Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Tunggu Bunda, Sayang


Bab 27. Tunggu Bunda, Sayang.


Kau


Dulu pernah bilang


Aku ratu di hatimu, Sayang


Dan aku ratu di istanamu


Dan dulu pernah kau pun bilang


Takkan pernah tinggalkanku, sumpah


Mungkin kau lupa


Dan ku pernah jadi yang tersayang


Ku pernah jadi yang paling kau cinta


Mungkin kau lupa


Dan di saat sang penggoda datang


Kau biarkan dia hancurkan istanaku


Ternyata


Kau lupa aku ratumu


Sebuah lagu bermelodi pilu yang dilantunkan Tata Janeeta featuring Maia Estianti bertajuk 'Sang Penggoda', mengalun sendu dari tape mobil usang sebuah angkot yang dinaiki Khalisa, mengiringi perjalanan tanpa tujuannya.


Angkutan umum yang ditumpanginya sepi penumpang, hanya ada dua orang penumpang saja bertiga dengan sopir, mungkin karena hari sudah malam. Khalisa duduk di bagian paling pojok, menghindari perhatian banyak mata. Duduk menghadap kaca belakang, melepas pandangan pada jalanan yang dilalui.


Kini, bukan hanya bahtera yang dijaganya sekuat tenaga yang kandas ke dasar samudera, tetapi juga si buah hati penyejuk jiwa direbut dari kedua tangannya, yakni Afkarnya, si seluruh dunianya. Celoteh lucunya terngiang, senyum gembiranya terbayang-bayang, melebarkan robekan rindu di hati Khalisa kian menganga.


“Sayangnya Bunda. Maafin Bunda, maafin Bunda, Nak. Af harus kuat dan baik-baik saja di sana ya. Kita hanya terpisah sementara. Tunggu Bunda membawa Af pergi. Bunda janji enggak akan lama, tunggu Bunda, Sayang. Tunggu Bunda kembali menjemput Af keluar dari sana,” isaknya pelan, perih mengiris hati.


Nelangsa tak terkira, membayangkan Afkar di rumah itu tanpanya. Sebab Khalisa tahu, tidak ada satu orang pun selain dirinya yang paling peduli pada putra kecilnya. Semuanya memandang sebelah mata, bahkan ayah dari si bocah ikut-ikutan terbawa arus pendapat miring sekitarnya.


Dalam belitan kebingungan dan kebuntuan, ia teringat kembali pada ucapan Dion yang membuatnya memaksa diri menyingkir dari depan rumah Wulan. Memilih pergi daripada terkurung selamanya di sana. Dengan perasaan tercabik marah, Khalisa mati-matian menguatkan hati berpisah sebentar saja dengan si permata separuh napasnya, demi memperjuangkan kebebasannya juga sang putra dari lingkaran keji sebuah rumah yang lebih layak disebut penjara.


Kamu ingin Afkar tetap bersamamu? Ada dua pilihan yang kuberikan. Kamu harus tetap tinggal di sini dengan status sebagai pembantu rumah tangga, dengan begitu kamu tidak akan terpisah dari anak kesayanganmu. Atau, kalau kamu ingin membawanya pergi sesuka hati, bawalah uang sebanyak lima ratus juta rupiah ke hadapanku untuk menukarnya dengan Afkar. Bukankah kamu menjajakan aset pribadimu sekarang? Aku yakin, jasa dari membiarkan dirimu dijamah dan dinikmati itu dibayar bukan?


Dua pilihan yang Dion berikan tidak ada satu pun yang mudah baginya. Khalisa juga tahu, bahwa semua pilihan yang disodorkan hanya untuk mempersulitnya, untuk memenjarakannya dalam jeruji tak kasat mata, memaksanya menyerah dan memilih menjadi alas kaki mereka. Namun, Khalisa tak mau lagi dijajah. Ia ingin berjuang sekarang walaupun tak memiliki amunisi maupun senjata, demi memperjuangkan hal paling berharganya terbebas dari sana dan kembali ke dalam peluknya, bagaimana pun caranya.


“Di mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?” Batinnya kalut bukan kepalang. “Aku harus ke mana?”


“Mbak, mau turun di mana? Saya ini sudah mau pulang dan rute angkot ini juga sudah hampir sampai di akhir.” Si sopir bertanya saat penumpang yang diangkutnya hanya tinggal Khalisa saja. Rute perjalanan angkutan umum tersebut sudah hampir mencapai batas area jurusannya. Si sopir bertanya sebab sejak tadi Khalisa tak kunjung memintanya berhenti.


Lamunan Khalisa yang sedang bergelut dengan pikirannya, dibuyarkan oleh suara cempreng si sopir. Menyusut kasar wajah basahnya dan berdehem sejenak.


“Ini sudah sampai mana ya, Pak?” Khalisa balas bertanya, menyapu pandangan ke sekitar.


“Ini masih sekitaran alun-alun. Memangnya, Mbak mau pergi ke mana?”


“Alu-alun ya?” Khalisa kebingungan harus menjawab apa, karena memang tak punya arah tujuan pasti. “Y-ya sudah, saya berhenti di sini saja, Pak.”


Uang empat ribu rupiah disodorkan. Angkutan umum itu melaju meninggalkan Khalisa yang tergugu di pinggir jalan. Termenung dalam kekalutan, lamunan Khalisa yang berlanjut terinterupsi rintik hujan.


Sembari memeluk tasnya erat-erat, Khalisa memerhatikan sekeliling, terseok-seok mengayunkan kaki lemahnya menuju ke sebuah gang yang tak jauh dari sana. Meskipun gang sempit itu tampak gelap, setidaknya ia bisa mencari tempat berteduh sementara dari air langit yang menyapa dirinya, berlindung di bawah gapura gang walaupun minim penerangan.


Bersambung.