
Bab 88. Provokasi
Barata akan kembali pulang ke Pulau Dewata di hari Minggu siang ini sebab esoknya sudah harus bergelut kembali dengan rutinitas pekerjaannya di Royal Textile Bali. Sementara itu Maharani memilih tinggal di Bandung lebih lama dengan alasan masih ingin berlibur, walaupun alasan sebenarnya bukanlah itu.
Seperti biasa, Yudhis yang mengantar ke Bandara. Sepanjang perjalanan dari rumah menuju Bandara, ayah dan anak itu berbincang membahas banyak hal termasuk menyinggung perihal Khalisa.
“Masakan Khalisa itu enak-enak ya. Nasi uduk yang tadi pagi dia bikin buat sarapan juga rasanya juara," ujar Barata memancing.
“Selain itu, kopi buatannya juga yang terbaik, Pi.” tukas Yudhis yang tanpa sadar memakan umpan pancingan papinya sendiri.
“Suka kopinya?” tanya Barata lagi sembari melipat bibir, sedangkan Yudhis fokus ke depan pada jalanan.
“Suka banget, sangat enak,” jawab Yudhis lugas yang kali ini kurang waspada, imbas dari perhatian kecil Khalisa yang sewaktu sarapan tadi membuatkan lagi kopi latte kesukaannya tanpa diminta, berefek dahsyat pada hatinya yang terus saja dirambati getar-getar asmara kian menguat.
“Khalisa bikin kopi dicampur garam pun, buatmu pasti tetap terasa yang paling enak. Karena sebetulnya bukan sekadar kopinya yang kamu suka, tapi rasa sukamu yang lebih besar itu terletak pada orangnya.” Barata berseloroh sembari melirik pada Yudhis dari balik kacamata progresifnya.
“Ehm, ehm.”
Yudhis hanya berdeham padahal tenggorokannya baik-baik saja, tidak sedang batuk maupun flu. Tak mau menanggapi kata-kata papinya yang kini terkikik-kikik geli.
“Sejak kapan Papi jadi cenayang?” cetus Yudhis sebal, yang masih enggan mengakui getar rasa itu dari mulutnya sendiri.
Gelak tawa Barata tak terbendung. Bahkan dia sampai membuka kacamatanya saat punggungnya berguncang akibat terbahak.
“Kamu sudah mapan, sudah sangat mampu untuk membina rumah tangga. Sebagai orang tua tugas Papi dan Mami belumlah rampung apabila belum sampai pada tahap menikahkan anak-anaknya. Apakah kamu tidak ingin mengakhiri masa lajangmu saat kini menemukan seseorang yang menarik hatimu? Tidak mudah menemukan tambatan hati dan kebanyakan kesempatan tidak datang dua kali.”
Yudhis hanya bungkam tak menimpali, benaknya dipenuhi berbagai macam pikiran.
“Sendirian terus menerus sama sekali bukan ide bagus. Tidak semua perjalanan hidup bisa dilalui sendirian meskipun kita merasa mampu. Punya teman berbagi kisah hidup tentu saja jauh lebih baik, asalkan dengan orang yang tepat. Juga, dari kasus yang digugatkan Khalisa, apakah kamu yakin Khalisa akan memenangkan hak asuh dengan mudah?”
“Aku dan tim sedang berusaha, untuk itulah Khalisa menjadi karyawan di LBH, Pi. Supaya punya mata pencaharian walaupun cuma sebagai OB. Untuk memberatkan kemungkinan memenangkan hak asuh.”
“Apa itu cukup? Seandainya saat sesi peninjauan dari pihak berwenang mendapati Khalisa hanya bekerja sebagai OB tanpa punya tempat tinggal yang pasti serta tidak adanya keluarga yang menjamin mendukung tumbuh kembang Afkar, akankah pengadilan mengabulkan permohonannya di saat lawannya memiliki mata pencaharian lebih baik serta tempat bernaung yang lebih mumpuni? Sedangkan Papi amati, bagi Khalisa Afkar itu adalah segalanya. Saat terampas darinya selamanya, Papi khawatir anak sebatang kara itu berpikiran pendek. Papi rasa kalian memang dipertemukan untuk saling melengkapi satu sama lain. Pikirkan ucapan Papi ini baik-baik.”
Bersambung.