Suci Dalam Noda

Suci Dalam Noda
Demi Si Jantung Hati


Bab 35. Demi Si Jantung Hati


“Di mana Afkar?”


“Tentu saja ada padaku?”


“Maksudku ke mana kalian membawa anakku? Ke mana kalian pindah! Belum cukupkah Mas menyiksa batinku, menduakanku, mengusirku dan memisahkan Afkar dariku? Sampai-sampai kalian pindah mendadak dengan membawa anakku. Cepat katakan ke mana kalian membawa Afkar!”


“Kenapa? Berubah pikiran? Mau menerima tawaran pertama? Tapi kalau pun kamu jadi pembantuku, tentu saja kamu enggak akan kubebaskan berkeliaran ke luar rumah, jadi kalau berniat menerima tawaran pertamaku dengan niat membawa kabur Afkar, maka buang jauh-jauh niatan itu. Enggak menutup kemungkinan hal semacam itu terbersit di kepalamu sekarang kan? Aku bisa saja melaporkanmu dengan tuduhan mencuri barang berharga Manda misalnya, biar kamu jadi buronan polisi. Sanggup membawa Afkar kabur dalam kondisi begitu? Kalau tertangkap, risikonya kamu di penjara dan dipisahkan lagi dari Afkar.”


“Jangan banyak bicara ke sana kemari, cepat katakan padaku ke mana kalian pindah. Aku berhak tahu keadaan anakku, aku juga ibunya!”


“Kamu ingin tahu keadaan anakmu? Nah dengar, dia sedang menangis. Bagaimana, saranku terimalah tawaran pertamaku. Kecuali kamu sudah punya uang sejumlah yang pernah kusebutkan. Barulah aku akan memberitahu ke mana kami pindah dan menyerahkan Afkar padamu.”


Percakapannya dengan Dion lewat telepon tadi siang berputar kembali di benak Khalisa, di bawah langit pekat tanpa bintang menaungi dinginnya malam, sedingin dan sebeku hatinya yang meraung nyeri dalam nestapa.


“Unda … unda ….”


Suara itu lagi-lagi terngiang hingga telinga Khalisa berdenging. Tangis melengking si jantung hati yang memanggil-manggil namanya seumpama ribuan anak panah melesat menghunjam jantung, menyayat-nyayat sekeping hatinya yang koyak, meremasnya kuat, merenggut semua kewarasan dari genggaman nalar, membuat Khalisa nyaris gila rasanya. Semua luka membawanya berdiri di sini sekarang, di tempat saksi bisu pertemuan pertamanya dengan pria yang kini mengoyak hatinya.


“Tunggu Bunda, Sayang. Tunggu Bunda sebentar lagi. Af bakal secepatnya sama Bunda lagi, Bunda janji,” rintihnya nyeri dengan tangan terkepal, bersama genangan yang memenuhi pelupuk mata.


Tak sanggup lebih lama lagi berpisah dengan separuh napasnya, Khalisa melangkah masuk ke tempat yang dulu ingin sejauh mungkin dihindarinya. Dirundung kebuntuan, kesedihan, keputus asaan juga kesulitan, serta tanpa punya siapapun yang mendukung maupun menguatkan, hanya tempat ini yang terbersit di pikiran pendeknya. Tekanan penghakiman sekitar kian mempengaruhi, mengikis semua akal sehat yang tunggang-langgang kala beban yang lebih berat menimpa lagi dan lagi. Terlebih kini bukan hanya persoalan diri sendiri, melainkan menyangkut si seluruh dunianya yakni si buah hati.


“Wah wah wah, siapa ini?” Seorang pria berperawakan kekar menyeringai lebar begitu melihat siapa yang datang ke hadapannya. Sorot matanya berbinar serakah, cerutu terselip di antara bibir tebalnya.


“Akhirnya kamu datang juga ke hadapanku, permata berharga,” sambungnya, terbahak puas.


“Yakin? Ingat, dulu kamu meludahiku saat aku menawari dan menyeretmu untuk pekerjaan itu? Juga kamu memakiku saat aku mengatakan di sinilah tempat yang cocok untukmu? Mau menjilat ludah? Sepertinya di luar sana tidak seperti perkiraanmu. Mana keangkuhanmu dulu yang mengatakan bahwa tidak semua orang menganggapmu hina? Mimpimu terlalu tinggi Khalisa, orang-orang di luar sana kebanyakan memandang rendah orang sepertimu iya kan?”


“Berikan saja pekerjaan itu padaku! Aku butuh uang secepatnya.”


“Uang?”


“Ya, lima ratus juta.”


Jordan memindai Khalisa yang kusut tak karuan dari ujung kepala hingga kaki.


“Hmm, lima ratus juta kalau untuk gadis perawan mungkin mudah saja dalam waktu singkat. Tapi kamu sekarang berbeda, sudah tak bersegel. Berbeda harga dengan di masa, lalu. Tapi walaupun begitu, aku yakin kamu akan menjadi primadona. Buktikan tekadmu, aku akan memberi lima ratus juta yang kamu minta setelah melihat performamu, permata suciku.”


“Khalisa! Apa yang kamu lakukan di sini? Pergi dari sini cepat, pergi! Kamu tidak tahu tempat ini lebih buruk dan mengerikan dari neraka!”


Teriakan menggema Tya tak membuat Khalisa bergeming. Tetap lurus ke depan seolah tuli.


“Diam kamu Cintya!” Jordan berseru lantang.


“Jangan sentuh dia, Jordan!” teriak Tya tak kalah lantang.


“Jangan ikut campur! Bawa Tya ke kamarku, dia harus diberi pelajaran!”


Bersambung.