati yang lebih tua.


“Jangan panggil, Nyonya. Panggil saja Bu Rani, biar lebih enak ngobrolnya,” tukas Maharani, ramah dan hangat. “Jadi, kamu akan bekerja di kantor Yudhis mulai hari Senin?” tanyanya lagi.


“Iya, Bu Rani. Alhamdulillah, saya akhirnya punya pekerjaan sekarang. Saya diminta jadi OB di kantor Bang Yudhis. Rasanya sudah tak sabar untuk bekerja," sahut Khalisa, matanya berbinar.


Khalisa yang menjawab sembari tersenyum semringah, merenyuhkan hati Maharani. Gadis muda seusia Khalisa yang luaran sana kebanyakan gengsi dan malu dengan jenis strata pekerjaan yang disebutkan Khalisa tadi, tetapi Khalisa justru sebaliknya, menerima dengan penuh syukur serta sukacita.


“Lalu, bagaimana dengan Afkar kalau kamu bekerja nanti? Siapa yang akan mengasuhnya?” tanya Maharani ingin tahu.


“Rencananya, saya akan membawanya ikut bekerja. Afkar anak yang pengertian. Saya yakin masih bisa menangani dua hal secara bersamaan antara pekerjaan juga perhatian untuk Afkar. Saya sudah bilang sama Bang Yudhis, dan Bang Yudhis pun sudah menyetujuinya. Katanya di kantor ada ruangan kosong yang bisa dijadikan tempat Afkar beristirahat selama saya bekerja. Saya harus bekerja lebih keras lagi, demi kehidupan Afkar yang bahagia bersama saya dimulai dari sekarang.”


Bersambung.